Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Khilafah Menjadikan Muslimah Mulia dan Istimewa

Minggu, 07 Maret 2021


oleh : Wulansari Rahayu, S.Pd



Tahun ini, tema Hari Perempuan Sedunia (8 Maret), “Perempuan dalam Kepemimpinan: Mencapai Masa Depan yang Setara di Dunia COVID-19”, Hal ini dimaksudkan untuk merayakan upaya luar biasa perempuan dan anak perempuan di seluruh dunia dalam membentuk masa depan dan pemulihan yang lebih setara. Juga sebagai bagian dari kampanye Kesetaraan Generasi, UN Women mengeluarkan seruan global untuk karya seni asli yang memvisualisasikan dan merayakan aktivisme untuk kesetaraan gender.

Hal ini juga selaras dengan tema prioritas sidang ke-65 Komisi Status Perempuan, “Partisipasi penuh dan efektif perempuan dan pengambilan keputusan dalam kehidupan publik, serta penghapusan kekerasan, untuk mencapai kesetaraan gender dan pemberdayaan. Perempuan dan anak perempuan ”, kampanye unggulan Kesetaraan Generasi, yang menyerukan hak perempuan untuk mengambil keputusan di semua bidang kehidupan, upah yang setara, pembagian yang sama atas perawatan tak berbayar dan pekerjaan rumah tangga, mengakhiri semua bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan, dan layanan perawatan kesehatan yang menanggapi kebutuhan mereka. 

Kampanye kesetaraan gender semakin masif dilakukan. Pertanyaannya apakah dengan konsep ini perempuan akan lebih mulia. Nyatanya justru konsep kesetaraan gender ini menggerus Fitrah seorang perempuan itu sendiri. Problem akut menimpa perempuan hari ini karena terseret tipu daya feminisme. Mulai dari kegagalan dalam berkeluarga, kemiskinan perempuan, kekerasan yang tiada hentinya dsbnya.

Kondisi “ketertindasan” perempuan di Barat adalah yang melatarbelakangi munculnya paham feminisme yang menginginkan perempuan bukan hanya sebagai pemuas laki-laki. Para aktivis feminis menginginkan kesetaraan perempuan dengan laki-laki.
kemudian muncul argumen feminisme posmodern yang menyatakan tubuh bukan lagi barang privat melainkan alat perlawanan terhadap struktur yang represif, karena tubuh perempuan seharusnya berada di bawah otonomi penuh perempuan (prinsip mereka: “My Body is My Authority”).

Otonomi yang diinterpretasi feminis posmodern terhadap tubuhnya dapat ditemui dalam pola-pola protes Femen. Dapat kita jumpai aksi-aksi protes mereka di depan public dengan bertelanjang dada atau bahkan tanpa busana. Apakah seperti itu yang dinamakan menyelamatkan perempuan dari ketertindasan, modern, dan meningkatkan harkat dan kehormatan perempuan? 

Di sisi lain Agama Islam disebut sebagai pihak yang paling dominan dalam mewarnai tata nilai yang berlaku di masyarakat. Misal, adanya kewajiban meminta izin pada suami, keharusan adanya mahram saat safar lebih dari sehari, dilarangnya poliandri tetapi dibolehkannya poligami. dimana semua itu dianggap menghambat kebebasan yang seolah menjadi pangkal seluruh permasalahan perempuan.

khilafah sebuah institusi negara yang menerapkan Islam secara kaffah, telah terbukti memuliakan perempuan. Perempuan dengan tugas pokoknya menjadi ibu dan pengatur rumah tangga. Peran optimal yang sesuai dengan fitrahnya telah menjadikan perempuan sebagai pihak yang juga turut andil dalam terwujudnya peradaban yang gemilang. Dari rahim mereka terlahir para tokoh, negarawan, politikus, ulama, cendekiawan, dan tokoh-tokoh lainnya yang keberadaannya bermanfaat untuk umat, tersebab peran perempuan yang sesuai dengan fitrahnya.

Dari sisi kemanusiaan, Islam memandang perempuan dan laki-laki adalah satu. Islam menjamin hak-hak perempuan sebagai manusia, yakni dilindungi kehormatannya, akal, harta, jiwa, agama, keamanan, pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan, termasuk hak berpolitiknya. Semua itu agar peran tersebut bisa optimal dijalankan perempuan tanpa mengabaikan hak-haknya sebagai manusia. Aturan Islam yang begitu terperinci terhadap perempuan tidak mungkin bisa diterapkan dengan optimal tanpa peran negara.

Negara wajib menjaga masyarakatnya dari berbagai macam bahaya termasuk serangan budaya agar perempuan terhindar dari serangan budaya Barat/kufur yang menghilangkan kehormatannya. Dengan peran-peran yang mulia ini, sesungguhnya perempuan dipandang telah memberikan sumbangan besar kepada umat dan masyarakatnya. Bahkan kegemilangan peradaban sebuah masyarakat sebagaimana yang pernah dicapai belasan abad oleh umat Islam terdahulu tidak bisa dipisahkan dari keberhasilan peran para ibu. Wallahu alam bishowab

*Penulis dan Pemerhati Perempuan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar