Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Dulu Perempuan, kini jadi Laki-laki : Kembalilah pada Islam agar Tidak Keliru

Jumat, 12 Maret 2021



Oleh : Yauma Bunga Yusyananda

( Anggota Komunitas Kstaria Aksara Kota Bandung )


Nama Aprilia Santini Manganang selaku serda TNI Angkatan Darat saat ini, tengah ramai diperbincangkan lantaran dulunya terungkap bahwa Manganang masuk ke dalam Atlet Voli Putri berprestasi, padahal dia saat ini berjenis kelamin laki-laki.

Diketahui, tahun 2016 dia masuk ke dalam Korps. Wanita Angkatan Darat, dan pensiun menjadi atlet voli di tahun 2020. Berdasarkan pemeriksaan medis di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta, Manganang didiagnosa mengalami hipospadia sejak lahir dan kini sudah dinyatakan sebagai laki-laki tulen. (liputan6.com 11/03/2021)

Pada saat itu keluarga dan tenaga medis yang menanganinya tidak begitu paham dengan jenis kelainan hipospadia, yaitu kelainan bawaan sejak lahir bahwa lubang uretra ( saluran yang membawa urin dari kandung kemih keluar tubuh ) bukan diujung penis namun di bawah penis.  Sehingga kelainan tersebut membawa manganang dianggap berjenis kelamin perempuan (tirto.id 10/03/2021)

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), hipospadia bisa diakibatkan karena,  ibu yang hamil di atas usia 35 tahun, ibu yang hamil dengan obesitas, perempuan yang hamil dengan menggunakan bantuan teknologi reproduksi, konsumsi hormon atau obat-obatan tertentu selama masa kehamilan.

Pelajaran yang dapat kita ambil saat menyimak kasus ini, bahwa peran individu, masyarakat serta negara perlu memberikan pelayanan yang tidak asal sebelum masyarakat sendiri mengungkap apa yang terjadi sebenarnya. Lolosnya Manganang masuk Korps Wanita Angkatan Darat karena pemeriksaan medis tidak sampai bagian reproduksi, serta tenaga medis yang mumpuni untuk mengetahui penyakit yang tidak biasa sekalipun.

Selain itu jika perihal kehamilan tidak boleh diatas 35 tahun karena rentan, maka kita harus menyerahkannya pada ilahi dan tentu dengan ikhtiar perencanaan fase hidup baik menikah lalu hamil dan melahirkan. Jikapun, ada kuasa dan bukan kuasa manusia, maka kita hanya bisa berikhtiar lagi dalam menjaga pola makanan kita sebagai manusia yang menjaga kesehatan.

Karena penyakit-penyakit yang tidak biasa, tergantung asupan dan teknologi yang belum tentu kita boleh menggunakannya seperti hamil dengan bantuan teknologi reproduksi atau konsumsi hormon dan obat-obatan yang kita awam dalam menggunakannya.

Sekali lagi, kita perlu memberikan asupan diri kita berupa ilmu walaupun kita bukan orang-orang yang ada dalam bidang medis namun setidaknya kita bisa lebih waspada diri kita sendiri. Bukan keinginan kita untuk sakit, namun kita sebagai manusia bisa mencegah dan mempelajari sebab akibat terjadinya penyakit.

Agar kita dijauhkan dari penyakit-penyakit semacam ini, untuk tidak keliru menggabungkan kelompok gender yang satu dengan individu yang lain. Agar ketidak tahuan ini, tidak terulang berkali-kali sehingga perbaikan pengetahuan akan berbagai ilmu perlu difasilitasi dengan baik. Dan bekali tenaga medis kita dengan ilmu syariat, agar tidak asal dalam menetapkan kesimpulan. Karena dari kasus ini saja sangat fatal jika kita menetapkan seseorang yang semula laki-laki menjadi perempuan dan kini menjadi laki-laki. Karena Islam akan membekali individu tidak sembarangan dalam perkara ilmu, akan secara tuntas agar ilmu yang diterapkan tidak keliru di masyarakat.

Karena di awal kita ketahui bahwa Manganang adalah laki-laki, karena posisi uretra nya saja yang berbeda dari bayi laki-laki lain, seharusnya tidak mengubah dirinya menjadi gender yang lain. Namun hanya didiagnosis saja penyakitnya, dan tetap menjadi bayi laki-laki. Karena di dalam Islam, jikapun ada kelainan penyakit sampai Ambiguous genitalia atau berkelamin ganda, maka Islam menyarankan untuk melihat mana yang dominan dan menetapkannya hanya satu sebagai gender. Dan orang tersebut hanya dianggap sebagai orang yang sedang diuji Allah dengan penyakit yang tak biasa, bukan transgender ataupun interseks. Berbeda hukumnya jika sudah nampak dirinya laki-laki namun, ingin berubah menjadi perempuan dan merubah seluruh penampilannya sebagai perempuan, maka itu yang akan dilaknat Allah di akhirat kelak selama dirinya tidak bertaubat hingga maut menyapanya.

Maha benar Allah dengan segala pengetahuannya, kita manusia hanya bisa mengakui bahwa kita lemah dan terbatas sehingga perlu Islam sebagai tuntunan bukan sekedar agama yang mempelajari ibadah kepada Allah saja, namun memberikan solusi dari setiap permasalahan manusia juga, termasuk kelainan penyakit.

Diriwayatkan dari musnad Imam Ahmad dari shahabat Usamah bin Suraik, bahwasanya Nabi bersabda: Aku pernah berada di samping Rasulullah, Lalu datanglah serombongan Arab Badui. Mereka bertanya, 'Wahai Rasulullah, bolehkah kami berobat?' Beliau menjawab, 'Iya, wahai para hamba Allah, berobatlah. Sebab, Allah  tidaklah meletakkan sebuah penyakit melainkan meletakkan pula obatnya, kecuali satu penyakit.' Mereka bertanya, 'Penyakit apa itu?' Beliau menjawab, 'Penyakit tua.'" (HR Ahmad).

Allohu Musta’an

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar