Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Bukan Karena Penampilan, Siapapun Bisa Menjadi Teroris Karena Sebuah Tindakan!

Sabtu, 03 April 2021



Oleh : Suci Hardiana Idrus 

Beberapa waktu lalu, Indonesia dikejutkan peristiwa terkait bom bunuh diri yang dilakukan oleh sepasang suami isteri di Makassar, Sulawesi Selatan. 

Melansir dari tirto.id, pada Selasa, 30 Maret, 2021, Teror bom bunuh diri yang terjadi Jalan Kajaolalido, Kecamatan Ujung Pandang, Kota Makassar itu bikin geger. Indonesia lagi-lagi diserang teror.
Sebanyak 19 orang jadi korban, termasuk Kosmos. Potongan tubuh L dan istrinya berceceran di sekitar lokasi. Motor mereka juga hancur.

Selang waktu beberapa hari disusul peristiwa yang serupa, yakni adanya upaya penyerangan yang menerobos Mabes Polri oleh seorang wanita berusai 25 tahun.

Melansir dari Kompas.com, pada Kamis, 1 April, 202,  Masyarakat digemparkan dengan aksi penyerangan Mabes Polri, Jakarta Selatan, oleh seseorang bersenjata pada Rabu (31/3/2021) sore.
Rekaman CCTV yang disiarkan Kompas TV memperlihatkan seorang perempuan berpakaian hitam dan kerudung biru mengacungkan senjata dan melepaskan beberapa tembakan di area kompleks Mabes Polri.

"Tak lama berselang, pelaku penyerangan berhasil dilumpuhkan dengan timah panas polisi. Peluru yang menembus jantungnya mengakibatkan pelaku tewas di tempat.
Hasil penyelidikan polisi menunjukkan bahwa pelaku adalah seorang perempuan muda bernama Zakiah Aini (25)."

Istilah radikalisme dan terorisme bukan lagi isu yang baru di Indonesia. Sayangnya framing buruk itu senantiasa mengkambinghitamkan satu agama, yakni Islam. Sejak awal isu ini muncul dipermukaan, media sekuler siang dan malam tak berhenti menggiring opini tersebut, sampai Islam benar-benar terlihat menakutkan dan umat muslim terlihat jahat. Lihatlah, berapa banyak orang yang takut saat berpapasan dengan wanita berkerudung panjang dan bercadar. Tentu isu ini merupakan masalah besar bagi umat Islam yang berusaha teguh menjalankan perintah agama (syariah) secara menyeluruh (kaffah) atau yang sering disebut "fundamentalis" bagi kaum sekuler.

Melansir dari unmabanten.ac.id, pada Sabtu, 16 November 2019, Radikalisme dan terorisme sesungguhnya adalah fitnah terhadap Islam dan umat. Karena jika ada terorisme maka Islam mendapatkan stigma yang buruk di masyarakat, dan korban terorisme seringkali adalah umat Islam sendiri.

"Radikalisme sesungguhnya terjadi pada pihak-pihak yang tidak mengamalkan agama secara kaffah, justru mengikuti cara-cara setan. Sedikitnya terdapat tiga indikator radikalisme, yakni: melakukan politisasi agama, memiliki pemahaman agama yang tidak utuh (misalnya menjadi takfiri atau mengkafirkan yang bukan kelompoknya), dan anti terhadap tasauf/thoriqoh. “Bagaimana jiwa orang itu mau tenang kalau tidak bertasauf?” Demikian disampaikan oleh Kombes Pol R Ahmad Nurwahid dari Densus 88 Anti Teror dalam Seminar Nasional bertajuk Terpapar Radikalisme: Dialog Antar Peradaban yang dihelat di Kampus Pascasarjana UNMA Banten di Serang.

Dua berita teror yang ramai perbincangannya di jagat maya juga disadari adanya upaya untuk melanjutkan kembali uforia islamophobia di tengah-tengah masyarakat. Karena dengan menyebarkan ancaman dan ketakutan di masyarakat, potensi perpecahan dan kebencian antar umat beragama tidak mungkin bisa dibendung. Yang satu merasa tersudutkan dan yang satu merasa terintimidasi sehingga masyarakat sibuk saling menuduh dan mencari pembenaran. Lantas siapa yang diuntungkan dalam peristiwa tersebut? Tentu bukan umat Islam ataupun umat agama lainnya.

Tatkala kekuatan persatuan itu hancur, porak-poranda, maka kekuatan lain akan mengambil alih seakan-akan dengan adanya kekuatan baru ini akan melindungi dan menyelamatkan bangsa dan umat. Namun pada dasarnya hanyalah bertujuan untuk mengambil keuntungan dari masyarakat yang bercerai-berai. Oleh karena itu, umat harus cerdas dalam berpikir, mencerna setiap berita yang tersebar, karena dengan adanya suatu kejanggalan dan pola yang sama, serta bagaimana proses penyebaran opini itu dilakukan, meniscayakan adanya pula suatu rekayasa. Persoalan radikalisme maupun terorisme tidak selamanya menjadi peristiwa yang murni terjadi karena sebuah pemahaman yang sesat dalam memahami ajaran agama. Namun, kemungkinan bisa terjadi disebabkan adanya skenario besar dan diatur secara sistematis oleh pihak-pihak tertentu. Bisa jadi mereka yang membenci agama, membenci Islam, dan membenci adanya kerukunan dan persatuan antar umat beragama, serta memakai isu ini untuk tujuan-tujuan licik lainnya.

Nampaknya kaum-kaum liberal bersemangat melancarkan opini-opini buruk tentang sebagian ajaran Islam, yakni Jihad beserta sistem pemerintahan dalam Islam (Khilafah). Sehingga akibat dari kurangnya pemahaman yang benar mengenai keduanya, kaum muslim maupun non muslim menyimpan kesalahpahaman terhadap konsep jihad maupun Khilafah. Pada akhirnya muncullah kebencian terhadap syariat Islam. Dengan perkataan sadis, mereka mencaci maki wanita muslimah yang berhijab lebar dan   muslimah yang bercadar, celana cingkrang hingga persoalan jenggot. Mereka kerap kali mendapatkan teriakan sebagai "teroris-radikal" di ruang publik sekalipun.

Tidak ada cara lain untuk merubah stigma buruk yang dialamatkan kepada Islam selain kembali pada al-Qur'an dan Sunnah sebagai jalan dalam memahami syariah-syariah yang Allah turunkan. Penerapannya pun harus sesuai yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW agar tidak melenceng jauh dan sesat. Sehingga terwujud individu, masyarakat dan negara yang berjalan di atas perintah  Ilahi.

Wallahu'a'lam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar