Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Akan Jadi Medical Tourism, Bali “Mesam-Mesem”?

Kamis, 08 April 2021






Oleh: Maulinda Rawitra Pradanti, S.Pd
(Lingkar Studi Muslimah Bali)

Satu tahun sudah Bali dirundung pilu karena kemerosotan ekonomi. Kemerosotan ini dikarenakan tidak adanya turis-turis yang datang ke Bali karena wabah covid-19 masih merajalela. Sehingga sektor pariwisata sangatlah terpuruk. 

Bali memang sangat mengandalkan perekonomian dari sektor pariwisata. Mulai dari keindahan pantainya, gunungnya, desa adatnya, kebudayaannya, dan lain-lain. Keindahan inilah yang dimanfaatkan masyarakat untuk mengelola dan menjadikannya sebagai sumber pendapatan mereka.

Namun kondisi ini akan berbeda ketika wabah melanda Bali, dan tentunya masyarakat yang hanya mengandalkan sektor pariwisata juga sangat kelimpungan. Inilah yang menjadikan pamor Bali menurun di mata dunia.

Oleh sebab itu, beberapa bulan terakhir sejak Sandiaga Uno menjabat sebagai Menparekraf yang baru, ia langsung mencanangkan beberapa program untuk mendongkrak perekonomian di Bali.

Beberapa diantaranya yaitu, penerapan pembayaran digital di Bali (10/8/20, wartaevent.com), travel bubble di Bali (13/2/21, jurnalbali.com), dan yang terakhir adalah wacana untuk membuat medical tourism di Bali (2/4/21, travelkompas.com).

Cukup menarik perhatian, mengapa Bali bisa diwacanakan sebagai medical tourism internasional layaknya Singapura, Korea atau Penang? Benarkah tujuannya memang untuk pengobatan dan wisata alami? Jika benar terjadi, akankah Bali kembali “mesam-mesem” di hadapan dunia?

Medical tourism adalah destinasi wisata berbasis pengobatan. Layaknya destinasi wisata yang lainnya, tentu tujuannya adalah menambah pemasukan daerah yang dihasilkan dari kunjungan para wisatawan. Namun yang membedakan dengan destinasi wisata yang lainnnya, medical tourism berfokus pada aspek kesehatan atau pengobatan.

Melalui kerjasama antara Kemenparekraf, Universitas Udayana, dan Pemda Bali, Sandiaga berharap penuh dengan keterlibatan semua pihak. Berkaitan juga dengan adanya pembangunan rumah sakit bertaraf Internasional layaknya ada di negara-negara maju (2/4/21, travelkompas.com).

Jika dilihat dari segi geografis, Bali memang cocok dijadikan sebagai destinasi wisata kesehatan (medical tourism). Terlebih lagi yang ingin melakukan terapi healing, yang melibatkan ketenangan jiwa dan kesehatan mental, tentu ini juga akan melibatkan desa wisata yang masih alami dan juga pengobatan tradisional. 

Dengan adanya medical tourism di Bali, diharapkan masyarakat Indonesia yang ingin berobat ke luar negeri tak perlu lagi pergi ke luar negeri. Cukup ke Bali saja. Selain berobat, medical tourist (sebutan bagi orang yang berobat sekaligus ingin berwisata), juga dapat melihat keindahan alam Bali.

Tentunya, jika wacana ini benar-benar terjadi, Bali harus siap-siap dengan segala sarana dan prasarananya termasuk dana pembangunannya. Jika sudah perkara dana, ini sangatlah sensitif. Karena memang faktanya, negara ini masih kelimpungan dengan hutang yang menggunung.

Disinilah celah bagi para kapitalis untuk berbondong-bondong menyisipkan uangnya dengan dalih investasi dan penanaman modal dalam bidang pariwisata. Padahal di balik itu, ada misi penjajahan oleh para korporatokrasi. Sehingga perlu dikaji ulang, apakah wacana ini benar-benar akan membuat Bali “mesam-mesem” karena ekonominya akan bangkit atau justru akan “menangis bombay” karena ekonominya semakin terpuruk.

Berkaitan dengan medical tourism, perlu dipecah menjadi dua pembahasan, yaitu pengobatan dan destinasi wisata. Islam memandang pengobatan sebagai salah satu sunnah yang dianjurkan oleh Rasulullah dalam hal menyembuhkan suatu penyakit yang diujikan kepada seseorang.

Berobat menjadi salah satu ikhtiar seseorang agar tubuh yang ia miliki bisa kembali menjadi sehat dan bisa melaksanakan amal sebagaimana biasanya. Tentu ikhtiar berobat ini haruslah dibarengi dengan sikap tawakkal kepada Allah sebagai penyembuh segala penyakit. Karena sejatinya apa saja yang datangnya dari Allah, maka Allah juga yang akan mengambilnya jika Allah berkehendak.

Beliau bersabda, "Berobatlah kalian, sesungguhnya tidaklah Allah menurunkan penyakit melainkan Allah turunkan juga obatnya kecuali satu, penyakit tua." (HR Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad).

Adapun yang berkaitan dengan destinasi wisata sebagai sumber pendapatan negara, ini berbeda 180 derajat dengan kebijakan Islam. Islam memandang pariwisata sebagai ajang dakwah dan taqarrub ila Allah, bukan sebagai sumber pendapatan negara.

Pariwisata digunakan untuk melihat keindahan alam kemudian memuji Allah atas segala ciptaanNya di jagat raya ini. Dengan berpariwisata, umat akan semakin tunduk kepada Allah dan semangat melaksanakan aturan Allah.
Adapun sumber negara bisa didapatkan dari fai, kharaj, kepemilikan umum, dan sedekah. Dari pos-pos tersebut, sudah pasti akan mampu memenuhi kebutuhan negara karena pengelolaan yang baik. Inilah yang membuat Negara Islam kuat dalam ekonomi, meski sektor pariwisata sedang lemah.

Oleh karena itu, yang harus dilakukan suatu daerah atau Negara adalah mengelola pariwisata bukan untuk dijadikan sebagai sumber pendapatan negara, karena jika demikian, maka ekonomi akan labil ketika sektor pariwisatanya terpuruk.

Wallahu a’lam bish showab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar