Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Tentang Rasa Memiliki

Selasa, 16 Maret 2021

 



Oleh: Tati Nurhayati


"Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tapi amalan yang kekal lagi Shalih adalah lebih baik pahalanya di sisi Rabbmu serta lebih baik untuk menjadi Harapan." (TQS. Al Kahfi : 46)


Ada seseorang bernama Tsa'labah, hidupnya sangat miskin dan selalu berdoa kepada Allah memohon supaya ia diberikan kekayaan. Atas izin Allah Tsa'labah menjadi orang kaya raya dengan memiliki banyak ternak. Ada kambing, unta dan lain sebagainya sehingga waktunya sibuk mengurusi kekayaan. Ia lupa kepada Allah. Jika sudah waktunya sholat, ia selalu menunda-nunda. Saat bersedekah ia takut hartanya akan berkurang. Tsa'labah menjadi budak harta, dipenjara oleh hartanya karena rasa memiliki terhadap terhadap harta.


Berbeda dengan kisah sahabat Abdurrahman bin Auf radhiallahu anhu yang sangat Dermawan dan ahli ibadah. Bukan hartanya saja yang dinafkahkan melainkan dirinya pun diserahkan untuk Islam. Terdapat 20 bekas luka dalam tubuhnya waktu perang Uhud.


Sudah menjadi sunnatullah bahwa manusia senang terhadap harta benda, mendapatkan kekuasaan, serta memiliki pengaruh untuk melindungi kekayaan dan melipatgandakannya, memuaskan nafsu, sombong dan membanggakan diri. 


Dari dua kisah di atas, keduanya sama-sama Allah berikan harta melimpah, tapi berbeda dalam amal yang dilakukan. Abdurrahman bin Auf berhasil mengarahkan rasa memiliki terhadap harta berdasarkan Islam yang diyakininya. Rasa memiliki yang demikian menjelma menjadi energi yang mendorongnya melakukan ketaatan. Inilah rasa memiliki yang sejatinya sesuai firman Allah  di surat at Tahrim ayat 6 yang artinya, "Hai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakunya adalah manusia dan batu. "


Sementara Tsa'labah menjadi orang yang merugi, ia terlena akan harta duniawi. Lupa bahwa hartanya takkan ia bawa ke hari akhir. Justru malah, ia harus siap mempertanggungjawabkan semua hartanya. 


Semoga kita bisa seperti Abdurrahman bin Auf, meletakkan materi di tangan, bukan di hati. Juga bisa menjalankan apa yang Allah perintahkan dan Rasul contohkan . 


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar