Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Negara Berkah dengan Penerapan Syariah Kaffah; Wajibnya Menerapkan Khilafah

Sabtu, 13 Maret 2021



Oleh Yury Purnama Inda, S. Pd
(Praktisi Pendidikan)

Semakin banyaknya permasalahan yang terjadi di dunia terkhusus di Indonesia, menjadi bukti bahwa pemerintah belum mampu meriayah urusan umat dengan baik. Di tengah kondisi pandemi yang tak kunjung menemui titik terang, berbagai masalah senantiasa datang menambah penderitaan rakyat. Derita itu mulai dari banyaknya rakyat yang terpapar virus covid-19, semakin meningkatnya pengangguran akibat dampak PHK, bahaya miras yang senantiasa mengancam jiwa, kini frasa agama dalam ranah pendidikan terancam tiada.
Carut-marutnya kehidupan rakyat terjadi tentu karena pemerintahnya menerapkan aturan yang sesuai dengan sisi keuntungan dirinya secara pribadi dan golongannya. Tanpa memperhatikan keselamatan nyawa dan jiwa rakyatnya. Hal ini tentunya terjadi karena sistem kapitalis sekuler yang diterapkan pemerintah. Sehingga aturan agama dipinggirkan, aturan Sang Pencipta dicampakkan perwujudannya.

Padahal jelas selama kurun waktu 14 abad ketika islam diterapkan sebagai aturan dan sistem pemeritahan negara, kesejahteraan dan keberkahan Allah Swt. hadirkan. Keadilan diterapkan dengan merata tanpa pandang bulu, baik untuk muslim maupun non muslim. Rakyat memiliki perisai yang mampu melidungi harta, kehormatan, jiwa, dan raganya.

Pemerintahan itu dikenal dengan sebutan Khilafah Islam. Khilafah adalah kepemimpinan yang sifatnya umum bagi kaum muslim secara keseluruhan di dunia untuk menegakkan hukum syara’ serta mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Pemimpin dalam khilafah dikenal sebagai khalifah, imamah, ulil amri, atau amirul mukmin.

Jelas bahwa menegakan khilafah merupakan hal yang wajib. Kewajiban menegakkan Khilafah didasarkan pada Al-Quran, Al-Sunnah dan Ijmak Shahabat dengan perintah yang tegas. Allah Swt berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ
‟Wahai orang-orang yang beriman taatilah Allah, taatilah Rasul dan ulil amri di antara kalian.” (QS Al-Nisa’: 59)

Pada ayat ini Allah Swt. memerintahkan kita menaati ulil amri. Ayat ini mengandung petunjuk (dalalah), keberadaan ulil amri adalah wajib dan wajib pula mengadakan ulil amri (Khalifah) dan ‎sistem syar’inya (Khilafah).‎ Adanya ulil amri memiliki konsekuensi tegaknya hukum syara, dan diam tidak mewujudkan ulil  amri membawa konsekuensi lenyapnya hukum syara’.

Allah Swt berfirman, pada ayat yang lain,
فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ
“Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan, janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.” (QS al-Maidah: 48).

وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ
“(Dan) hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka dengan apa yang telah diturunkan Allah, dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu mereka.  Dan waspadalah engkau terhadap fitnah mereka yang hendak memalingkan engkau dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu.” (QS. al-Maidah: 49).

Seruan Allah Swt. merupakan seruan untuk Rasulullah dan umatnya untuk memutuskan perkara menurut apa yang Allah turunkan saja. Maka hendaknya kaum muslim mewujudkan khalifah/penguasa setelah Rasulullah saw. untuk memutuskan perkara sesuai wahyu Allah Swt.(Al-Qur’an).

Perintah dalam ayat ini bersifat tegas karena yang menjadi objek seruan adalah kewajiban. Hal ini mengindikasikan makna yang tegas bahwa penguasa yang memutuskan perkara di tengah umat Islam setelah wafatnya Rasulullah adalah Khalifah, dan sistem pemerintahannya adalah Khilafah.

Di dalam Al-Qur’an  terdapat ratusan ayat yang berhubungan dengan masalah politik (kenegaraan) secara langsung, dan terkait dengan ekonomi, hukum pidana atau perdata, hubungan kemasyarakatan, akhlak, kenegaraan, militer, muamalat, hudud, jinayat, menarik zakat, seruan jihad, dan lain-lain. Berdasarkan ayat-ayat di atas kita bisa menyimpulkan, bahwa kaum muslimin telah  diwajibkan untuk menerapkan hukum berdasarkan Al-Qur’an dan al-Sunnah.

Kewajiban untuk menerapkan seluruh hukum Islam tidak akan mungkin terwujud dengan sempurna, tanpa keberadaan imam/penguasa. Maka mengangkat seorang penguasa merupakan kewajiban bagi terlaksananya hukum-hukum syariat secara menyeluruh dan sempurna. Penguasa yang dimaksud adalah Khalifah dan sistem pemerintahannya adalah Khilafah Islamiyya ala Minhaj an-Nubuwwah.

Wallahu’alam bishawab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar