Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Rojab, Momentum Menerapkan Sejarah Islam

Jumat, 12 Maret 2021



Oleh : Ummu Hanif
(Pemerhati Keluarga Dan Sosial)

           Kementerian Agama meminta guru madrasah pengampu mata pelajaran Sejarah dan Kebudayaan Islam (SKI) untuk menyampaikan materi secara komprehensif. Hal ini perlu dilakukan agar siswa memiliki pandangan yang utuh atas fakta-fakta sejarah Islam yang terjadi. (www.kemenag.go.id, 26/2/2021)

Kebijakan tersebut seolah menjadi secercah harapan untuk memoles pelajaran sejarah yang konon menjemukan. Agar para pelajar muslim lebih mencintai sejarah agamanya.

 Pengajaran SKI yang komprehensif diharapkan mampu memberikan pemahanan yang utuh bagi generasi. Namun, ternyata wacana pembelajaran sejarah Islam secara komprehensif ini bertujuan untuk membentuk generasi muda yang moderat. 

Hal ini sebagaimana yang disampaikan  oleh Muhammad Zain, Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah di Tangerang. “Kebesaran Islam di Spanyol dan berjaya selama 750 tahun karena para ulama dan muslim Spanyol kala itu mempraktekan Islam yang inklusif, terbuka dan toleran,”. (dikutip dari www.kemendag.go.id, 25/02/2021)

Pernyataan tersebut secara tidak langsung menilai bahwa pelajaran sejarah Islam selama begitu intoleran, tertutup, eksklusif yang menyebabkan seseorang menjadi radikal sehingga butuh moderasi Islam melalui pengkajian mapel SKl yang komprehensif.

Sungguh, sebuah alur berpikir yang terbalik. Untuk menerapkan pengajaran sejarah yang komprehensif justru harus menyampaikan sejarah secara keseluruhan, tidak ada yang ditutupi dan dimanipulasi. Termasuk harus menyampaikan tentang Khilafah yang menjadi bagian dari perjalanan sejarah kaum muslimin. Tentu menjadi hal yang kontradiktif, karena ternyata Kemenag sendiri mempersoalkan ketika ada naskah ujian penilaian akhir semester (PAS) pelajaran Fiqih kelas XII yang memuat materi tentang Khilafah. (www.jpnn.com, 4/12/2019). 

Pembahasan Khilafah di mapel SKI pun diubah dengan istilah dinasti dan ottonam. Selain itu gambaran keagungan peradaban Khilafah sebagai mecusuar dunia tak dijelaskan secara utuh dan lebih rinci. Sebaliknya, masa kelam sebagian Khalifah senantiasa dimunculkan. Sehingga Khilafah terkesan menjadi sesuatu yang penuh keburukan. Sedangkan Mustafa Kamal Attaturk yang merupakan penghianat Kekhilafan Islam begitu dikesankan sangat hebat bak seorang pahlawan, bahkan dijuluki bapak pembaharuan Turki. 

Dari sini bisa disimpulkan betapa upaya musuh Islam untuk semakin menjauhkan generasi muslim dari sejarahnya sendiri begitu masif. Upaya manipulasi sejarah Islam sangat nyata dan terang-terangan dalam kasus ini. Mereka berusaha menyeret para pemuda harapan bangsa agar tak lagi memahami Islam secara kaffah. Mereka berharap agar generasi muslim tak lagi mengenal Khilafah sebagai bagian dari ajaran Islam yang layak untuk diterapkan dan diperjuangkan. Para pemuda sengaja dialihkan perhatiannya agar tidak merasa menjadi bagian dari sejarah Kekhilafahan yang mulia. Padahal Khilafah sudah terang dicontohkan penerapannya oleh Rasulullah dan Khulafur Rasyidin. Kekuasaan Islam dalam bingkai Khilafah telah menjadi mercusuar dunia selama 13 abad lamanya. Sebaliknya peradaban Eropa begitu gelap dan buruk di masa itu.
Musuh Islam telah melancarkan serangannya kepada kaum muslimin, yakni politik adu domba. 

Muslim yang berupaya memperjuangkan penerapan Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara dikatakan radikal lalu dihadapkan kepada saudara muslim yang telah terpengaruh dengan pemikiran moderat dan liberal ala Barat. Islam toleran dan ramah telah disematkan kepada segolongan muslim yang termakan dengan propaganda mereka.
Maka, kini saatnya menyampaikan kepada generasi tentang sejarah Islam secara komprehensif. Terlebih saat ini masih berada di bulan rojab, yang mana salah satu kejadian besar bagi kaum muslimin, selain isro’ mi’roj nya Rosulullah, adalah moment hancurnya Khilafah. 

Melalui moment rojab kita hadirkan sejarah yang jujur, objektif dan valid, sehingga anak-anak bangsa ini semakin memahami betapa agung peradaban Islam. Bahwa kemuliaan peradaban Islam tidak lain tersebab diterapkannya seluruh syari’at Islam dalam naungan Khilafah. 

Dan mempelajari sejarah Islam, tidak sebatas mengenang peristiwa masa silam. 

Wallahu a’lam bish-shawwab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar