Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Pesta Miras Membuat Pemuda Bablas

Sabtu, 13 Maret 2021



Oleh: Rindoe Arrayah

             Miras, hingga kini sebenarnya tidak pernah membawa kemanfaatn bagi kehidupan manusia. Justru, banyak keburukan yang akan menimpa manakala miras dibiarkan bebas untuk dikonsumsi oleh masyarakat tanpa melihat batas usia.

Sebanyak 17 pemuda dari beberapa desa di Lamongan digerebek dan diamankan polisi saat menggelar pesta miras jenis tuak di sebuah warung Desa Sumberwudi, Kecamatan Karanggeneng.

Mereka diamankan oleh anggota Polsek Karanggeneng lantaran dinilai mengganggu ketentraman masyarakat seusai pesta miras di warung milik Sripin (60) di Desa Sumberwudi, Kecamatan Karanggeneng.

"Mereka kami amankan, setelah mendapatkan laporan dari warga terkait adanya pesta miras di warung milik Sripin," kata Kapolsek Karanggeneng Iptu Raksan pada Surya.co.id, Minggu (tribunnews.com, 21/2/2021).

Sungguh, fakta yang mengiris hati. Pemuda sebagai generasi harapan suatu bangsa, ternyata masih disibukkan dengan aktifitas yang melalaikan. Mau dibawa kemana, jika nasib para pemuda lebih suka bercengkerama dengan miras?

Dari Abdullah bin Amr bin ‘Ash RA, Nabi SAW bersabda: “Minuman keras itu induk dari hal-hal yang buruk, siapa yang meminumnya maka shalatnya tidak akan diterima selama empat puluh hari, jika ia meninggal sedangkan minuman keras berada di dalam perutnya, maka ia akan meninggal dunia dalam keadaan jahiliyyah.” [Hadis ini diriwayatkan oleh imam Ath-Thabarani)

Pelajaran yang terdapat di dalam hadis:

Pertama, dengan kecaman dan ancaman siksa di balik mengkonsumsi sesuatu yang dapat memabukkan, serta klaim yang dilontarkan oleh Rasulullah bahwa khamr/miras sebagai sumber malapetaka dan keburukan hidup, kiranya kita sebagai umatnya betulbetul wajib menjauhkan diri dan keluarga serta orangorang dekat dan sekitar kita, bahkan saudara kita seiman dan se-Islam dari barang terlaknat tersebut.

Kedua, sebab terlaknatnya khamr/miras dan hukum haramnya, merembet kepada beberapa unsur yang menjadi jaringannya, yaitu: orang yang mengkonsumsinya, penuangnya, penjualnya, pembelinya, pembuatnya, yang dibuatkan, pembawa (pengedarnya), penadahnya (penerima), serta penikmat hasilnya. Sebagaimana dalam hadis sahih riwayat Ahmad dari sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar.

Ketiga, setiap keburukan akan membuahkan aura keburukan yang lain, sebagaimana pula kebaikan akan menghasilkan aura kebaikan yang lain, dan demikian seterusnya.

Keempat, Rasulullah menjuluki khamr/miras dengan julukan “umul khobaist“ sebagaimana riwayat di atas, mengingat betapa banyak buah perbuatan buruk lainnya yang dihasilkan oleh khamr tersebut. Seperti permusuhan, saling membenci, melupakan Allah, meninggalkan shalat, berzina, membunuh, mencuri, merampok, menipu dan sebagainya.

5. Rasulullah memberikan peringatan dan larangan keras kepada umatnya (khususnya kawula muda yang menjadi incaran utama para perusak moral karena rentan terpengaruh budaya kotor dan rusak) agar tidak melakukan hal- hal yang dapat menyeret mereka melakukan sesuatu yang dapat merusak akal sehat mereka dengan cara menghindar dari persahabatan rusak moral, ajang-ajang hiburan, pestapora yang bernuansakan aura setan, perayaanperayaan berworo-woro hawa Iblis, dan sejenisnya.

Terlebih lagi mengkonsumsi khomer/miras (minuman keras). Hal ini beliau lakukan karena mengharap kehidupan umatnya sejahtera, dipenuhi dengan rahmat dan rida Allah baik di dunia maupun kelak di akhirat.

Hal ini, ditegaskan pula dalam Al-Qur’an :

Pertama, Allah menegaskan adanya kemanfaatan (yang dimaksud duniawi), namun juga pada dasarnya merupakan kerugian ukhrawi.

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah, “Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar daripada manfaatnya.” [Al-Baqoroh 2: 219]
Kedua, khomer/miras, rijsun artinya perbuatan yang dimurkai (Allah) dan termasuk perbuatan setan. Menurut Sa’id ibnu Jubair, arti rijsun ialah dosa. Sedangkan menurut Zaid ibnu Aslam disebutkan bahwa makna rijsun ialah jahat, termasuk perbuatan setan. “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji, termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kalian mendapat keberuntungan”. [Al-Maidah, ayat 90]

Keberadaan miras yang begitu bebas diedarkan, tidak lain karena sistem kapitali-sekuleris yang saat ini diterapkan dalam aturan kehidupan menjadikan azas manfaat sebagai landasan saat beraktifitas tanpa melihat halal dan haramnya. 

Problematika yang muncul akibat miras ini hanya bisa terselesaikan dengan diterapkannya syari’at Sang Maha Pembuat Kehidupan. Terbukti, dalam kurun waktu 14 abad lamanya manusia hidup di bawah naungan syari’at-Nya penuh dengan keberkahan serta kemuliaan.

Wallahu a’lam bishshowab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar