Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Vandalisme Mushola, Adakah Solusinya?

Minggu, 28 Maret 2021



Oleh Ummu Afifah
(Praktisi Al hijamah & Rukiyah Syar'iyah Faiqoh)

Lagi-lagi kita dikejutkan aksi dari  vandalisme (pengerusakan) atas sebuah mushola. Aksi ini merupakan peristiwa yang terus berulang dibeberapa daerah di Indonesia. Kalau kita amati sebenarnya aksi ini bisa menimbulkan reaksi yang dapat memicu sebuah bentolan dan dapat memicu kemarahan kaum muslim.

Peristiwa ini dikhawatirkan dapat memicu aksi main hakim sendiri dari masyarakat setempat. Seolah ini sebuah drama yang memang sengaja dimainkan untuk melihat aksi masyarakat.

Aksi andalisme kali ini terjadi di sebuah Mushola Thoyibah yang telah berusi 66 tahun yang tepatnya beralamat di Jln. Depatan Baru, kelurahan 28 Ilir, kecamatan IB 2 Palembang yang telah hangus terbakar sekitar pukul 05.00 wib dan tanpa meninggalkan sisa meskipun hanya Al- Qur'an atau surat Yasin ( Sripo.com/Kamis/11/03/021).

Sebelum terjadi kebakaran ini, beberapa waktu sebelumnya telah terjadi pencurian atas barang yang ada di dalam mushola tersebut dan wargapun sudah melaporkan kejadian tersebut kepada pihak yang berwajib.

Jika kita amati peristiwa pencurian, pembakaran bahkan di Palembang juga pernah terjadi aksi pelemparan kotoran manusia di sebuah masjid dikawasan Gandus, tepatnya masjid Jami' (sabtu/28/10/2019) pukul 06.00 wib. Artinya sudah pernah terjadi aksi-aksi vandalisme yang berulang yang nyaris memicu kemarahan warga sekitar. Kejadian ini warga merasa tidak aman dan tidak miliki kenyamanan dalam hal beribadah.

Sementara jika kita melihat betapa pentingnya sebuah mushola atau masjid yang digunakan untuk warga berkumpul untuk beribadah apalagi saat memasuki bulan Ramadan warga berbondong-bondong untuk melaksanakan salat tarawih. Setiap sore kebiasaan warga bergiliran membagikan ta'jil untuk berbuka bagi warga sekitar ataupun jika ada musyafir yang kemalaman untuk pulang ke rumah untuk dapat berbuka bersama keluarga.

Betapa kecewanya warga 28 Ilir yang harus mencari tempat untuk beribadah selama Ramadan, juga tempat salah Jumad. Keberadaan masjid di tempat ini  tidak hanya sekedar untuk beribadah namun fungsi masjid atau mushola sering kali digunakan warga untuk bermusyawarah.

Ketidaknyamanan dan ketidakamanan ini seharusnya diselesaikan oleh negara yang memiliki kewajiban memberikan keamanan, kenyamanan, keadilan bagi rakyatnya . Hingga para pelaku vandalisme mampu dijerat hukum yang setimpal atas perbuatannya agar dapat membuat jera bagi pelaku ataupun tidak akan ada lagi pelaku vandalisme.

Adakah pernah kita mendengar atau membaca buku sejarah perjalanan dakwah Rasulullah Saw ketika beliau berdakwah dan ketika beliau memimpin rakyat di kota Madinah bahwa beliau mefungsikan masjid yang beliau bangun adalah untuk mempersatukan kaum muslimin khususnya kaum Muhajirin (yang merupakan para pendatang dari Mekkah yang hijrah untuk mencari kedamaian dan ketenangan di Madinah) dan juga kaum Ansor (yaitu kaum muslim yang ada di Madinah).

Rasulullah saw. juga membangun serambi-serambi di luar masjid untuk menpung orang-orang yang tidak mempunyai rumah agar dapat berlindung dari panas dan dinginnya cuaca saat itu.

Usai pemangunan masjid  Rasulullah Saw. kemudian mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan kaum Ansor. Ibnu Ishaq berkata," Rasullah saw. mempersudarakan sahabat-sahabatnya dari kaum Muhajirin dan kaum Ansor.

Beliau bersabda:" Bersaudara lah kalian karena Allah Swt dua orang, dua orang. Beliau kemudian memegang tangan Ali bin Abi Thalib, seraya berkata : "Ini saudaraku." Ibnu Hisyam mencatat  beberapa sahabat yang dipersaudarakan: Hamzah bin Abdul Muthalib (Singa Allah), singa RasulNya dan paman beliau, dipersaudarakan dengan Zaid bin Haritsah (mantan budak beliau), Ja'far bin Abi Thalib (pemilik dua sayap dan menjadi burung di Surga),  dipersaudarakan dengan Mu'az bin Jabal (Saudara Bani Salimah), Abu Bakar as Shidiq dipersaudarakan dengan Kharijah bin Zaid bin Abu Zuhair, Umar bin Al Khattab dipersaudarakan dengan Utbah bin Malim ( saudara Bani Salim bin 'Auf bin Amr bin 'Auf bin Al kharaj. dan lain-lain semua dipersaudarakan karena Allah Swt.

Begitulah awal dari hijrahnya Rasulullah saw. yang pertama kali dilakukan beliau adalah membangun masjid kemudian mempersudarakan antara kaum Muhajirin dan kaum Ansor. Adapun Rasulullah saw. selaku kepala negara juga mulai menyusun struktur dan fungsi beberapa pilar negara/pemerintahan yang dipresentasikan dengan  pengangkatan para sahabatnya di masing-masing bidang yang telah ditetapkan beliau.

Hal ini juga untuk membuktikan bahwa agenda yang disembunyikan Rasulullah saw. dari pandangan banyak orang ( termasuk dari tokoh-tokoh kafir Quraisy Makkah) dalam aktivitas Thalab an nushrahnya (mencari dukungan) kepada suku-suku yang lain yang memiliki kekuatan dan perlindungan, adalah mendirikan negara Islam, membangun masyarakat baru dan peradapan baru yang berlandaskan asas yang selama ini beliau dakwahkan di Makkah, yaitu Islam.

Dari sini dapat kita lihat bagaimana upaya Rasulullah saw. memfungsikan masjid  bukan sekedar tempat beribadah mahdhah (Ritual) semata namun masjid difungsikan untuk seluruh aktivitas dalam membangun negara.

Artinya tidak pernah Rasullulah saw. mencontohkan bahwa masjid hanya difungsikan seperti saat ini dan larangan untuk memfungsikan sebagia kegiatan politik. Politik dalam Islam adalah riayah su'unil ummah (mengurusi urusan ummat). Kali sekarang fungsi masjid hanya digunakan pada aktivitas ibadah saja ini sangat berbahaya karena pemahaman ini tidak lepas dari sistem sekulerisme (memisahkan aturan agama dari kehidupan) yang berasal dari ideologi kafir barat.

Meskipun masjid difungsikan sebagai seluruh agenda politik namun semuanya tidak lepas dari nilai-nilai spritual yaitu membentuk kepribadian rakyatnya dengan penuh ketaqwaan kepada Allah dan setiap kali mereka melakukan aktivitas akan tumbuh Idra'silabillah (kesadaran pada Allah Swt).

Nilai-nilai spiritual dalam menjalankan aktivitas sehari-hari inilah yang menjadi landasan yang kokoh bagi negara Islam yang telah dicontohkan Rasulullah saw. Pancaran cahaya Islam dan kemuliaan Islam yang terlihat pada diri kaum muslim membuat banyaknya orang-orang kafir masuk kedalam Islam secara berbondong-bondong.

Maka jelas-jelas saat ini ketika terjadi vandalisme dan adanya sistem yang menjadi kiblat kaum muslim saat ini telah Allah Swt ingatkan didalam firmanNya.
Allah Swt berfirman:
  "Kehidupan dunia dijadikan terasa indah dalam pandangan orang-orang yang kafir, dan mereka menghina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu berada di atas mereka pada hari Kiamat. Dan Allah memberi rezeki kepada orang yang Dia kehendaki tanpa perhitungan." (TQS. al-Baqarah [2]:  212).

Maka gambaran dari ayat ini menyatakan kehidupan dunia ini serasa indah padahal setiap manusia akan dimintai pertanggung jawaban dihadapan Allah Swt di Yaumil hisab. Maka sudah selayaknya kita mengikuti ajaran yang telah Rasulullah Saw sampaikan melalui wahyu Allah Swt, sebagaimana  firman-Nya:
"Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu." (TQS. al-Baqarah [2]: 208). 

Ini menunjukkan bahwa umat Islam wajib bersyariat secara kaffah (menyeluruh) tidak memilah dan memilih.

Begitulah Rasullah saya. memberikan contoh keamanan dan perlindungan jiwa bagi warga negaranya. Hingga terlihat pancaran keimanan dan keamanan dalam perlindungan Islam dalam sebuah daulah islamiyah di Madinah.
Wallahu a'lam bishawab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar