Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Di Balik Tabir Program Pendidikan Ulama Perempuan

Selasa, 02 Maret 2021



Oleh: Siti Fatimah
(Ibu Rumah Tangga dan Aktivis Dakwah)

Imam Besar/Ketua Harian Badan Pengelola Masjid Istiqlal, Prof. KH. Nasaruddin Umar mengatakan pihaknya akan mengadakan pendidikan kader ulama perempuan sebagai salah satu tindak lanjut nota kesepahaman dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

"Banyak ulama, tetapi yang perempuan sangat langka, di seluruh dunia, tidak pernah kita dengar ada majelis ulama yang ketuanya perempuan, padahal tidak di haramkan," kata Nasaruddin pada acara penandatangan nota kesepahaman dengan Kementerian pemberdayaan dan Perlindungan Anak yang di liput secara daring dari Jakarta, Jum'at. (m. antaranews.com, 19/02/2021).

Sesungguhnya dengan adanya pengadaan program ini bisa menyudutkan Islam sehingga beranggapan Islam sebagai agama yang tidak berpihak pada perempuan. Karena nampak aroma kriminalisasi ajaran Islam yang akan menguat serta pendidikan ulama perempuan untuk menghapuskan bias gender yang sejatinya mengahantarkan lahirnya publik yang memperkuat moderasi dan sekulerisme.

Padahal sudah kita ketahui bahwa paham moderat ini justru akan menjauhkan Islam dari hakikat sejatinya sebagai ajaran yang kaffah serta pemersatu antar seluruh golongan. Ide ini membangun Islam inklusif bersifat terbuka, toleran terhadap ajaran agama lain dan juga menyusupkan paham pluralisme yang memandang seluruh agama benar.

Padahal sudah sangat jelas bahwa Al Quran surat Al-imron ayat 19 menegaskan "innaddiina indallaahi Al-islam" yang artinya agama yang mulia di sisi Allah hanyalah Islam. Maka sangat jelas pluralisme haram bagi kaum muslimin. Dari sinilah kita mendapati penganut Islam moderat memberlakukan toleransi melampai batas yang telah di gariskan oleh Islam.

Karena itu, jelaslah apa yang dilakukan penguasa yakni mencetak ulama perempuan yang mengharuskan moderat Islam tidak sejalan dengan Islam. Hanya penerapan Islam dalam bingkai Khilafah Islamiyyah yang mampu mengembalikan peran penguasa dan ulama dalam mencetak ulama-ulama yang berkontribusi dalam membentuk keluarga muslim berkualitas.

Wallaahu a’lam bi Shawab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar