Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Bahaya Moderasi Sejarah Islam

Senin, 08 Maret 2021


Oleh: Hany Handayani Primantara, S.P 
Sejarah Islam merupakan salah satu mata pelajaran yang paling membosankan bagi sebagian besar siswa di sekolah. Kurang kreatif dan monotonnya penyampaian sejarah Islam oleh para tenaga pengajar, menjadi salah satu penyebab siswa enggan belajar sejarah Islam. Maka tak heran banyak pemuda yang buta akan sejarah Islam. 
Ditambah lagi adanya kampanye moderasi sejarah Islam di sekolah yang saat ini sedang digencarkan oleh pemerintah, semakin membuat murid jauh dari sekedar paham akan sejarah Islam. Ibarat pepatah sudah jatuh tertimpa tangga maka begitulah gambaran pemuda Islam saat ini. 
Kampanye yang digadang oleh pemerintah terkait moderasi pengajaran sejarah Islam di sekolah berisi tentang seruan dari Kementerian Agama yang meminta guru madrasah pengampu mata pelajaran Sejarah dan Kebudayaan Islam (SKI) untuk menyampaikan materi secara komprehensif. Menurutnya hal itu perlu dilakukan agar siswa memiliki pandangan yang utuh atas fakta-fakta sejarah Islam yang terjadi. Dilansir dari sindonews.com.
Sekilas nampak bagus dan tidak ada yang salah dari perintah tersebut. Namun Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah Muhammad Zain di Tangerang ini pun menambahkan, masih dari sumber yang sama bahwa penyampaian sejarah Islam secara komprehensif memiliki andil untuk membentuk generasi muda yang moderat. Yakni mampu mempraktekan Islam yang inklusif, terbuka dan toleran. 
Perlu kita ketahui bahwa adanya defenisi Islam moderat bukan berasal dari kaum muslimin. Karena tak ada istilah klasifikasi dalam Islam seperti Islam moderat dan Islam radikal. Semua penganut agama Islam memiliki predikat yang sama yakni muslim. Istilah tersebut lahir dari kaum barat yang sengaja ingin mengadu domba kaum muslim.
Mereka ingin memecah belah kaum muslim menjadi dua, yakni muslim yang terbuka terhadap segala produk pemikiran barat mereka istilahkan dengan Islam moderat. Sedangkan muslim yang menolak segala pemikiran barat mereka katagorikan sebagai Islam Radikal. Dengan adanya dua katagori ini barat jadi lebih mudah mengenali, siapa saja yang termasuk muslim moderat dan muslim radikal. Muslim moderat mereka rangkul dan muslim radikal mereka jadikan musuh bersama. 
Kebijakan moderasi pengajaran sejarah Islam yang dikemukakan oleh Zain ini berbahaya. Karena secara tidak langsung mengakui adanya klasifikasi muslim yang digaungkan barat. Itu berarti mendukung usaha mereka untuk mengadu domba kaum muslim. Pemerintah akan berperan penting dalam melahirkan generasi yang terbuka dengan segala pemikiran barat guna diimplementasikan dalam kehidupan. 
Padahal tidak semua yang berasal dari barat itu boleh kita adopsi secara utuh. Lantaran Islam memandu kita dalam setiap aktivitas. Yakni, apapun yang berasal dari barat jika itu berupa tsaqofah atau hadhoroh maka harus dicampakan, ditolak dan dibuang. Karena hal itu akan berdampak pada kehidupan kaum muslim. Pemahaman barat dengan Islam amat bertolak belakang, tidak bisa dipadu padankan layaknya kita membeli baju.
Diantaranya Islam tak mengenal adanya sekulerisme atau pemisahan agama dengan kehidupan, sedangkan barat sengaja memghembuskan pemahaman sekuler agar kaum muslimin mau membuang hukum syariat serta mengadopsi aturan dan sistem hukum yang dibuat oleh mereka. Adanya pemahaman inklusif yakni serba boleh selama hal tersebut tak menganggu orang lain membuat kaum muslim pun terpana untuk ikut andil mengadopsinya. Perlu diketahui bahwa Allah Subhanahu Wa Ta'ala sudah menetapkan bahwa kita hanya boleh mengadopsi tsaqofah dan hadhoroh Islam semata. 
Hal itu tertuang dalam firmannya di alquran: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (QS. Al Maidah: 3). Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah (wafat th. 774 H) menjelaskan tentang ayat tersebut, “Ini merupakan nikmat Allah Azza wa Jalla terbesar yang diberikan kepada umat ini, tatkala Allah menyempurnakan agama mereka. Sehingga, mereka tidak memerlukan agama lain dan tidak pula Nabi lain selain Nabi mereka, yaitu Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, Allah Azza wa Jalla menjadikan beliau sebagai penutup para Nabi dan mengutusnya kepada seluruh manusia dan jin. Sehingga, tidak ada yang halal kecuali yang beliau halalkan, tidak ada yang haram kecuali yang diharamkannya, dan tidak ada agama kecuali yang disyari’atkannya. 
Banyak hal yang bisa kita peroleh dari sejarah Islam. Berkat sejarah kita jadi tau akan peristiwa Islam di masa lampau. Berupa kejadian yang baik maupun yang buruk. Permasalahan yang terjadi di kala itu dan penyelesaiannya. Dari sejarah kita juga bisa belajar untuk tak mengulangi kesalahan yang sama. Sejarah mendidik kita untuk memiliki daya nalar yang dilandasi oleh sikap kritis. 
Sejarah pun mengandung beragam pendidikan seperti moral, kebijaksanaan, politik dan sebagainya. Sejarah pun mampu membangkitkan imajinasi serta memperluas wawasan intelektual. Bahkan alquran pun sepertiga komposisinya justru berisi akan sejarah yang penuh dengan makna dan pelajaran yang bisa diambil. 
Maka bisa dibayangkan jika para pemuda muslim luput akan sejarah Islam. Gambaran pemuda labil, buta sejarah, hidup akan menjadi kering tanpa nuansa dan hikmah senantiasa menggelayuti nasib pemuda muslim. Namun jika pengajaran sejarah sesuai dengan arahan yang disampaikan oleh kementerian agama yang telah dijelaskan tadi, maka bahaya atau efeknya jauh lebih besar dari yang tak belajar sejarah. 
Wallahu'alam bishowab.


*(Muslimah Peduli Umat) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar