Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Rojab, Bulan Runtuhnya Perisai Pelindung Wanita

Jumat, 12 Maret 2021



(Oleh : Ummu Hanif, Pemerhati Keluarga Dan Sosial)

Selama lebih dari 1300 tahun, perempuan hidup di bawah naungan dan bimbingan Khilafah. Hak-hak mereka terpenuhi. Kemiskinan teratasi, martabatnya terlindungi. Kemuliaan dan kehormatannya pun terjaga. Hal ini tidak hanya dirasakan oleh perempuan muslim tapi juga oleh perempuan nonmuslim. Kebahagiaan dan kesejahteraan dirasakan oleh seluruh masyarakat.

Kemajuan kaum perempuan pada masa Islam diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan tercatat dalam sejarah. Pada masa kenabian terlihat dari majlis-majlis yang dipimpin Rasululloh SAW. Rasulullah SAW, melibatkan tak hanya para sahabat, tetapi juga sahabiyĆ¢t. Perempuan masa itu mendapatkan hak untuk menimba ilmu, mengkritik, bersuara dan berpendapat. Atas permintaan muslimah pula Rasulullah SAW memimpin satu majlis terpisah khusus muslimah agar muslimah berkesempatan lebih banyak berdialog dan berdiskusi dengan beliau. Subhanalloh!

Sejarah pun mencatat betapa istri rasulullah dan banyak para perempuan di masa Rasulullah pun patut dijadikan teladan. Ummul Mukminin Khadijah r.a. adalah salah satu kampium bisnis pada masa itu. Sementara Aisyah r.a. adalah perawi hadis dan banyak memberikan fatwa karena kecerdasannya. Sumayyah binti Hubath, orang yang pertama-tama masuk islam yang juga Isteri Yasir r.a, demi mempertahankan keimanannya dia menyatakan penentangannya terhadap orang-orang kafir yang menyiksanya, beserta suami dan anaknya, hingga beliau dan suaminya menemui syahid.

Kiprah kaum muslimah tidak berhenti di sana. Ketika islam menyebar ke penjuru dunia, jejak langkah istri-istri rasulullah saw dan para sahabiyah ini terus berlanjut. Di Eropa, perempuan Islamlah yang menjadi perintis kebangkitan kaumnya. Perempuan barat berhutang banyak kepada perempuan Andalusia yang mengajari mereka berbagai ilmu kehidupan. 
Kaum laki-laki di barat juga belajar banyak tentang cara menghormati kaum wanita dari orang-orang Islam bangsa Arab. Gustav Le Bonn dalam bukunya, La Civilasation des Arabes (hlm. 428), menulis, “Dari orang-orang Arablah penduduk Eropa mengadopsi sifat menghormati wanita, sebagaimana dari orang-orang Arab pula mereka mempelajari kecakapan memacu kuda.”
Le Bonn menambahkan, kepentingan perempuan dalam kemajuan (civilization) bangsa Arab nyata dilihat dengan mengetahui jumlah kaum perempuannya yang terkenal dengan keluasan ilmu dan pengetahuannya. Ilmuwan Barat lainnya, Van Kreimer menulis dalam bukunya bahwa orang-orang Arab Cordovalah yang mencontohkan kepada Eropa betapa kaum pria menghormati kaum wanita. Dari orang Arablah orang Eropa belajar dan mengetahui cara menghormati kaum wanita.

Contoh lain di India, yaitu Mahrunnisa’, istri Emir Saliem yang dikenang melalui bangunan megah Taj Mahal. Suaminya menggelari Mahrunnisa’ dengan sebutan Nur Mahal. Rakyat menggelarinya Nur Jehan atau Nurud Dunya (cahaya alam). Nur Mahal sangat ahli dalam soal hukum, pandai bahasa Arab dan Persia. Ia pun sering keluar istana untuk menginspeksi kelengkapan tentara, menerima kedatangan panglima-panglima perang, para penguasa dan bahkan gemar berkuda untuk berburu. Ketika suaminya ditawan musuh dalam suatu peperangan, Nur Mahal berhasil membebaskannya. Lantaran itu namanya disanjung dan dipuji di seluruh India, bahkan dunia.

Dunia pun mencatat, islam sampai pula ke Indonesia. Terlahirlah perempuan-perempuan Indonesia yang pernah merasakan hidup di bawah naungan khilafah. Mereka perempuan-perempuan hebat yang turut berjuang mempertahankan kemerdekaan Aceh dari serangan Belanda. Sebut saja Cut Nyak Dien, Tengku Fakinah, Cut Mutia, Pecut Baren, Pecut Meurah Intan, dan Cutpo Fatimah dari Aceh. Tengku Fakinah, selain ikut berperang juga adalah seorang ulama-wanita. Di Aceh, kisah wanita ikut berperang atau menjadi pemimpin pasukan perang bukan sesuatu yang aneh. Bahkan jauh-jauh hari sebelum era Cut Nyak Dien dan sebelum Belanda datang ke Indonesia, Kerajaan Aceh sudah memiliki Panglima Angkatan Laut wanita pertama, yakni Malahayati. 

Kini, atas nama emansipasi, banyak perempuan yang meninggalkan kodratnya. Hal ini menjadikan banyak kaum hawa justru kehilangan jati dirinya yang menjunjung tinggi moral yang berdasarkan nilai-nilai agama. Mereka lupa akan kemuliaannya sebagai perempuan yang berpegang teguh pada nilai agama. Mereka pun lupa bahwa untuk berprestasi di ajang daerah, nasional atau internasional itu bisa tanpa mengorbankan jati dirinya sebagai umat beragama.

Ironis! Perempuan Indonesia tak terkecuali muslimahnya saat ini kita lihat belum termuliakan. Perempuan-perempuan barat yang doyan mengeksploitasi tubuh justru yang banyak dijadikan sumber inspirasi kaum perempuan masa kini. Memang perempuan makin terdidik, tapi keterdidikan kaum perempuan masa kini bukan malah menjadikannya semakin pintar menjalankan kewajiban, melainkan disibukkan menuntut hak-haknya. Perempuan sibuk berkiprah menyamai laki-laki, baik di bidang politik, ekonomi, hukum, pendidikan, sosial dan sebagainya.

Padahal, fakta berbicara, presiden perempuan pun pernah di Indonesia, tapi keadaan tetap sama. Bahkan ketika kuota partisipasi perempuan di politik dipatok 30 persen pun, tidak lantas membuat perempuan bersuka cita berbondong-bondong memenuhinya. Ini karena citra politik yang kotor, penuh intrik dan kolutif, yang bertentangan dengan fitrah perempuan yang lemah-lembut dan penuh kasih. Kalau pun gayung bersambut, kuota 30 persen tercapai ternyata masalah malah jadi tambah runyam.

Maka melalui bukan mulia ini, sudah seharusnya para wanita kembali mengatur strategi. Sungguh perjuangan hakiki adalah terterapkannya islam di muka bumi. Karena dengan islam kaffahlah, kemuliaan wanita yang dicita – citakan akan tercapai.

Wallahu a’lam bish-shawwab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar