Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Varian Baru Corona : Dimanakah Peran Negara?

Sabtu, 13 Maret 2021



Oleh Firda Umayah

Varian baru virus corona Inggris, atau yang disebut virus Kent - B.1.1.7 - sudah masuk Indonesia. Hal yang paling ditakuti oleh para ilmuwan adalah virus akan bermutasi hingga menyebabkan penyakit yang lebih parah, melewati kemampuan tes untuk mendeteksi, atau vaksinasi tidak bisa memberi perlindungan. (kompas.com/04/03/2021).

Menanggapi fakta tersebut, Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta masyarakat tak khawatir dengan keberadaan mutasi virus corona B117 yang sudah terdeteksi masuk ke Indonesia. Ia mengklaim varian virus ini tak lebih berbahaya dari sebelumnya (cnnindonesia.com/04/03/2021).

Bagaimanapun juga, munculnya varian baru virus Corona jelas meresahkan masyarakat. Sebab, virus corona yang saat ini masih terjadi saja telah membawa ribuan jiwa melayang. Bagaimana jika terdapat virus baru yang justru menyebabkan hal yang lebih parah? Sungguh, masyarakat sejatinya membutuhkan solusi atas hal ini.

Meskipun pemerintah telah menyatakan agar masyarakat tidak khawatir, namun pernyataan ini tak dapat begitu saja dipercaya oleh masyarakat. Sikap apatis masyarakat terhadap pemerintah bukanlah tanpa alasan. Pasca diberlakukannya "new normal life" nyatanya virus ini bukan semakin menghilang justru  semakin subur terjadi. Hal ini didukung dengan terjadinya gelombang kedua serangan virus yang kembali menaikkan rating penderita covid-19 di bulan-bulan akhir tahun 2020.

Padahal, jika ditangani dengan baik dan tepat, wabah pandemi bisa ditekan jumlah penderitanya dan tidak berlarut keberadaannya. Sebab, bagaimanapun juga negara merupakan pihak yang paling bertanggungjawab terhadap kepengurusan rakyat. Negara harus melakukan usaha maksimal dalam melindungi rakyatnya sehingga mendapatkan dukungan penuh dari rakyat.

Seperti dalam penanganan wabah pada masa Khulafaur Rasyidin. Saat terjadi wabah di Damaskus pada masa kepemimpinan Khalifah Umar Bin Khatab sekitar tahun 18 hijriyah, Umar menerapkan karantina di wilayah yang terkena wabah. Keputusan ini Umar terima setelah Umar bin Khatab yang hendak mengunjungi Damaskus dicegat oleh pejabat setempat. 

Hal ini juga sesuai dengan apa yang telah Rasulullah SAW sabdakan,

إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا

Artinya: "Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu." (HR Bukhari).

Usaha yang dilakukan pada pemerintahan Islam tidak sekedar melakukan karantina diwilayah terjadinya wabah. Jaminan untuk mendapatkan kesehatan juga dilakukan pemerintahan Islam. Pemberian jaminan kesehatan ini tidak hanya diberikan ketika wabah terjadi. Namun, ini merupakan salah satu kebutuhan dasar yang harus dipenuhi negara bagi seluruh warga negara.

Sehingga, ketika terjadi wabah, masyarakat dalam pemerintahan Islam akan mendukung penuh kebijakan negara. Masyarakat juga mengetahui bahwa pemerintahan Islam telah berusaha secara maksimal untuk melindungi mereka. Hal ini nampak dari aksi nyata bentuk kepengurusan yang pemerintah lakukan. 

Seperti halnya upaya pemerintah untuk memberikan edukasi terhadap kesehatan, menciptakan suasana kehidupan masyarakat yang bersih dan sehat, pelayanan kesehatan secara cuma-cuma, pendirian rumah sakit, kemudahan akses bagi warga dalam mempelajari ilmu kesehatan sehingga lahirlah para ahli bedah dan kedokteran. Inilah salah satu yang menyebabkan sistem pemerintahan Islam dapat berlangsung lama lebih dari 13 abad. Adanya seorang pemimpin yang amanah dalam mengemban tanggung jawab mengurusi rakyat membuat rakyat percaya dan yakin terhadap segala keputusan yang diberikan. Wallahu a'lam bishowab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar