Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Cabut Sekulerisme Biang Kerusakan, Bukan Hanya Perpresnya Saja

Sabtu, 13 Maret 2021



Oleh : Neti Ummu Hasna


Setelah sempat membuat resah umat Islam dan ramai mendapatkan penolakan, akhirnya Presiden Joko Widodo mencabut lampiran Peraturan Presiden terkait pembukaan investasi baru dalam industri minuman keras (miras) yang tercantum dalam lampiran Perpres Nomor 10 Tahun 2021 tentang Bidang Usaha Penanaman Modal yang diteken kepala negara pada 2 Februari 2021 lalu.

Dengan pencabutan Perpres 10/2021, maka miras kembali masuk dalam bidang usaha tertutup investasi. Ini tercantum dalam aturan sebelumnya, yakni Perpres Nomor 44 Tahun 2016 tentang Daftar Bidang Usaha yang Tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal.

Definisi bidang usaha yang tertutup adalah bidang usaha tertentu yang dilarang diusahakan sebagai kegiatan penanaman modal. (CNN Indonesia, 2/3/2021)

Namun, hal penting yang perlu diperhatikan bahwa pencabutan aturan tersebut bukan terhadap Perpresnya, melainkan hanya lampirannya. Itu pun hanya lampiran Bidang Usaha No. 31 dan No. 32. Pasal 6 ayat 1 Perpres 10/2021 pun tetap berlaku.

Sementara, lampiran Bidang Usaha No. 44 tentang Perdagangan Eceran Minuman Keras atau Beralkohol dan No. 45 tentang Perdagangan Eceran Kaki Lima Minuman Keras atau Beralkohol juga tidak dicabut. 11/2020) terutama Paragraf 2 Pasal 77 tetap berlaku.

Itu artinya peluang untuk investasi dan pelegalan miras masih ada, meski ditunda.

Selama ini peredaran miras diatur melalui Perpres 74/2013 tentang Pengendalian dan Pengawasan Minuman Beralkohol dan Permendag No. 20/M-DAG/PER/4/2014 tentang Pengendalian dan Pengawasan Terhadap Pengadaan, Peredaran dan Penjualan Minuman Beralkohol. Sementara, Peraturan BPOM No. 8 Tahun 2020, melarang peredaran minuman beralkohol secara daring (online).

Dengan demikian, adanya pencabutan lampiran tentang investasi baru miras bukan berarti industri miras menjadi tidak ada. Hanya investasi (industri) baru yang tidak ada. Industri miras yang sudah ada, tetap berjalan. Perdagangan eceran dan kaki limanya juga tetap berjalan menurut peraturan yang sudah ada.

Miras memang bukan sesuatu yang dilarang di negeri ini. Miras dipandang sebagai barang ekonomi yang menguntungkan. Selama masih ada yang menginginkan maka miras akan tetap diproduksi. Ini merupakan hal yang prinsip dalam ekonomi kapitalisme. Selama suatu benda atau barang itu menguntungkan maka boleh untuk diproduksi dan dikonsumsi.

Presiden Jokowi mencabut lampiran Perpres Nomor 10 Tahun 2021 bukan karena mempertimbangkan aspek keharaman pada miras sesuai dengan akidah Islam. Keputusan ini diambil Jokowi setelah menerima kritikan dan masukan dari berbagai pihak. Mulai dari ormas keagamaan hingga pemerintah daerah.

Jadi halal dan haram memang bukan standar dalam menetapkan barang ekonomi. Hal ini karena sekularismelah yang menjadi asas dalam ekonomi kapitalisme.

Miras juga merupakan benda yang sarat akan kemudhorotannya. Menurut data WHO, alkohol membunuh 3,3 juta orang di seluruh dunia setiap tahun. Angka kematian akibat konsumsi alkohol ini jauh di atas gabungan korban AIDS, TBC, dan kekerasan. (kompas.com, 12/5/2014)

Sementara menurut laporan terbaru WHO, tiga juta orang di dunia meninggal akibat konsumsi alkohol pada 2016 lalu. Angka itu setara dengan 1 dari 20 kematian di dunia akibat konsumsi alkohol, yang juga setara dengan satu kematian tiap 10 detik. (cnnindonesia.com, 24/9/2018)

Tak hanya itu, konsumsi miras juga erat kaitannya—bahkan memicu—dengan tindak kejahatan dan kekerasan.

Menurut laporan U.S. Department of Health & Human Services yang berjudul Facing Addiction in America (2016), membuktikan peningkatan jumlah gerai alkohol eceran di suatu daerah terkait erat dengan peningkatan masalah akibat alkohol di area tersebut, seperti kekerasan, kejahatan, dan luka-luka.

Sebaliknya, komunitas yang mengurangi jumlah gerai alkohol di wilayahnya, menunjukkan penurunan yang konsisten dan signifikan dalam kejahatan terkait alkohol.

Tak pelak, di negeri ini juga banyak fakta yang menegaskan kaitan erat konsumsi miras dengan kasus kejahatan. Di Papua, kriminalitas yang terus meningkat juga dipicu miras. Belum lagi di Sulawesi Utara, pada 2011, 70 persen kriminalitas di sana juga dipicu miras.

Maka Islam pun tegas melarang miras. Islam telah memperingatkan bahwa miras (khamr) mendatangkan banyak kemudaratan. Allah Swt. juga menyifati khamr dan judi dengan rijsun (kotor), perbuatan setan, dsb..

Allah Swt. berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, sungguh (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala dan mengundi nasib dengan panah adalah termasuk perbuatan setan. Karena itu jauhilah semua itu agar kalian mendapat keberuntungan.”(QS Al-Maidah [05]: 90)

Miras tidak hanya merusak pribadi peminumnya, tapi juga menciptakan kerusakan bagi orang lain. Mereka yang sudah tertutup akalnya oleh miras berpotensi melakukan beragam kejahatan.

Rasulullah saw. menyebut khamr sebagai ummul khaba’its (induk dari segala kejahatan), “Khamr adalah biang kejahatan dan dosa yang paling besar. Siapa saja yang meminum khamr bisa berzina dengan ibunya, saudari ibunya dan saudari ayahnya.” (HR ath-Thabarani)

Rasul saw. juga bersabda, “Khamr adalah induk keburukan. Siapa saja yang meminum khamr, Allah tidak menerima salatnya 40 hari. Jika ia mati, sementara khamr itu ada di dalam perutnya, maka ia mati dengan kematian jahiliah.” (HR ath-Thabarani, ad-Daraquthni, dan al-Qudha’i).

Islam juga melarang total semua hal yang terkait khamr, mulai dari pabrik dan produsen miras, distributor, penjual hingga konsumen (peminumnya).

“Rasulullah saw. telah melaknat terkait khamr sepuluh golongan: pemerasnya; yang minta diperaskan; peminumnya; pengantarnya, yang minta diantarkan khamr; penuangnya; penjualnya; yang menikmati harganya; pembelinya; dan yang minta dibelikan.” (HR at-Tirmidzi).

Sementara itu, Islam menetapkan sanksi hukuman bagi orang yang meminum miras berupa cambuk 40 kali atau 80 kali. Ali bin Abi Thalib ra. menuturkan, “Rasulullah saw. mencambuk (peminum khamr) 40 kali, Abu Bakar mencambuk 40 kali, Umar mencambuk 80 kali. Masing-masing adalah sunah. Ini adalah yang lebih aku sukai.” (HR Muslim)

Walhasil, dalam Islam, miras haram dan harus dilarang secara total. Kebijakan ini hanya bisa terealisasi jika sekularisme kapitalisme dicabut dan dicampakkan dari kehidupan ini hingga ke akarnya dan syariat Islam diterapkan secara kaffah. Dengan demikian akan terwujud kehidupan yang aman, tentram dan rahmatan lil 'alamin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar