Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Generasi Dalam Pusaran Prostitusi

Senin, 05 April 2021



Oleh : Ummu Arrosyidah

 

Hotel bercat putih merah dengan tiga lantai di kawasan Kreo, Larangan, Tangerang, digerebek aparat kepolisian pada 16/03/2021. Aroma prostitusi telah lama tercium dari hotel bintang dua tersebut. Dalam penggerebekan, polisi menemukan 30 kamar terisi para pria hidung belang bersama korban yang rata-rata bocah berusia belasan tahun.

Fakta miris tersebut bukanlah kali pertama. Melansir dari Kompas.com, Akhir Februari 2021 lalu,  Polda Kaltim menangkap dua mucikari prostitusi daring yang salah satu korbannya adalah anak-anak. Awal Maret lalu, Satreskrim Polres Pelabuhan Belawan, Sumut, mengungkap kasus prostitusi daring yang melibatkan pelajar SMP. Delapan puluh dua remaja terjaring saat penggerebekan sebuah hotel di Koja, Jakarta Utara, yang digunakan sebagai tempat praktik prostitusi online pada  17/03/2021.  tersebut.

Tenaga Ahli Staff Kepresidenan bidang SDM, Erlinda mengatakan bahwa dari Januari hingga Maret 2021, ada 500 anak menjadi korban prostitusi. Dan angka ini hanya menunjukkan kasus yang terbongkar. (Sindonews.com, 19/03/2021).

Senada, KPAI bersama dengan IOM, Sekretariat Jarak, dan para pegiat pencegahan tindak pidana perdagangan orang, mengungkap bahwa ada 31,6 persen anak yang dilacurkan sepanjang September hingga Oktober 2020 di 20 kota di 9 provinsi. (Tirto.id, 25/11/2020).

 

Api Pemantik

Dikutip dari KPAI.go.id, 13/05/2015, ada enam penyebab maraknya prostitusi anak. Pertama, karena terjebak iming-iming pekerjaan. Kedua, berpikir instan karena desakan ekonomi. Ketiga, dipaksa oleh seseorang atau kelompok tertentu. Keempat, pengaruh lingkungan. Kelima, karena gaya hidup. Terakhir, karena frustasi.

Sementara Ghianina Yasira Armand, BSc Psychology, MSc Child development menambahkan bahwa faktor "permintaan pasar" mendorong pihak-pihak tertentu menjawab kebutuhan tersebut. Selain itu, faktor rendahnya edukasi, sanksi yang kurang tegas dan lemahnya iman juga dituding menjadi penyebabnya.(Kompas.com, 06/02/2020).

Seabrek faktor penyebab di atas, sejatinya bermuara pada diterapkannya sistem kapitalisme - sekuler.   Kapitalisme menetaskan ketimpangan ekonomi yang sangat tajam. Himpitan ekonomi dan lemahnya iman mendorong sebagian remaja putri terjun dalam pusaran prostitusi.

Gaya hidup hedonis dan konsumtif juga sebuah keniscayaan dalam sistem yang menjadikan kesenangan hidup sebagai tujuan utama ini. Alhasil, segala cara pun sering ditempuh demi memenuhi keinginan tersebut, termasuk terjun di dunia prostitusi.

Dalam Kapitalisme, peluang pasar yang dapat memberikan keuntungan menggiurkan direspon dengan cepat tanpa memandang halal dan haram. Koordinator Nasional End Child Prostitution, Child Pornography & Trafficking of Children for Sexual Purpooses (ECPAT), Ahmad Sofian, mengatakan bahwa berkembangnya bisnis hiburan, meningkatnya arus traveling, meningkatnya wisatawan dimanfaatkan sebagai peluang bisnis prostitusi anak bagi para sindikat. (IDNTimes.com,  4/04/2019).

Pada faktanya, telah banyak UU yang lahir sebagai upaya menghentikan tindakan biadab ini. Di antaranya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2000 tentang Pelarangan dan Tindakan Segera Penghapusan Bentuk-Bentuk Pekerjaan Terburuk untuk Anak.  UU No 10 Tahun 2012 dan UU Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak. Razia pun kerap dilakukan. Kendati demikian, praktik prostitusi anak masih saja menjamur.

 

Islam Atasi Prostitusi Anak

Bertolak belakang dengan kacamata kapitalisme yang memandang anak dapat dijadikan sebagai lahan bisnis, Islam justru sangat menjaga generasi.

Penjagaan tersebut nampak dalam beberapa aturan yang harus dijalankan mulai dari institusi keluarga, masyarakat maupun negara.  Pertama, dari sisi keluarga. Allaah memerintahkan setiap orang tua untuk menjaga hak-hak anak dengan memilihkan calon ibu yang baik, memberikan nama yang baik, memberikan pendidikan (mengajarkan ketaatan kepada Allaah Ta'ala dan Rasulullah, mengajarkan untuk menutup aurat, menjaga pandangan, bersikap Qona'ah serta mensyukuri nikmat Allaah, dll). Selain itu, orang tua juga wajib memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Allaah menjanjikan surga bagi setiap muslim yang merawat dan menjaga anak-anak mereka. Terlebih anak perempuan. Nabi shalallahu 'alayhi wa salam bersabda :  “Dari Anas bin Malik Ra., ia berkata, ‘Rasulullah Saw telah bersabda, ‘Barang siapa dapat mengasuh dua orang anak perempuannya hingga dewasa, maka aku akan bersamanya di hari Kiamat kelak.’ Beliau merapatkan kedua jarinya.” (HR. Muslim).

Allaah melarang membunuh anak karena Allaah yang memberikan rizqi mereka. Allaah Ta'ala berfirman : "Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka dan kepadamu. Membunuh mereka itu sungguh suatu dosa yang besar." (QS. Al Isra' : 31)

Kedua, dari sisi masyarakat. Allaah memerintahkan untuk beramar ma'ruf baju Munkar. Allaah berfirman  "Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Ali 'Imron : 104)

Ketiga, dari sisi negara. Allaah memerintahkan penguasa untuk berbuat adil dan mengurus rakyat dengan sebaik-baiknya.  Rasulullah shalallahu'alayhi wa salam bersabda, “Sungguh, manusia yang paling dicintai Allah pada Hari Kiamat dan paling dekat kedudukannya di sisi Allah ialah pemimpin yang adil. Orang yang paling dibenci Allah dan paling jauh kedudukannya dari Allah adalah pemimpin yang zalim” (HR Tirmidzi).

Penguasa mempunyai tanggung jawab untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan hidup rakyatnya. Oleh karenanya adalah tanggung jawab penguasa menyediakan lapangan pekerjaan dengan gaji yang mencukupi, sehingga rakyat terjauh dari "menempuh segala cara" untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Selain itu, penguasa juga harus menegakkan hukum dengan tegas bagi para pelaku perzinaan maupun orang-orang yang mendukung kelancaran bisnis tersebut. Allaah Ta'ala telah memberikan petunjuk bagaimana memberikan efek jera pelaku perzinaan. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: "Pezina perempuan dan pezina laki-laki, deralah masing-masing dari keduanya seratus kali, dan janganlah rasa belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama (hukum) Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan hari Kemudian; dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sebagian orang-orang yang beriman." (QS. An Nuur : 2)

Begitu pun pihak yang memfasilitasi aksi prostitusi. Mereka akan dijatuhi hukuman ta'zir. Penguasa juga seharusnya mencabut izin usaha yang terbukti digunakan sebagai lahan prostitusi. Serta Menutup segala celah yang memungkinkan terjadinya prostitusi anak.

Dengan demikian  in syaa Allaah akan terbentuk generasi yang mempunyai iman yang kokoh, tidak mudah hanyut dalam gemerlap dunia, terjaga kehormatan dirinya. Sehingga mereka siap menjadi pilar-pilar bangsa berkualitas di masa mendatang.

Wallaahu a'lam bishowab.

 

 

1 komentar:

  1. Mungkin background webnya perlu disetting ulang, agar tulisan opininya terbaca. agar kami sebagai pembaca nyaman juga melihatnya. terima kasih...

    BalasHapus