Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

CATATAN RAJAB 1442 HIJRIAH SATU ABAD TANPA PERISAI UMAT

Minggu, 14 Maret 2021


Oleh: Rahmani Ratna, S.Pd.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Apa kabar dunia saat ini?
Pandemi belum berakhir. Masih terus berlanjut dengan berbagai varian baru. Konflik politik kepentingan masih tetap berjalan. Negeri-negeri muslim masih juga miskin. Orang-orang muslim dipaksa minggir. Hingga akhirnya terpinggirkan di negeri mayoritas muslim.
Fitnah-fitnah keji silih berganti menjadi benci. Diskriminasi, kriminalisasi, hinaan, cacian, makian, hingga siksaan dialami oleh disebagian kaum muslimin.
Perdamaian persoalan Timur Tengah hanya sekedar agenda, angan, dan harapan semata.
Kaum muslim semakin diminoritaskan diseluruh penjuru dunia.
Sebutan radikalisme , ekstrimisme , terorisme, dan isme-isme negatif lainnya tersemat begitu lekat pada diri umat Nabi Muhammad SAW.
Kini…Islam menjadi musuh internasional. Ajarannya disingkirkan. Ulamanya dibuikan. 
Akan seperti apa umat ini nantinya???

Saat ini negeri-negeri muslim terkerat-kerat menjadi lebih dari 50 negara. Akibatnya, sangat mudah dijajah dari segalal arah. Penjajahan yang ada bukan sekedar penjajahan fisik. Namun juga berupa penjajahan pemikiran. Kaum muslimin dijauhkan dari aqidahnya. Kerena musuh-musuh Islam paham betul bahwa kekuatan umat Islam terletak pada aqidahnya. Sementara kekuatan aqidah hanya bisa dijaga jika ada perisainya.

Tanpanya, aqidah kaum muslimin menjadi rapuh karena tidak ada yang melindungi.  Kaum muslimin pun menjadi mudah diadu-domba. Kaum muslimin di Indonesia, Myanmar, Rohingya, India, Pakistan, Irak, Mesir, Suriah, Palestina, Syam,  dibeberapa bagian Afrika dan lainnya tidak dapat menolong sesama kaum muslimin di negeri lainnya karena sekat nasionalisme.

Kenyataan ini menunjukkan kepada kita bahwa umat Islam berada dalam kemunduran yang luar biasa. Umat Islam tidak lagi menjadi pemimpin bagi dunia, padahal Allah telah menyebutkan dalam Al Quran bahwa umat Islam adalah umat yang terbaik. Secara internasional pun, umat Islam dilecehkan. Dilecehkan orangnya hingga dilecehkan pula ajarannya. Mengapa kondisi ini bisa terjadi??!

Hal ini terjadi karena umat Islam tak lagi memiliki pelindung. Tak ada lagi perisai umat. Sejak keruntuhannya pada 27 Rajab 1342 hijriah atau bertepatan pada 3 Maret 1924 masehi, umat Islam benar-benar telah kehilangan pemimpin yang mengayomi. Sejak itu pula umat Islam tidak lagi memiliki pemerintahan yang menerapkan hukum syariah Islam secara keseluruhan.

Akibat kehilangan perisai umat, di negeri-negeri Islam bermunculan para penguasa yang merupakan kaki tangan negara imperialis yang berperan penting menghancurkan sistem pemerintahan Islam. Mereka menelantarkan rakyat. Kekayaan alam yang seharusnya digunakan untuk kesejahteraan rakyat diberikan ke perusahan-perusahan negara-negara imperialis. 

Para penguasa negeri Islam memberikan legitimasi atas perampokan kekayaan alam negeri Islam lewat UU. Alih-alih meringankan beban rakyat, mereka malah membebani rakyat dengan berbagai pungutan yang mencekik. Mereka pun membuat kebijakan yang semakin menambah derita rakyat seperti pencabutan subsidi. 

Penguasa yang seharusnya memprioritaskan lapangan kerja untuk rakyat mereka sendiri, justru membiarkan para pekerja asing masuk. Para penguasa yang seharusnya menjaga nyawa rakyatnya, malah menjadi mesin pembunuh rakyatnya sendiri.

Para penguasa yang menjadi boneka negara-negara kafir imperialis turut serta menjadi bagian penting dari program GWOT (Global War on Terrorist) yang merupakan kebijakan politik luar negeri negara kapitalis AS. 

Mereka berada di garda terdepan menjalankan kebijakan GWOT untuk mengintervensi berbagai kawasan dunia. GWOT juga telah menjadi alat politik untuk menyerang Islam dan umat Islam yang menyuarakan penegakkan syariah Islam secara kaffah. Tuduhan melakukan kriminalisasi dengan tudingan radikalisme. Radikalisme mereka katakan sebagai tahap berikutnya untuk melakukan tindak terorisme yang harus diperangi.

Apa yang terjadi selanjutnya adalah para penguasa boneka itu memusuhi rakyatnya sendiri. Mereka merancang berbagai UU dan kebijakan yang mengkriminalisasi perjuangan penegakan syariah Islam kaffah. mengadu-domba rakyat mereka sendiri. Mereka melakukan politik belah-bambu untuk memecah-belah kesatuan umat Islam. Bagi mereka persatuan umat bisa mengancam dominasi penjajahan tuan-tuan imperialis mereka.

Lebih lanjut lagi, mereka memperalat dan memperdaya para ulama maupun organisasi Islam untuk menyerang kelompok-kelompok Islam yang tidak sejalan dengan kepentingan penguasa. Mereka menyebarkan isu-isu yang justru menimbulkan kekacauan, perpecahan dan saling curiga di tengah-tengah umat Islam. Inilah kondisi nyata umat Islam saat ini.

Pentingnya Perisai Umat 

Berbagai kekejaman dan penindasan yang terjadi pada umat Islam di belahan dunia, mestinya menjadi pelajaran dan renungan yang mendalam bagi umat Islam saat ini, bahwa sungguh tak ada kehormatan dan kemuliaan bagi kaum muslim tanpa tegaknya Islam. Perisai yang senantiasa menjaga umat tidak ada. 

Imam Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan hadits dari jalur Abu Hurairah ra, bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda:

إِنَّمَا الإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ فَإِنْ أَمَرَ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَدْلٌ كَانَ لَهُ بِذَلِكَ أَجْرٌ ، وَإِنْ يَأْمُرُ بِغَيْرِهِ كَانَ عَلَيْهِ مِنْهُ

“Sesungguhnya seorang imam itu [laksana] perisai. Dia akan dijadikan perisai, dimana orang akan berperang di belakangnya, dan digunakan sebagai tameng. Jika dia memerintahkan takwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan adil, maka dengannya, dia akan mendapatkan pahala. Tetapi, jika dia memerintahkan yang lain, maka dia juga akan mendapatkan dosa/adzab karenanya.”

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahîh Muslim menjelaskan bahwa al-imam adalah junnah (perisai), yakni seperti penghalang. Ia berfungsi menghalangi musuh-musuh menyerang umat Islam, menghalangi sebagian manusia menyerang sebagian yang lain, melindungi kemurnian Islam dan orang-orang berlindung kepadanya.

Ungkapan al-imam adalah junnah menjelaskan bahwa  al-imam (penguasa) memiliki tugas mencegah atau menghilangkan segala bentuk kemudaratan, kezaliman dan kerusakan dari rakyat atau umat.  

Jika terjadi kemudaratan, kezaliman dan kerusakan di tengah rakyat seperti saat ini, sedangkan imam (penguasa) diam saja, artinya ia telah menyalahi tugas dan fungsinya sebagai junnah.  Yang demikian tidak boleh dan tidak pantas terjadi.

Agar bisa terwujud, maka ia harus memerintahkan ketakwaan dan berlaku adil.  Memerintahkan ketakwaan artinya senantiasa membina ketakwaan dirinya dan rakyatnya.  Berlaku adil, yaitu menempatkan dan menjalankan semua perkara sesuai ketentuan aturan Islam.  

Sungguh umat membutuhkan perisai, sebagaimana Nabi memerintahkan agar dengan perisai itu akan mampu melindungi umat ini. Yang mana al-imam inilah yang akan menerapkan kembali syariah Allah secara keseluruhan.

Akan datang kebaikan-kebaikan yang bisa dirasakan oleh seluruh umat manusia karena Islam itu rahmatan lil ‘alamin. Keadilan akan tegak dan kedzaliman akan disingkirkan.

Hal inilah yang dilakukan Nabi Muhammad SAW. saat mendengar ada seorang laki-laki muslim dibunuh di pasar Bani Qoinuqa. Ia dikeroyok oleh orang-orang Yahudi, maka Rasulullah tidak tinggal diam. Sebagai kepala negara beliu bersikap tegas dengan mengusir orang-orang Yahudi Qoinuqa dari Madinah.

Demikian pula yang dilakukan oleh Khalifah Al Mu’tashim Billah yang mendengar panggilan seorang muslimah di sekitar kota Umariyah (Turki) yang dinodai oleh pasukan Romawi. Maka Khalifah saat itu tidak hanya mengecam, namun beliau langsung menurunkan sejumlah besar pasukan yang panjangnya membentang dari ujung kota Baghdad ke ujung lainnya. Dalam tarikh disebutkan 30.000 pasukan Romawi terbunuh.

Pun demikian dengan Khalifah Harun Al Rasyid. Yang bersikap tegas terhadap pemimpin Bizantium yang melanggar perjanjian. Maka Khalifah Al Rasyid mengepung benteng Binzantium bersamaan dengan datangnya surat yang beliau kirimkan kepada raja itu.

Sungguh fakta sejarah itu sangat berbeda dengan kondisi umat Islam saat ini. Semua itu akibat telah hilangnya kekuasaan Islam.

Kekuasaan Islam Rahmatan Lil’alamin

Imam Al Ghazali Rahimahullah dalam kitab nya Al Iqtishodu fil I’tiqod menjelaskan apa yang menyebabkan umat ini bisa bangkit dan apa yang menyebabkan umat ini hancur.

والملك والدين توأمان؛ فالدين أصل والسلطان حارس، وما لا أصل له فمهدوم، وما لا حارس له فضائع، ولا يتم الملك والضبط إلا بالسلطان

“Kekuasaan dan agama adalah saudara kembar; agama merupakan pondasi dan penguasa adalah penjaganya. Apa saja yang tidak memiliki pondasi akan hancur, dan apa saja yang tidak memiliki penjaga akan hilang. Dan tidaklah sempurna kekuasaan dan hukum kecuali dengan adanya pemimpin.”

Jadi untuk menerapkan Islam secara total dan menyeluruh diperlukan kekuasaan. Kekuasaan harus dibangun berlandaskan Islam sekaligus dikhidmatkan untuk Islam, menerapkan Islam, menjaga Islam dan mengemban Islam ke seluruh manusia. Inilah fakta yang terjadi sepanjang sejarah umat Islam.

Dulu Rasul SAW menegakkan kekuasaan dengan mendirikan pemerintahan Islam di Madinah. Kemudian diteruskan oleh Khulafaur Rasyidin, berlanjut pada masa Umayah, ‘Abasiyah dan Utsmaniyah selama lebih dari 13 abad. Selama itu kekuasaan selalu diorientasikan untuk menerapkan, menegakkan, memelihara, menjaga dan mengemban Islam serta memelihara urusan umat Islam dan melindunginya.

Begitulah posisi dan fungsi kekuasaan yang disyariatkan oleh Islam. Tidak ada solusi lain kecuali harus mengembalikan sistem pemerintahan Islam, ke pangkuan umat Islam. Dengan adanya penerapan Islam secara sempurna dan menyeluruh, maka semua persoalan umat Islam dan umat manusia seluruhnya akan bisa diselesaikan dengan paripurna. Selain itu penegakkan kembali sistem pemerintahan Islam adalah taj al-furud (mahkota kewajiban) yang harus diperjuangkan oleh seluruh umat Islam.

Oleh karena itu, mari satukan langkah, rapatkan barisan, pererat ukhuwah Islamiyah dalam perjuang penegakkan kembali sistem pemerintahan Islam 'ala minhajin nubuwwah.

والله أعلمُ ﺑﺎ ﻟﺼﻮﺍﺏ

وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

1 komentar: