Recent Posts

Varian Baru Virus: Mana Tanggung Jawab Negara?

Sabtu, 13 Maret 2021



Oleh Nayla Iskandar


Maraknya varian baru yang terus bermunculan di banyak negara bukan hal yang mengejutkan bagi para ilmuwan. Bagaimanapun jenis virus selalu berubah dan berkembang. Ditambah lagi, penyebaran virus yang tidak terkendali di seluruh dunia membuat virus berkesempatan untuk terus bermutasi.

Virus varian baru yang muncul di Indonesia membuat masyarakat khawatir. Terutama karena virus ini disebut lebih mudah menular. Para ilmuwan mengatakan bahwa sistem kekebalan manusia masih dapat menangani varian baru B117. Penularan virus varian baru ini sama persis dengan virus sebelumnya. Itu artinya, tindakan pencegahan penyebaran varian baru B117 sama seperti sebelumnya.

Kendati cara penularan varian B117 sama, tetapi mutasi pada varian ini membantu memasuki sel manusia dengan lebih mudah. Berarti jika seseorang menghirup udara yang mengandung virus, maka orang tersebut akan mudah terinfeksi.

Perubahan yang mengkhawatirkan dari varian baru ini adalah lonjakan protein spike yang ada pada permukaan virus (berupa paku-paku dipermukaan dan menjadi pintu masuk virus ke sel) lebih mudah menempel di sel. Inilah yang membuat orang lebih mudah terinfeksi saat terpapar virus corona SARS-CoV-2 dengan varian B117. Oleh sebab itu semua perlu lebih keras menerapkan protokol kesehatan 5M (memakai masker, menjaga jarak 1-2 meter, mencuci tangan, menjauhi kerumunan dan mengurangi mobilitas) sambil menunggu vaksin.

Menurut Direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular Dr. Anthony Fauci, bahwa data terbaru dari Inggris menunjukkan bahwa B117 tampak sedikit lebih ganas. Artinya berpotensi menyebabkan penyakit yang lebih serius.
(kompas.com/04/03/2021)

Sungguh aneh, para ahli menyatakan kalau varian baru corona (B117) lebih bahaya dan lebih mematikan. Namun Presiden Joko Widodo malah meminta masyarakat untuk tidak khawatir. Menurut dia, masyarakat cukup menjalankan protokol kesehatan seperti mencuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak. Jokowi menambahkan bahwa upaya itu akan dibarengi percepatan vasinasi. (cnnindonesia.com/04/03/2021)

Epidemiologi Griffith University, Australia, Dicky Budiman menjelaskan virus corona B117 bisa menyebar di Indonesia karena kemampuan testing dan tracing yang tidak memadai. Selain itu, isolasi karantina di Indonesia juga dinilai terlalu sebentar. Karantina di Indonesia hanya beberapa hari itupun tidak ketat bila dibandingkan dengan Italia. Indonesia seharusnya merujuk pada negara-negara yang berhasil nengendalikan pandemi. Pemerintah dan warga fokus memperketat 5M, yakni memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas. Jika tidak menerapkan 5M, hanya 3M saja, maka itu berarti namanya menggali lubang kubur sendiri. Maskerpun tidak boleh hanya satu lapis. Masker kain minimal seharusnya dua lapis, 3 lapis lebih baik. Masker bedah pun harus ditambah lapisanya. Kemudian jaga jarak harus minimal dua meter.
(detik.com/04/03/2021)

Hal ini menunjukan bahwa pemerintah mempunyai kinerja buruk dalam mengantisipasi virus. Dampaknya kepercayaan publik terhadap pemerintah semakin rendah. Memang sejak awal munculnya wabah pemerintah sudah gagap menanganinya. Pemerintah malah lebih mementingkan bisnis para kapital. Pariwisata dibuka, Tenaga Kerja Asing (TKA) dibiarkan masuk ke Indonesia dengan alasan ekonomi.

Inilah buah dari sistem kapitalisme. Semua keputusan senantiasa dilihat dari untung rugi secara materi. Sehingga nyawa rakyat dinomor duakan. Negara seolah lepas tangan dari tanggung jawabnya terhadap urusan rakyat. Faktanya sudah satu tahun lebih wabah corona belum berhasil diatasi, ditambah lagi dengan munculnya varian baru B117 dari Inggris. Dengan munculnya varian baru B117 bisa jadi banyak rumah sakit akan kewalahan menanganinya. Sebab virus varian baru ini lebih cepat menular dan lebih mematikan.

Padahal seharusnya, nyawa rakyat menjadi pilihan utama sebagaimana sabda Nabi "Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak. " (HR Nasai, AtTirmadzi dan Al Baihaqi)

Hanya Islamlah yang bisa menyelesaikan seluruh permasalahan, termasuk masalah pandemi. Dalam pandangan Islam, pemimpin sebagai penggembala dan rakyat adalah yang digembalakan. Seorang penggembala mempunyai tanggung jawab atas gembalaannya. Abdullah bin Umar mengatakan bahwa Nabi bersabda " Ketahuilah bahwa setiap dari kalian adalah pemimpin dan setiap dari kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya, seorang pemimpin umat manusia adalah pemimpin bagi mereka dan ia bertanggung jawab dengan kepemimpinannya atas mereka (HR Abu Dawud)

Pemimpin seharusnya bertanggung jawab terhadap kebutuhan hidup rakyatnya, menjamin ketersediaan tempat tinggal rakyatnya, menjaga kesehatan rakyatnya dan menjadikan rakyat hidup tenang dan nyaman. Sehingga rakyat akan mencintai dan mempercayai pemimpinnya. Begitu sebaliknya pemimpinpun mencintai dan tidak gampang curiga terhadap rakyatnya. Sebagaimana sabda Nabi " Sebaik-baiknya pemimpin kamu adalah mereka yang kamu cintai dan merekapun mencintaimu, kamu menghormati mereka dan mereka pun menghormati kamu.. "
"...Pun sejelek-jeleknya pemimpin kamu adalah mereka yang kamu benci dan mereka pun benci kepada kamu. Kamu melaknat mereka dan mereka pun melaknatmu. " (HR Muslim)

Pemimpin juga sebagai perisai bagi rakyatnya. Dia akan melindungi rakyatnya dari segala ancaman apa pun. Termasuk melindungi rakyat dari wabah. Seorang pemimpin akan mengutamakan nyawa rakyatnya dibandingkan apa pun termasuk kepentingan ekonomi.

Sejak awal munculnya virus yang pertama dilakukan oleh negara adalah melakukan lockdown agar virus tidak menyebar. Sehingga tenaga kerja asing tidak boleh masuk seenaknya. Kedua: dilakukan tes masal agar bisa memisahkan antara yang sakit dan yang sehat. Ketiga: rakyat diwajibkan mematuhi protokol kesehatan 5m, sesuai arahan para ahli. Keempat: meningkatkan imunitas rakyat dengan makan makanan yang bergizi. Kelima: mengedukasi masyarakat akan bahayanya virus. Keenam: menjamin rakyat agar untuk hidup sehat. Negara akan memenuhi apa pun kebutuhan rakyat.

Semua kebijakan pemerintah akan didukung penuh oleh rakyatnya sebab mereka saling mencintai semata-mata karena Allah. Begitulah pemimpin yang bertanggung jawab terhadap rakyatnya. Contoh tersebut bisa dilihat dari masa kekhilafah Umar bin Khatab. Umar melundungi rakyatnya dan membuat semua kebijakan sesuai dengan syariat Islam. Sosok pemimpin seperti ini tidak akan muncul dari sistem demokrasi, tetapi akan muncul dari sistem yang shahih yakni sistem Khilafah.

Waallahua'lam bhisowab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar