Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Mabok Agama dilarang, Mabok Miras dilegalkan, Butuh Kebijakan Waras

Minggu, 14 Maret 2021


Oleh: Rut Sri Wahyuningsih
Institut Literasi dan Peradaban

Ajakan Neno Warisman untuk mengikuti doa dan tahlil nasional untuk enam Laskar FPI yang mati ditembak Anggota Polri mendapat respons dari Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) Ali Mochtar Ngabalin ( beritaislam.org, 13/3/2021).

Ali Ngabalin menyebut ajakan tersebut berasal dari orang-orang yang mabuk agama. “Mabok lagi, mabok lagi. mabok lagi, mabok lagi. Maaaaboook mabok lagi. Kalau sudah, mabok. Mabok lagi…mabok lagi, mabok lagi… maaaaboook sampai mati. He he he he he #MabokAgama,” tulis Ngabalin di twitter @AliNgabalinNew pada Jumat, 12 Maret 2021.

Sungguh tak bisa dinalar, mengapa bisa lisan yang seharusnya membicarakan sesuatu yang baik justru digunakan untuk menghina. Terlebih menyamakan kegiatan keagamaan dengan kata mabok yang identik dengan perbuatan maksiat yang dilarang agama.

Tentu bukan pula karena alasan kebebasan berbicara lantas semaunya menghina yang lain. Bukannya perilaku ini yang sebenarnya pemicu kegaduhan?

Menurut HM Mursalin, Presiden Komando Ulama untuk Pemenangan Politik Islam (KOMPI) dan juga mantan Komando Ulama Pemenangan Prabowo dan Sandi. Hadirnya ke acara ini adalah untuk merajut persaudaraan, dengan tahlil dan doa untuk enam syuhadah yang sampai sekarang masih terkatung-katung ia berharap kepada Allah karena ini termasuk kita menolong agama Allah.

Keadilan mungkin telah hilang dari negeri ini, keluarga para syuhada hingga harus melakukan mubahalah agar suara mereka didengar. Namun banyaknya kasus serupa menunjukkan hal ini adalah sia-sia, sebab sistem hukum dan peradilan tegak di atas asas sekularisme. Pemisahan agama dari kehidupan. Apapun yang ditegakkan diatasnya ibarat rumah yang dibangun di atas tanah berpasir, akan hancur begitu ada hujan deras mengguyur.

Pernyataan mabok agama persis sebagaimana pendapat salah satu ideologi di dunia ini, sosialis yang mengatakan bahwa agama adalah candu yang melemahkan manusia. Itulah mengapa ideologi sosialis termasuk di dalamnya komunis menyandarkan akidah mereka pada revolusi materialistik dan mengingkari Sang Pencipta, Allah SWT.

Segala sesuatu bukan diciptakan oleh Allah, melainkan ada karena ada perubahan evolusi materi. Semacam teori Darwin yang bertahun-tahun menjadi bab dalam kurikulum pelajaran di dunia, bahwa manusia dari kera. Teori yang tak berlandaskan pada fakta aqliyah (akal sehat), jika memang kera berevolusi menjadi manusia, mengapa monyet di hutan di dunia berhenti berubah? Mereka hingga kini tetap monyet.

Maka, karena agama tak lagi diakui, seluruh persoalan manusia penyelesaiannya diserahkan kepada kejeniusan manusia. Padahal seberapa tumbuh dan berkembangnya otak seorang manusia, tak akan pernah bisa mencapai kejeniusan diluar batas apa yang sudah ditentukan Allah. Sebagaimana firman Allah swt:

"Tidaklah Aku berikan ilmu kepada kalian kecuali hanya sedikit sekali" (QS Al-Israa:85).

Bisakah dijelaskan bagaimana orang yang diberi sedikit ilmu lantas bisa memikirkan maslahat banyak orang dan banyak persoalan? Sungguh Allah telah memudahkan urusan manusia dengan syariat, maka jika ada penolakan itu pasti keluar dari hawa nafsu.

Miras penghilang akal, orang yang berlebihan mengkonsumsinya akan mabok atau akal sehatnya berkurang. Maka, ia akan berbuat kerusakan sebab dalam pengaruh alkohol. Jika kemudian agama disamakan dengan miras, apa yang telah dirusak ketika seseorang kecanduan agama bahkan tak mau lepas dari agama tersebut?

Miras yang secara fakta menimbulkan sikap perpecahan dan kerusakan, justru diberi payung hukum hingga legal diperjualbelikan, sementara mereka yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang makruf mencegah kemungkaran dipersekusi dan dituduh melanggar UU.

Padahal Allah pun memerintahkan manusia untuk masuk ke dalam agama Islam secara kaffah atau keseluruhan. Maka, maboknya orang yang bertakwa adalah justru ketika ia berusaha semaksimal mungkin menaati apapun yang diperintahkan atau dilarang Allah SWT. Orang yang berlawanan pendapat bisa jadi ia memang ingin tidak bersungguh-sungguh dengan keimanannya. Mereka masuk dalam barisan orang-orang munafik nauzubillah..

Sekularisme sukses membuat setiap orang merasa cukup dengan apa yang pada dirinya. Inilah yang kemudian menumbuhkan sikap egois dan tak simpati kepada yang lain. Terutama jika bicara keadilan, bergantung pada siapa yang mengartikan. Lebih seringnya tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Sungguh! Allah tak akan mendiamkan ketidakadilan tanpa memberinya imbalan yang setimpal. Wallahu a'lam bish showab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar