Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Kekerasan Seksual Dalam Keluarga, Perempuan Butuh Islam Untuk Solusinya

Minggu, 14 Maret 2021



Oleh : Ummu Hanif

             Pandemi membawa dampak yang cukup besar dalam memporak – porandakan tatanan kehidupan masyarakat. Dari aspek kesehatan, ekonomi bahkan sampai kekerasan seksual dalam lingkup keluarga. Kondisi ini diperparah dengan terkikisnya pemahaman agama akibat sistem hidup yang memisahkan agama dari kehidupan. Interaksi antara anggota keluarga dalam frame sistem kehidupan yang minus aturan agama ini, membuat kita harus menyaksikan fakta yang tak seharusnya terjadi.

Sebagaimana dikutip dari www.bbc.com, pada 08/03/2021, meski jumlah kasus perkosaan dalam keluarga di Indonesia menunjukkan penurunan kasus—dari rata-rata lebih dari 1.000 kasus per tahun menjadi 215—selama pandemi virus Corona 2020, tapi itu bukan kabar baik. Menurut Komisi Nasional Perempuan Indonesia (Komnas Perempuan), masa pandemi menciptakan tantangan baru bagi korban perkosaan dalam keluarga untuk mencari keadilan. Hal ini dikarenakan, pelayanan dari institusi yang memberi pendampingan bagi korban juga terbatas saat pandemi. Selain itu, korban juga “terjebak” di dalam rumah bersama pelaku dan menanggung berbagai ancaman.

Isu ini tentu tak dilewatkan para pejuang feminis untuk menggulirkan isu disparitas gender. Pejuang kesetaraan gender yang memang mengasosiasikan rumah tangga sebagai salah satu sumber diskriminasi dan subordinasi terhadap perempuan, kembali mendapat momentum untuk terus menyuarakan pembebasan kaum perempuan dan anak, terlebih lagi di tengah peringatan hari perempuan internasional yang diselenggarakan pada tangal 8 maret lalu.

Berbalut baju perjuangan ini, kaum feminis hadir di tengah-tengah kaum perempuan. Dalam berbagai aksinya, para feminis tak pernah luput menempatkan ketimpangan relasi gender antara laki-laki dan perempuan sebagai masalah utama terjadinya kekerasan seksual. Mereka mengatakan, ada konstruksi seksualitas di masyarakat patriarki yang mewajarkan laki-laki bersikap agresif terhadap perempuan dan anak.

Kalau kita perhatikan dengan seksama, terdapat kekacauan berpikir dari kaum feminis. Ada kontradiksi yang sangat jelas antara tuntutan mereka dan realitas yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Bagaimana tidak, di satu sisi mereka menginginkan agar perempuan dan anak bebas dari kekerasan seksual, namun di sisi lain mereka juga mengkampanyekan kebebasan individu yang memicu bangkitnya naluri seksual.



Perlindungan sejati bagi perempuan dan anak dalam konsep relasi keluarga sesungguhnya telah diatur dalam Islam. Allah Swt., Zat Yang Mahatahu ini telah menciptakan naluri seksual pada laki-laki dan perempuan sekaligus menurunkan seperangkat hukum syariat untuk mengaturnya.

Islam mencegah dan meminimalisir terjadinya kekerasan seksual dengan mengatur sistem pergaulan melalui mekanisme yang khas. Di kehidupan umum, Islam mendudukkan kaum perempuan sebagai mitra laki-laki dalam kehidupan domestik dan publik.

Islam juga merintahkan kepada laki-laki dan perempuan untuk menutupi auratnya dan menjaga kemaluannya. Bahkan dalam lingkup keluarga sekalipun yang notabene merupakan kehidupan khusus , Islam mengatur privasi masing-masing anggota keluarga.

Selain itu, dalam islam juga diperintahkan untuk memisahkan tempat tidur anak-anak saat mereka berusia tujuh tahun termasuk melarang laki-laki dan perempuan tidur dalam selimut yang sama. Hal ini menutup celah terjadinya interaksi jinsiyah/seksualitas yang diharamkan Allah SWT, sebagaimana yang terjadi saat ini. Pun pula dalam Islam berlaku aturan mengenai izin saat hendak memasuki rumah. 

Inilah upaya preventif dalam Islam untuk menghindari terjadinya interaksi seksual dalam keluarga. Dan untuk menangani masalah seksualitas dalam institusi keluarga, negara wajib hadir untuk menjalankan hukum yang jelas dan tegas. Menghukum pelaku pelecehan seksual, pemerkosaan, dan sejenisnya dengan hukuman setimpal sesuai syariat Islam. Wallahu a’lam bi ash showab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar