Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Tak Cukup Dicabut Perpresnya, Miras Harus Dilarang Total

Sabtu, 13 Maret 2021



Oleh: Faizah Khoirunnisa' Azzahro (Aktivis Dakwah)

Tak hanya sekali dua kali, Perpres mengundang kegaduhan. "Ketok dulu palunya, jika ada ribut, tinggal cabut aja", begitulah kira-kira prinsip rezim. Setelah menuai kontra dan penolakan dari sebagian besar elemen masyarakat, terutama ormas keagamaan (MUI, NU, dan Muhammadiyah) dan beberapa pemerintah daerah, akhirnya Jokowi mencabut Perpres No.10 tahun 21 tentang Bidang Usaha Penanaman Modal. Bagian yang paling disorot adalah pasal 2 ayat 1 yang mengatur investasi miras di empat provinsi, yaitu Bali, Sulawesi Utara, NTT, dan Papua. (www.bbc.com, 3-3-2021)

Kalangan umat Islam jelas menolak, karena miras bertentangan dengan Islam karena hukumnya haram. Penolakan juga datang dari Pemda Papua, karena Perpres ini bertentangan dengan peraturan setempat yang melarang miras. Sementara itu, Gubernur NTT dan pihak yang pro beranggapan bahwa investasi di bidang usaha miras berpotensi meningkatkan ekonomi.

Dengan pencabutan Perpres 10/21 , buzzer rezim mengambil kesempatan untuk pencitraan bahwa Rezim sangat demokratis, mau mendengarkan masukan, bukti tidak diktator, dan pujian-pujian lain. Padahal sikap ini bukan prestasi, melainkan bukti bahwa regulasi tentang investasi dibuat tanpa melalui kajian yang komprehensif. Justru akan aneh jika aturan tetap dijalankan, karena tidak dilandasi kajian yang kuat.

Kapitalisme Biang Miras Dilegalkan

Sudah banyak penelitian yang membuktikan bahwa minuman keras alias miras lebih banyak dampak buruknya. Bahkan di Barat, dikatakan bahwa miras adalah pemicu tertinggi tindakan kriminalitas seperti pembunuhan dan pemerkosaan. Tak jauh beda dengan disana, di Indonesiapun, sebagain besar pelaku kriminalitas melakukan tindak kejahatan karena di bawah pengaruh alkohol. Ditambah lagi secara medis, minuman alkohol sangat merusak organ-organ tubuh.

Meskipun dari berbagai sisi memiliki dampak negatif, sayangnya miras tak menjadi musuh di sistem kehidupan hari ini. Demokrasi kapitalisme menganggap miras sebagai hal legal meskipun dalam peredaran nya tetap ada aturan umur, lokasi penjualan, dan sebagainya. Harusnya dengan bahaya miras yang luar biasa, tidak perlu ada aturan peredaran, karena yang lebih fundamental adalah miras tidak boleh dilegalkan sampai kapanpun. Tentu kapitalisme tidak akan mau melarang total, karena miras dipandang sebagai komoditas yang menghasilkan untung besar. Asalkan menghasilkan cuan, kapitalisme tak segan menerabas halal-haram, baik-buruk, bahkan bahaya. Jika perusahaan produsen miras memiliki profit bagus, kapitalis sekuler akan melihat itu sebagai peluang investasi yang menggiurkan.

Tak cukup disitu, besaran pajak yang ditarik dari konsumsi miras juga tinggi, mengingat di zaman ini banyak orang terutama pemuda minus aqidah dan moral yang menjadikan drug and drink sebagai gaya hidup. Ada permintaan ada penawaran, itulah prinsip ekonomi yang sedang dijalankan kapitalisme. Pada komoditas yang tinggi permintaan, pajak selalu mengikuti.

Islam Menjaga Akal

Sebelum manusia melakukan penelitian dan survey tentang dampak buruk miras, Islam lebih dulu melarang atau mengharamkannya. Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman dalam Surat Al-Maidah ayat 90 yang artinya "Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan."

Sebagai muslim kita harus yakin dibalik larangan Allah dan aturanNya pasti ada hikmah demi kebaikan manusia itu sendiri. Islam dengan kesempurnaan aturannya bertujuan untuk menjaga manusia dari berbagai hal yang bisa menyebabkan kekacauan dalam hidup. Pengharaman khamr adalah bentuk penjagaan akal yang Islam lakukan.
Sebagai misi utama dalam penciptaan, ibadah juga tidak bisa berjalan jika miras dikonsumsi karena dapat menghilangkan kesadaran. Sholat misalnya, tidak boleh dilakukan dalam kondisi mabuk, seperti di firman-Nya dalam surat An-Nisa ayat 43 yang artinya "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan....".

Tak hanya melarang dzatnya, negara yang menerapkan Islam juga akan melarang aktivitas produksi, distribusi hingga promosi. Sanksi tegas juga akan diberlakukan bagi siapa saja yang melanggar, tak peduli khamr mendatangkan cuan. Adalah kewajiban negara Islam untuk melindungi rakyatnya dari kerusakan akal dan akhlak yang dipicu miras.

Perasaan stres dan depresi atas masalah hidup yang sering menjadi alasan mengonsumsi alkohol, bisa dicegah karena Negara Islam hadir untuk mensejahterakan masyarakatnya. Penerapan Islam dalam sistem ekonomi, kesehatan, pendidikan, kemananan, sosial dan lainnya, sudah Allah jamin akan memberikan solusi atas segala permasalah hidup. Jika Allah sudah berjanji, muslim wajib percaya sebagai wujud keimanan. Tak sekedar janji, karena dulu pernah ada bukti penerapannya saat Khilafah eksis di dunia. Jadi, sekarang pilihan ada ditangan kita, mau solusi yang tak solutif ala kapitalisme atau solusi Islam yang sudah ada jaminan dari Allah dan bukti keberhasilan penerapan nya? Konsekuensi dari pilihan itu tentu kita sendiri yang akan merasakan dampaknya.

Wallahua'lam bi ash-shawwab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar