Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Sekulerisme dalam Sistem Pendidikan

Sabtu, 13 Maret 2021




Oleh : Maya Dhita
Pemerhati Masalah Sosial

Tidak adanya diksi agama dalam Visi Pendidikan Indonesia 2035, menuai banyak kritikan. Wakil Ketua MUI, Anwar Abbas yang menyatakan bahwa hal itu bertentangan dengan Pasal 29 ayat 1. Sebelumnya, Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhamaddiya juga mempertanyakan apakah hal tersebut sebuah kealpaan atau kesengajaan, dan kenapa malah memasukkan diksi budaya di dalamnya.

Tak ingin polemik berkembang semakin liar, Nadiem Makarim memastikan bahwa Kemendikbud akan merevisi draf Peta Jalan Pendidikan 2020-2035 dan memuat diksi agama secara eksplisit. (www.nasional.tempo.go.id,10/03/2021)

Beberapa kebijakan yang telah dikeluarkan oleh Menteri Pendidikan memang menimbulkan polemik. Kemendikbud seolah ingin meletakkan agama dalam ranah pribadi, dan membangun kerangka budaya nasional di atasnya.

Menafikkan peran agama dalam sistem pendidikan di tengah masyarakat yang mayoritasnya muslim merupakan hal yang tidak dapat diterima. Meskipun pemerintah mengarus moderasi sedemikian kuat, tidak dapat dipungkiri bahwa agama merupakan pedoman hidup yang kuat untuk membentuk norma dan kepribadian generasi muda ditengah masyarakat.

Pemisahan agama dari kehidupan merupakan ide dasar sekulerisme. Paham yang lahir dari rasa takut akan sistem teokrasi yang otoriter.

Sekulerisme dan liberalisme yang telah berkembang dan menjangkiti pemikiran generasi inilah yang bertanggung jawab atas rusaknya moral generasi muda. Para penerus bangsa memiliki mental yang rapuh sehingga mudah sekali terpengaruh hal-hal negatif yang mampu menghancurkan masa depan.

Pengaruh negatif ini memang sengaja dihembuskan dengan kuat di negara-negara berkembang dengan tingkat warga beragama yang tinggi. Hal ini bertujuan untuk memupus kebangkitan Islam pada generasi muda. Era kebangkitan Islam inilah yang menjadi momok bagi eksistensi dominasi Barat di dunia.

Banyaknya kenakalan remaja seperti mengkonsumsi narkoba, tawuran, seks bebas, kriminalitas, menjadi hal yang biasa kita temui. Hal ini mencerminkan lemahnya moral dan metal generasi. Lalu hendak dibawa kemana nasib generasi muda kita jika agama tidak dijadikan pedoman dalam berkependidikan.

Islam mengatur dengan sangat lengkap bagaimana cara mendidik anak. Mulai dari lingkungan keluarga. Dari saat hendak menikah, lalu menikah, hamil hingga melahirkan. Dari bayi hingga usia baligh. Semua diatur dengan sempurna. Sehingga generasi yang tumbuh dari keluarga yang menerapkan syariat Islam ini benar-benar memiliki kepribadian yang kuat dan taat pada syariat.

Yang kedua adalah dari lingkungan masyarakat. Tiap individu memiliki kesadaran untuk beramal makruf nahi mungkar. Sehingga setiap hal buruk yang muncul tidak akan sempat berkembang. Semua warga saling mendukung untuk membangun suasana ketaatan kepada Allah Swt.

Yang ketiga adalah dari pemerintahan. Negara akan menjamin pendidikan setiap anak mulai dari tingkat pendidikan terendah hingga perguruan tinggi. Negara juga mengatur kurikulum pendidikan Islam dimana akidah menjadi mata pelajaran wajib yang harus diikuti oleh semua siswa. Kurikulum pendidikan Islam merupakan kurikulum yang sahih dan ideal diterapkan di semua kondisi. Sehingga tidak akan ada lagi pergantian kurikulum berkali-kali seperti yang terjadi di negeri ini.

Ketiga aspek ini saling berkaitan. Dan akan semakin mudah diterapkan dalam suatu negara dimana seluruh aturan yang digunakan didasarkan syariat Islam. Tidak hanya pendidikan, tapi juga ideologi, ekonomi, politik, sosial budaya, pertahanan dan keamanan. Sehingga permasalahan yang terselesaikan tidak bersifat parsial semata.

Begitu sempurnanya syariat Islam. Mengatur semua aspek kehidupan. Kesejahteraan umat akan diraih saat menerapkannya secara utuh dalam bingkai daulah Islam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar