Recent Posts

Ibu Jajakan Anak Sendiri, Buah dari Rusaknya Sistem Saat Ini

Kamis, 08 April 2021



Oleh     : Melitasari

Ibarat pepatah sebuas-buasnya singa tidak akan pernah memangsa anaknya. Naluri seorang ibu tidak akan tega melukai dan menerkam anaknya sendiri. Namun apa jadinya ketika anak manusia menjadi alat komoditi yang dijajakan ibu kandungnya sendiri menjadi pemuas nafsu para pria hidung belang?

Seperti dilansir Tribun News.com pada 5 April 2021 TA (45), warga Desa Genteng, Kecamatan Dawuan, Kabupaten Majalengka ditangkap polisi akibat menjual anak kandungnya sendiri ke pria hidung belang. Kepolisian membongkar kasus prostitusi online yang dijalankan seorang ibu rumah tangga berinisial TA (45) di Desa Genteng, Kecamatan Dawuan, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat.

Pelaku diringkus dari kediamannya, Jumat (12/3/2021). Pelaku sengaja menyediakan satu kamar di rumahnya untuk dijadikan tempat melayani pria hidung belang. Tak hanya itu, TA pun tega menjajakan putrinya yang berinisial Y (25) untuk jadi pemuas nafsu pria hidung belang. 

Kondisi ekonomi yang semakin memburuk di tengah pandemi saat ini menjadi salah satu alasan kian maraknya praktek prostitusi. Minimnya lapangan pekerjaan, membuat rakyat rela melakukan apapun untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup tanpa memperhatikan hukum perbuatan itu halal atau haram.

Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat. Peranan keluarga sangat menentukan kualitas suatu bangsa, ini dikarenakan keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama dalam pembinaan tumbuh kembang, menanamkan nilai-nilai moral dan pembentukan kepribadian individu.

Kerusakan moral yang berawal dari rusaknya cara berfikir keluarga saat ini adalah disebabkan dari kerusakan sistem yang diterapkan untuk mengatur kehidupan manusia. Cacat bawaan dari sistem yang rusak berdampak pada kerusakan semua institusi kehidupan, terlebih institusi keluarga.

Cara berpikir yang materialistis, gaya hidup yang hedonis serta menjadikan asas manfaat sebagai cara untuk memperoleh kebahagian telah mendorong setiap individu melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, tanpa memperhatikan apakah itu bertentangan dengan perintah dan larangan Allah atau tidak.

Dalam sistem kapitalis, mereka berpendapat bahwa manusia berhak membuat peraturan hidupnya sendiri, tidak mau diatur oleh aturan sang pencipta dan mempertahankan asas kebebasan dalam hal beragama, berpendapat, hak milik serta kebebasan pribadi. Sehingga mereka bebas bertindak semaunya dan berlindung di balik hak asasi manusia.

Kecacatan sistem seperti ini tentunya sangat berpengaruh pada pola sikap dan berpikir setiap individu, keluarga, ataupun masyarakat suatu negara. Pola pikir yang rusak akan melahirkan tindakan yang rusak pula. Sehingga muncullah beragam permasalahan yang berulang dan tak mampu dientaskan dalam kehidupan.

Maka dari itu untuk membangun keluarga dengan moral dan kepribadian individu yang baik, diperlukan adanya sistem yang baik pula. Sistem yang mampu mengatur dan mengarahkan manusia sesuai dengan fitrahnya. Menjadikan agama sebagai pengatur amal perbuatan manusia dalam kehidupan.

Sistem ini tiada lain adalah sistem Islam, yang menjadikan akal sebagai landasannya. Adapun dari segi fitrah, maka ia sesuai dengan fitrah manusia sebab ia mempercayai adanya agama dan kewajiban untuk merealisasi agama dalam kehidupan ini, serta menjalankan kehidupan sesuai dengan perintah Allah dan larangan-Nya.

Dengan demikian sudah seyogyanya manusia selalu memperhatikan apakah perbuatannya sesuai dengan perintah dan larangan Allah atau tidak. Sehingga permasalahan-permasalahan dalam hidup tidak akan diselesaikan dengan cara yang tidak diridhai-Nya seperti praktek prostitusi yang dilakukan oleh ibu terhadap anaknya sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar