Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Basa-Basi Benci Produk Luar Negeri

Sabtu, 13 Maret 2021



Oleh : Yuni Nisawati

Pemerintah akan impor 1 juta - 1,5 juta ton beras dalam waktu dekat ini. Hal ink dilakukan dengan alasan untuk menjaga ketersediaan didalam negeri dan menjaga kesetabilan harga. Menteri Koordinatif Bidang Perekonomian Airlangga Hartanto mengatakan bahwa pemerintah akan melakukan 2 kebijakan. Kebijakan pertama, important 500 ribu ton beras untuk Cadangan Betas Pemerintah (CBP) dan 500 ribu ton sesuai dengan kebutuhan Perum Bulog. Kebijakn kedua, penyerapan gabah oleh Perum Bulog dengan target setara betas 900 ribu ton saat panen rata pada Market sampai Mei 2021, dan 500 ribu ton pada Juni sampai September 2021.
(m.cnnindonesia.com/04/03/2021)

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengajak masyarakat Indonesia membenci produk-produk asing. Jokowi bahkan meminta produk asing ditaruk di tempat yang sepi pembeli. Namun, sampai sekarang Indonesia masih impor. Salah satunya komoditas pertanian. Berdasarkan data Januari-Desember 2020, Indonesia paling banyak mengimpor gandum dan meslin dari Ukraina. Indonesia mengimpor gula yang mayoritas dari Thailand. Dalam beberapa kasus, Indonesia mengantungkan impor komoditas tertentu hingga 100 persen kepada satu negara. Seperti impor bawang putih 100 persen dikuasai China dan bawang merah dari Vietnam. (m.kumparan.com/06/03/2021)

Beberapa hari lalu Presiden Jokowi menggaungkan untuk membenci produk asing. Namun, kenyataannya pemerintah masih tetapi melakukan impor, salah satunya adalah komoditas pertanian. Pemerintah impor disaat didalam negeri sedang panen raya. Hal ini sangat merugikan untuk para petani dalam negeri. Karena hal tersebut membuat produk-produk dalam negeri mengalami penurunan harga, atau kalah bersaing dengan produk-produk impor. Ini membuat petani-petani dalam negeri terpuruk.

Data-data impor pun menunjukkan hal yang berbeda. Pemerintah terus melakukan impor dari tahun ke tahun sampai sekarang. Ini tidak sesuai dengan janji-janji pemerintah yang diucapkan. Pemerintah hanya basa basi belaka. Bahkan tak sedikit yang mengambil keuntungan dengan adanya impor secara terus menerus. Salah satunya kasus korupsi impor daging sapi, dan korupsi masi rawan terjadi dalam kasus-kasus impor. Ini juga menjadi salah satu bukti buruknya Sistem Kapitalisme. Segelintir orang yang berusaha menguasai negeri ini dan terus memgambil keuntungan dengan berbagai cara.

Hal ini sangat berbeda dengan Sistem Islam yang sempurna. Sistem yang berisi seluruh aturan, dan tata cara mengelola negara dengan baik dan benar. Sistem yang menindak tegas untuk para penyeleweng seperti koruptor. Sistem yang tidak semabarang melakukan kerjasama dengan pihak asing. Baik kerjasama dibidang Ekonomi, Pendidikan, dan lain-lain. Semua dilakukan sesuai syari'at.

"Dengarkanlah, apakah kalian telah mendengar bahwa sepeninggalku akan ada para pemimpin? Siapa yang masuk kepada mereka, lalu membenarkan kedustaan mereka dan menyokong kezaliman mereka, maka dia bukan golonganku, aku juga bukan golongannya. Dia juga tak akan menemuiku di telaga." (HR. al-Tirmidzi, al-Nasai dan al-Hakim).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar