Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Amanah Diabaikan, Kekuasaan dalam Belenggu Ambisi

Selasa, 06 April 2021



Oleh Nazwa Hasna Humaira
Pelajar dan Aktivis Dakwah

Amanah kekuasaan memang sedemikian memukau bagi siapapun. Status sosial, gelimang kemewahan dan kehormatan seakan menjadi magnet tersendiri yang tak bisa ditolak. Berbagai cara dilakukan agar kekuasaan dapat dimiliki, dengan diberi atau meminta jabatan bukan hal yang asing di era saat ini. Terlebih lagi sistem yang ada di tengah masyarakat membuka peluang itu semakin besar, yakni sistem kapitalisme sekuler.

Sistem sekuler yang mengabaikan aturan agama dalam kehidupan, dijadikan alat meraih materi secara besar-besaran demi kepuasan pribadi dan kelompok.  Halal haram tak lagi diindahkan apalagi memikirkan kemaslahatan umat. Inilah bukti saat ambisi dunia mendominasi  keuntungan materi dikejar, agama diabaikan.

Kondisi tersebut harusnya menjadi bahan renungan bagi umat Islam agar mampu menjadikan hawa nafsu tidak tunduk pada ambisi dunia.  Hawa nafsu yang seharusnya kita jaga bukan malah selalu dituruti keinginannya. Allah Swt. sudah memberi petunjuk kepada kita selaku hamba-Nya untuk dapat mengendalikan hawa nafsu.

وَمَاۤ اُبَرِّئُ نَفْسِيْ ۚ اِنَّ النَّفْسَ لَاَ مَّا رَةٌ بِۢا لسُّوْٓءِ اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيْ ۗ اِنَّ رَبِّيْ غَفُوْرٌ رَّحِيْ

"Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. Yusuf 12: 53)

Menuruti hawa nafsu dengan melakukan segala cara untuk dapat memperoleh keinginan, tanpa memperdulikan keridhaan Allah Swt. adalah hal yang tak sesuai dengan syara'. Rasulullah saw. pun senantiasa mengingatkan umatnya untuk berhati-hati terkait amanah dan kekuasaan. 

Menurut Ash- Shan'ani di dalam Subul as Salam menjelaskan bahwa nabi saw. melarang meminta al-imarah (Kepemimpinan/Kekuasaan). Dengan alasan kekuasaan itu dapat membuat orang menjadi kuat dan memiliki kekuatan. 

Hal ini acapkali dijadikannya sebagai wasilah balas dendam kepada orang yang ia anggap musuh serta cenderung kepada keburukan. Karena itulah Rasul saw. memberikan contoh dengan tidak memberikan kekuasaan atau jabatan kepada orang yang meminta kekuasaan atau jabatan tersebut. Beliau pernah bersabda:

"Kami, demi Allah, tidak akan mengangkat atas tugas ini seorang pun yang memintanya dan yang berambisi terhadapnya" (HR Muslim, Ibnu Hibban, Ibn al-Jarud dan Abu ‘Awanah).

Sebenarnya, dalam memegang kekuasaan atau jabatan itu merupakan amanah dari Allah Swt. Amanah yang tak dilaksanakan dengan baik di dunia, kelak ia akan menyesal di akhirat. Sementara Penguasa memiliki kewajiban, yaitu memelihara urusan rakyat dengan menjalankan hukum-hukum syari'ah dalam mengatur pemerintahannya.

Pemimpin yang adil itu adalah yang dicintai oleh Allah, menjalankan hukum-hukumnya, dan menunaikan manahnya sebagai pemimpin. Allah Swt. berfirman: 

"Sungguh Allah menyuruh kalian memberikan amanah kepada orang yang berhak menerimanya, juga (menyuruh kalian) jika menetapkan hukum di antara manusia agar kalian berlaku adil." (TQS an-Nisa’ [4]: 58)

Rasul saw. pun memperingatkan agar tidak mengangkat pejabat orang yang tidak layak, sementara ada yang lebih layak, atau lebih mengutamakan orang yang disukai dan orang dekat (HR Ahmad dan al-Hakim). 

Kekuasaan yang dikehendaki oleh Islam adalah yang digunakan untuk melayani Islam, sebagaimana yang diminta oleh Rasul saw. kepada Allah Swt.

"Berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong" (TQS Al-Isra’ [17]: 80).

Kekuasaan yang dapat melayani Islam dan kaum muslim dari bahaya kaum kafir, hanyalah jika kita menerapkan syari'ah secara kaffah dalam kehidupan, mengurusi umat, memelihara urusan, menjaga Islam, dan melindungi umat. Dengan dijalankannya sistem Islam dalam kehidupan, maka akan mendatangkan keberkahan yang dirasakan oleh seluruh alam semesta.
 
Kekuasaan inilah yang masih kaum muslim perjuangkan untuk dapat diwujudkan dan kembali tegak dalam kehidupan. Tak lain tak bukan ialah kekuasaan di tangan khilafah yang akan mendatangkan keberkahan dalam pelaksanaannya.

Wallahu a'lam bi ash-Shawwab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar