Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Bunda 'Peluk Erat' Buah Hati Kita

Sabtu, 13 Maret 2021



Oleh: Erna Ummu Azizah 
(Ibu Peduli Generasi)

Anak adalah anugrah sekaligus amanah dari Allah Ta'ala. Kehadirannya menjadi pelengkap kebahagiaan orangtua. Bahkan, bagi keluarga muslim, anak adalah tabungan dunia akhirat. Di dunia menjadi penyejuk jiwa. Di akhirat doa-doanya pembawa ke surga. Itulah anak-anak yang sholih dan sholihah.

Maka, sudah menjadi kewajiban orangtua untuk mendidik anak dengan sebaik-baiknya. Rasulullah SAW bersabda, ‘’Tiada suatu pemberian yang lebih utama dari orangtua kepada anaknya selain pendidikan yang baik.” (HR. Al-Hakim)

Namun, saat ini mendidik anak tidaklah mudah. Berbagai ancaman datang, membawa malapetaka bagi generasi muda. Pergaulan bebas, pornografi-pornoaksi, narkoba, juga pelegalan miras oleh penguasa.

Pemerintah membuka pintu investasi untuk industri miras besar sampai eceran, meskipun katanya telah dicabut, namun faktanya, itu hanya lampirannya saja. Padahal Komnas Perempuan mengatakan bahwa 4 provinsi yang legal miras, disana memiliki catatan kekerasan yang tinggi. (Merdeka, 1/3/2021)

Banyak fakta mengerikan akibat dilegalkannya miras ini, seperti kasus remaja 16 tahun diperkosa setelah dicekoki miras. (Kompas, 2/3/2021). Bahkan, MUI menyebutkan ada 3 juta orang meninggal akibat miras, jumlah ini lebih banyak dibandingkan kematian akibat Covid-19. (Okezone, 1/3/2021)

Inilah fakta negeri yang mayoritas penduduknya muslim namun syariatNya justru dicampakkan. Sistem sekuler kapitalis yang menjauhkan peran agama dalam kehidupan justru malah diterapkan. 

Sehingga halal haram tak lagi jadi pedoman. Selama mendatangkan manfaat dan menghasilkan uang, itulah yang akan dilakukan. Tak peduli meski generasi jadi korban.

Maka jangan heran jika saat ini begitu marak tindak kejahatan. Perampokan, pembegalan, perkosaan, hingga pembunuhan. Juga kasus aborsi hingga mutilasi membuat was-was dan bikin ngeri.

Wahai para orangtua, terlebih Sang bunda.. Kita harus lebih erat 'memeluk' buah hati kita. Jangan biarkan mereka terperosok ke dalam jurang kebinasaan. Ancaman kerusakan begitu nyata ada di hadapan. Kita tidak boleh diam!

Mari kita semakin mendekat kepada Allah dengan perbanyak dzikir, istighfar, dan menyibukkan diri dengan amal-amal sholih. Perkuat keimanan kita dan anak-anak kita. Tanamkan kepada mereka bahwa Allah Maha Melihat, segala amal akan dicatat dan di balas di akhirat.

Jalin komunikasi dan kedekatan antara orangtua dengan buah hati. Sesibuk apapun kita, luangkan waktu dengan anak-anak kita. Buatlah kenyamanan, agar anak tak sungkan menceritakan pengalaman. Saling berbagi isi hati. Sehingga tak salah dalam memberi solusi.

Keluarga adalah lingkungan pertama bagi anak-anak untuk belajar berperilaku, belajar tentang hidup dan kehidupan. Keluarga yang kuat, religius dan berkarakter akan menjadi pondasi yang kokoh bagi perkembangan generasi muda.

Orangtua, terlebih sang bunda adalah guru pertama bagi anak-anaknya. Jadilah teladan yang baik, karena anak adalah peniru ulung. Apa yang dilakukan orangtua akan dicontoh oleh anak-anaknya.

Tak hanya peran orangtua dalam lingkungan keluarga. Peran masyarakat pun tak kalah pentingnya. Karena anak tidak akan lepas dari interaksi dengan lingkungan, baik masyarakat maupun sekolah. Maka, penting untuk saling peduli dengan adanya amar ma'ruf nahi mungkar (mengajak kepada kebaikan, dan mencegah dari keburukan).

Juga, peran negara sebagai pengayom dan penjaga keluarga. Hendaknya negara melindungi generasi dari paparan pornografi, narkoba, miras dan berbagai perilaku menyimpang lainnya. Karena negara punya kuasa untuk memblokir, menutup dan memberantas semua hal yang berpotensi merusak generasi.

Sayangnya, di negara yang menerapkan sistem demokrasi seperti saat ini, penjagaan terhadap generasi sangat minim sekali. Pornografi dibiarkan, prostitusi dan miras pun dilegalkan. Wajar jika generasi semakin ambruk dan terpuruk.

Berbanding terbalik ketika kaum muslim dulu menerapkan sistem Islam dalam naungan Khilafah Islamiyyah. Kehidupan rakyat, baik muslim maupun non-muslim begitu harmonis. Kesejahteraan dan keadilan hadir di tengah umat. Generasi pun terjaga sehingga mampu melahirkan peradaban yang mulia.

Karena dalam sistem Islam, negara (pemimpin) adalah pelindung (junnah), pengayom, dan benteng. Sesungguhnya, dialah yang akan menjaga, melindungi dan mengurusi seluruh rakyatnya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas kepengurusan itu. Sabda Rasulullah, “Imam (khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya." (HR. Bukhari)

Mari bunda, 'peluk erat' buah hati kita. Mohon pertolongan kepada Allah agar senantiasa menjaga mereka. Sambil terus belajar dan beramar ma'ruf nahi mungkar. Semoga khilafah pun segera tegak, membawa keberkahan dunia akhirat. Aamiin.

Wallahu a'lam.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar