Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

KRITIK PEDAS KENAIKAN SI KECIL CABE RAWIT

Sabtu, 13 Maret 2021
 
                  
 
Oleh : Ummu Aqeela

Sudah bukan menjadi sebuah rahasia jika banyak orang, khususnya masyarakat Indonesia yang tidak bisa lepas dari makanan pedas yang dihasilkan dari sambal. Bisa diibaratkan 'bagai sayur tanpa garam', makan tanpa sambal terasa ada yang kurang bagi mereka yang benar-benar pecinta sambal. Namun kali ini pecinta pedasnya sambal agaknya harus bersabar, karena bahan utama cita rasa sambal ini sedang bergelora diharga yang tidak biasa. Meski ini adalah kenaikan tahunan dengan berbagai macam sebab dan alasan, tetap saja menjadi salah satu sebab menurunkan level selera kepedasan karena tingginya level harga sikecil cabe rawit ini dipasaran. 

Harga cabai rawit merah di berbagai daerah terus melambung. Berdasarkan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional pada Selasa (2/3), harga cabai rawit merah di pasar tradisional DKI Jakarta mencapai Rp 140 ribu per kilogram, dua kali lipat dari harga normal. Selain DKI, kenaikan harga cabai rawit merah tertinggi terjadi di pasar tradisional Kalimantan Barat sebesar Rp 122.950 per kilogram, Kalimantan Tengah Rp 119.400 per kilogram, dan Bangka Belitung Rp 116.250 per kilogram. Kemudian, rata-rata harga cabai rawit merah di Kalimantan Selatan dan Jawa Barat masing-masing sebesar Rp 113.350 per kilogram.

Adapun, rata-rata harga cabai rawit merah di pasar tradisional secara nasional sebesar Rp 92.400 per kilogram. Kenaikan harga telah terjadi sejak akhir Januari lalu. Hujan di berbagai daerah membuat panen terhambat. Selain itu, kadar air yang tinggi membuat cabai yang dipanen cepat membusuk.
Sebelum merangkak naik, rata-rata harga cabai rawit merah di pasar tradisional pada 28 Januari 2021 Rp 71.250 per kilogram. Ini artinya, rata-rata harga cabai rawit merah pada Selasa telah naik 29,68% dibandingkan dengan 28 Januari lalu. Karena kenaikan bertahap tersebut, harga cabai rawit merah turut memberikan andil terhadap inflasi Februari. Mengutip dari Antara, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kenaikan harga cabai rawit dan ikan segar menjadi pemicu inflasi Februari 2021 sebesar 0,10 persen.
"Cabai rawit dan ikan segar sama-sama menyumbang andil inflasi 0,02 persen pada Februari 2021," kata Kepala BPS Suhariyanto dalam jumpa pers di Jakarta, Senin (1/3).
 
Sebagai dampak sejumlah ibu rumah tanggapun mengeluhkan harga cabai rawit merah yang melambung tinggi tersebut. Harga yang kini mencapai lebih dari Rp 100.000 per kilogram di sejumlah wilayah membuat mereka dilema mengatur uang belanja. Misal, Anggun (27), warga Bekasi ini mengatakan dirinya terkejut saat mengetahui cabai rawit merah sudah seharga Rp 170.000 per kilogram di Pasar Baru Bekasi Timur, tempat ia biasa membeli bahan pangan.
"Kemarin Kamis sempat beli, dan itu enggak bisa di tawar sama sekali. Beli Rp 10.000 isinya cuma 7-10 biji," ujarnya. Dia mengatakan, menurut pernyataan penjual di pasar kenaikan harga cabai rawit ini dikarenakan musim hujan yang membuat banyak gagal panen. Alhasil harga naik karena pasokan di pasaran tak bisa memenuhi tingginya permintaan. (Kompas.com, Sabtu 13/3/2021).
 
Dalam sistem kapitalis penyebab kenaikan harga kebutuhan pangan dikarenakan kurangnya ketersediaan bahan pangan tertentu misal saja cabe. Kondisi ini bisa terjadi karena harga cabe ditentukan berdasarkan penawaran dan permintaan. Misal, jika barang yang ditawarkan jumlahnya melimpah, sedangkan permintaan sedikit, maka harga akan turun. Sebaliknya, jika barang yang ditawarkan jumlahnya sedikit, sedangkan permintaan besar, maka harga akan naik.
 
Tentu kita masih ingat dengan jawaban pemerintah beberapa waktu yang lalu, ketika muncul keluhan dari masyarakat tentang mahalnya harga cabe. Jawaban dari pemerintah sungguh membuat miris, dimana rakyat diminta untuk menanam sendiri cabe di pekarangan rumah masing-masing. Jawaban seperti ini menunjukkan ketidakmampuan pemerintah untuk menyelesaikan berbagai problem yang dialami rakyatnya. Padahal sejatinya tugas pemerintah adalah sebagai pelayan dan pengurus rakyatnya.
 
Dalam Islam pertanian adalah salah satu pilar perekonomian negara, sebagai sistem hidup yang sempurna, Islam memiliki solusi atas persoalan kenaikan harga barang-barang. Jika ditelisik, faktor penyebab kenaikan harga pangan ada dua macam: pertama, faktor alam antara lain akibat gagal panen yang disebabkan oleh banjir atau kekeringan, serangan hama, jadwal panen dan lain-lain, kedua, karena penyimpangan ekonomi dari hukum-hukum syari’ah Islam, seperti terjadinya penimbunan, permainan harga, hingga penjajahan ekonomi. 
 
Ketika melambungnya harga karena faktor yang menyebabkan kelangkaan barang, maka disamping umat dituntut bersabar, Islam juga mewajibkan negara untuk mengatasi kelangkaan tersebut dengan mencari suplay dari daerah lain. Jika seluruh wilayah dalam negeri keadaannya sama, maka bisa diselesaikan dengan kebijakan impor tentu dengan masih memperhatikan produk dalam negeri. Namun jika melambungnya harga disebabkan pelanggaran terhadap hukum-hukum syari’ah, maka penguasa harus turun tangan mengatasi hal tersebut agar tidak terjadi. 
 
Dikisahkan, Rasulullah saw dalam posisinya sebagai kepala negara sampai turun sendiri ke pasar untuk melakukan inspeksi agar tidak terjadi penipuan harga maupun penipuan barang, beliau juga melarang penimbunan. Khalifah Umar bahkan melarang orang yang tidak mengerti hukum fikih terkait bisnis, melakukan bisnis. Para pebisnis secara berkala juga pernah diuji apakah mengerti hukum syara’ terkait bisnis ataukah tidak, jika tidak faham maka mereka dilarang berbisnis. Hal ini dilakukan karena setiap kemaksiatan apalagi kemaksiatan terkait ekonomi akan menghancurkan sendi-sendi kehidupan ekonomi.
 
Semua bentuk perdagangan haruslah berjalan sesuai dengan prinsip atau kaidah keislaman dengan menerapkan  prinsip keadilan guna menghindari kezaliman. Prinsip keadilan sangat penting di terapkan dalam ekonomi islam karena keadilan mengandung prinsip dari semua prinsip hukum islam. 

Begitu Indahnya Islam mengatur sendi-sendi kehidupan manusia, karena manusia adalah makhluk ciptaan Allah dan sudah sewajibnya pula menerapkan aturan yang berasal dariNYA. Harus diingat bahwa setiap aktifitas perdagangan yang disandarkan kepada nilai-nilai agama Islam mempunyai nilai ibadah tersendiri. Artinya dalam aktifitas perdagang selain mendapatkan keuntungan di dunia secara nyata berupa materi, seseorang tersebut sekaligus dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT. 

Dengan demikian perdagangan yang Islami dan sesuai hukum-hukum Islam didasarkan atas prinsip kejujuran dan pada sistem yang bersumber terhadap ajaran Islam. Dan semua itu bisa diwujudkan jika atmosfir Khilafah sudah tegak mengelilingi umat. Karena ketika itu terjadi umat hanya berfokus meraih ridhoNYA bukan hanya kepentingan dunia semata.
 
Wallahu’alam bisshowab
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar