Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Bom Bunuh Diri Stigmatisasi Agama

Rabu, 07 April 2021


Oleh : Rani Haryati
(Ibu Rumah Tangga)

Lagi lagi kasus bom bunuh diri terjadi di Indonesia, insiden kali ini berada di Gereja Katedral Makassar pada hari minggu 28 Maret 2021 pagi, diduga pelaku merupakan salah satu kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD).

Liputan6.com.Jakarta Menurut Kapolda Sulawesi Selatan Irjen Polisi Merdiansyah menyebut jenis bom di gereja katedral makassar, Sulawesi selatan diduga telah menggunakan bom high explosive atau berdaya ledak tinggi, jumlah korban luka akibat ledakan bom bunuh diri Gereja Katedral Makassar bertambah, polisi menyebut 14 orang mengalami luka - luka akibat terkena serpihan bom.

Akibat insiden tersebut ketua umum pusat Muhammadiyah Haedar Nasir menegaskan agar tidak mengatakan bom tersebut terhubung dengan agama dan golongan umat tertentu, umat beragama tertentu, bisa jadi aksi bom Makassar menjadi adu domba kepada rakyat Indonesia, Haedar juga meminta Semua pihak lain tidak memperkeruh keadaan atas kejadian bom bunuh diri di kota Makassar tersebut.


Semenjak terjadinya kasus bom marriot amerika dan indonesia di Bali 12 Oktober 2002, insiden bom bunuh diri sering berulang, kasus - kasus yang sama seperti bom thamrin,  kerusuhan di mako brimob, ledakan di gereja dan markas kepolisian di surabaya, juga kasus bom bunuh diri di makassar.pada saat bom itu menjadi ketakutan di masyarakat yang luar biasa. 

Sejak bom bali dan bom marriot stigmatisasi terorisme yang dilekatkan pada islam militan, islam fundamentalis, islam radikal, mencuat ke publik dan pelaku di identikan dengan simbol keislaman semacam cadar, celana cingkrang, juga keluarga aktivis ajaran Islam. 

Kasus bom bunuh diri yang sering berulang seolah menjadi pengingat sekaligus sebuah justifikasi bahwa aksi terorisme adalah masalah bagi bangsa dan dunia, jika masalah besar harusnya penguasa memberantas secara tuntas, sehingga kasus bom bunuh diri tidak berulang dan membuat keresahan di masyarakat. 

Densus 88 pun yang menangani terorisme, justru memunculkan masalah yang serius, karena banyak pelanggaran oleh densus 88, penegakkan hukum seharusnya menerapkan prinsip keadilan keterbukaan, juga berdasarkan bukti yang kuat dan menghormati hak asasi manusia.

Hanya Sistem islam yang merupakan warisan dari Rasulullah saw terbukti mampu menjadi solusi semua permasalahan yang disebabkan perbuatan manusia yang melampaui batas, sebab syariat islam diturunkan sebuah sistem kehidupan yang mengatur semua aspek manusia baik untuk individu,  masyarakat,  maupun negara.
Wallahu a'lam bishawwab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar