Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Agama adalah Pondasi dan Kekuasaan adalah Penjaganya

Jumat, 09 April 2021



Oleh Venny Swandayani
Pelajar dan Aktivis Dakwah

Di bawah sistem sekuler yang mencampakkan aturan agama (syari'ah Islam) sebagaimana terjadi saat ini, banyak orang belomba-lomba menimbulkan fitnah bahkan berlomba-lomba meraih kekuasaan. Padahal kekuasaan sendiri banyak dijadikan alat untuk kepentingan sendiri dan golongan. Sebaliknya, kepentingan dan kemaslahatan rakyat sering diabaikan dan ditinggalkan. 

Ambisi kekuasaan merupakan bagian dari keinginan hawa nafsu saja. Banyak orang yang ingin mewujudkan ambisi mereka atas kekuasaan. Hal itu sangat jelas, misalnya dalam perihal Pilkada. Dan tampak pula dalam kontestasi pilpres. Sedangkan jauh-jauh hari Rasulullah saw. telah mensinyalir ambisi kekuasaan ini. Beliau pun memperingatkan umatnya agar hati-hati terhadap akibatnya.

"Sungguh kalian akan berambisi terhadap kepemimpinan (kekuasaan), sementara kepemimpinan (kekuasaan) itu akan menjadi penyesalan dan kerugian pada Hari Kiamat kelak. Alangkah baiknya permulaannya dan alangkah buruknya kesudahannya." (HR al-Bukhari, an-Nasa’i dan Ahmad)

Karena itulah Rasulullah saw. memberikan contoh untuk tidak memberikan kekuasaan atas jabatan kepada orang yang meminta kekuasaan/jabatan tersebut. Beliau pernah bersabda:

"Kami demi Allah, tidak akan mengangkat atas tugas ini seorang pun yang memintanya dan yang berambisi terhadapnya." (Ibnu Hibban, Ibn al-Jarud dan Abu ‘Awanah)

Berdasarkan hadis di atas, kekuasaan dan jabatan itu jelas merupakan amanah. Amanah itu sendiri atau jabatan itu benar-benar akan menjadi penyesalan dan kerugian di akhirat kelak bagi pemangkunya. Kecuali, jika dia berlaku adil, mendapatkan kekuasaan dengan benar serta menunaikan kekuasaannya dengan amanah. 

Tentu menjadi penguasa yang amanah itu tidak semudah yang dibayangkan ada ketentuan dan sifat-sifat yang melekat pada pemimpin yang adil. 

Pertama: menjalankan hukum-hukum Allah Swt. dalam pelaksanaan ibadah umat, muamalah, hukum-hukum ekonomi Islam, hukum peradilan dan pidana Islam, maupun hukum-hukum politik luar negeri. 

Kedua: menunaikan amanah ri'ayah, yakni memelihara urusan umat seperti menjamin pemenuhan kebutuhan pokok, menjamin pemenuhan pendidikan, kesehatan maupun keamanan. 

Kekuasaan juga harus dibangun di atas pondasi agama, yakni Islam, dan ditujukan untuk menjaga Islam dan syari'ahnya serta memelihara urusan umat. 
Hikmah yang dapat kita ambil adalah jangan mengharapkan kekuasaan yang tidak sesuai  dengan apa yang dicontohkan Rasulullah saw. Yakni, kekuasaan untuk menerapkan syari'ah Islam secara kaffah (menyeluruh) dan memelihara urusan dan kemaslahatan umat, serta menjaga Islam dan melindungi umat Islam. 

Hanya kekuasaan semacam ini yang akan mendatangkan kebaikan dan keberkahan bagi seluruh umat manusia. 

Wallahu a'lam bi ash-shawwab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar