Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Mengapa Pernikahan Menuai Kontroversi?

Sabtu, 13 Maret 2021



Sumber Gambar: news.detik.com


Oleh: Ummu Diar


Pro kontra pernikahan dini kembali bergulir. Media sosial kembali diwarnai dengan berbagai opini pro kontra terkait pernikahan dini. Salah satu pemantiknya adalah viralnya wedding organizer yang disinyalir menawarkan jasa membantu terselenggaranya pernikahan siri, poligami, hingga pernikahan usia dini.

Yang kontra berpendapat bahwa pernikahan dini cenderung merenggut masa remaja, bisa berpotensi mengorbankan perempuan, belum matang kemandirian ekonomi dll. Sementara yang pro berargumen tak mengapa menikah dini, asalkan mampu dan sanggup.

Dari sini, maka menjadi perenungan bersama terkait hakikat pernikahan itu sendiri. Apakah ianya sebatas menyatukan dua orang yang saling suka dan mau hidup bersama? Apakah usia memang berkaitan langsung dengan keharmonisan rumah tangga? Dan lain sebagainya.

Apabila persoalan ini dikembalikan pada masing-masing individu, maka berbagai perbedaan pendapat akan terus bermunculan, sebab masing-masing memiliki isi kepala berbeda. Pun manusia memiliki keterbatasan dan kelemahan, apa yang dikira baik belum tentu yang terbaik, begitu pula apa yang dikira buruk belum tentu demikian kenyataannya. Sehingga meski hanya dalam persoalan pernikahan, alangkah baiknya bila dikembalikan kepada Allah, zat yang menciptakan manusia, yang pasti tau apa yang pas dan tepat bagi ciptaanNya.

Mengembalikan setiap persoalan kepada Allah bermakna mengikuti aturanNya dalam menyelesaikan persoalan yang bermunculan tersebut. Dan saat ini, aturan tersebut terangkum dalam kitab Alquran, yang diyakini oleh pemeluk Islam sebagai pedoman. Maka apabila berbicara tentang aturan Allah, ya kepada Islam lah pada akhirnya semua distandarkan.

Adapun terkait persoalan pernikahan, secara ringkas Islam mengajarkan bahwa rukun pernikahan adalah terpenuhinya aqad, adanya wali perempuan, dan dua orang saksi. Namun tidak sesederhana itu, sebab Islam memandang pernikahan adalah jalan kemuliaan. Pernikahan menjadi sebab halalnya pergaulan dan hak serta kewajiban antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram.

Maknanya prosesi pernikahan mengubah banyak hal. Yang semula tidak boleh dilakukan antara dua lawan jenis bukan mahram, menjadi boleh dan bernilai pahala. Sehingga tidak berlebihan jika dikatakan aqad pernikahan menggetarkan ArsyNya lantaran apa-apa yang dulu tidak boleh menjadi boleh dengan batasan kehidupan rumah tangga. Apa yang dulu bukan kewajiban menjadi wajib, semisal suami menafkahi istri, istri berbakti kepada suaminya dll.

Dari sini tergambar bahwa menikah dini itu pilihan, alangkah baiknya bila landasannya atas dasar ilmu, bukan karena faktor lain yang terpaksa mengharuskan pernikahan. Sebab menuju pernikahan bukan sebatas cepat atau lambat, bukan sebatas perkara usia. Ada yang lebih urgen dari itu, yaitu tentang ilmu pernikahan itu sendiri. Pernikahan yang terjadi diharapkan sekali seumur hidup, sehingga selama berpasangan ini, harapannya banyak pahala dan keridhaan Allah yang bisa dikumpulkan bersama.

Untuk menuju ridha Allah inilah bekal dibutuhkan. Agar apa yang diperbuat sepanjang kebersamaan memang benar sesuai aturan Allah dan dilaksanakan dengan penuh keikhlasan. Dua hal ini adalah kunci menunaikan amal yang ihsan, termasuk ketika berprofesi sebagai suami-istri, menantu, saudara ipar dll.

Apalagi, menikah bukan sebatas bersatunya dua orang saja, sehingga ilmunya tidak sebatas kewajiban dan hak suami istri. Di sana ada penggabungan dua keluarga besar, sehingga diperlukan pula adab dan ilmu bagaimana bersikap pada keduanya, bagaimana batasan mahram dan bukannya. Pun berkeluarga juga mengarah pada ikhtiar melanjutkan generasi, sehingga ilmu menjadi orang tua pun perlu dipupuk.

Ringkasnya bila ilmu mengenai pernikahan dan hal yang terkait dengan konsekuensi hubungan pernikahan, maka menikah tak lagi menjadi soal. Bahkan jika pernikahan dilangsungkan dalam usia yang masih dini sekalipun. Kesiapan dan kematangan ilmu disertai ketakwaan padaNya menjadi bekal istimewa untuk melangkah memenuhi separuh agama.

Hanya saja, saat ini langka sekali aktivitas belajar dan mengajar terkait pernikahan. Sebagian menjalaninya mengalir sesuai keumuman, belajar mendewasa berdasarkan pengalaman. Padahal paham keutuhan ilmu pernikahan menurut Islam sangatlah penting. Agar setiap generasi bisa menyalurkan naluri melestarikan jenisnya dengan jalan yang benar, menikah.

Sebab dewasa ini, marak dijumpai pergaulan bebas sebagai pilihan penyaluran naluri tersebut. Padahal mau dinilai dari sudut manapun, pergaulan bebas bukanlah hal yang tepat. Bahkan dinilai maksiat karena melanggar aturan Allah. Sayangnya justru pengantar menuju pergaulan bebas ini marak di mana-mana. Alam liberal yang sekuler mewadahi iklan, tayangan media, gambar, dan sebagainya ramai berkisah tentang polah tingkah remaja yang dimabuk cinta. Pacaran dipandang menjadi hal lumrah, hingga hamil dengan pacar yang berujung aborsi pun tak lagi dinilai tabu. Sungguh tak patut terjadi.

Oleh karena itu diperlukan dukungan dari masyarakat dan support dari negara untuk mengantarkan remaja pada pemahaman ilmu pernikahan secara utuh. Agar nasib remaja, generasi muda terselamatkan dari pergaulan bebas. Agar pilihan menikah muda bila salah satu tujuannya menghindarkan diri dari keburukan, tak lagi menjadi kontroversi.

Agar pro kontra terkait pernikahan bukan sebatas membahas usia, tapi bagaimana menyediakan lembaga profesional yang mampu menyiapkan setiap generasi siap memasuki pernikahan. Sehingga tidak lagi ada kegagalan ataupun problema besar dalam pernikahan. Tak lagi menyoal mereka yang memilih menikah di usia muda. []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar