Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Islam Tidak Mengajarkan Terorisme

Kamis, 15 April 2021


Oleh Erni Setianingsih

(Aktivis Dakwah Kampus)


Dilansir Oleh  Cnnindonesia.com (28/03/2021), Sejumlah Kepala Kepolisian Daerah di beberapa wilayah memerintahkan peningkatan patroli dan penjagaan keamanan usai ledakan bom di Gereja Katedral Makassar pada Minggu (28/3) pagi. Peristiwa ledakan bom di depan Gereja Katedral Makassar, Minggu (28/3/2021), membuat gempar masyarakat di Indonesia.


 Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, Keamanan Mahfud MD mengingatkan peristiwa bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Makassar merupakan upaya adu domba masyarakat. Mahfud menegaskan bahwa peristiwa itu belum tentu mengatasnamakan agama tertentu meski menyerang tempat ibadah. "Belum tentu juga ini mengatasnamakan agama tertentu melainkan merupakan upaya mengadu domba antara kita. Seakan-akan kelompok tertentu sedang menyerang atau tidak suka kelompok lain, entah itu agama, suku, ras, ini adalah upaya adu domba". (cnnindonesia, 28/03/21)


Baru-baru ini, kita dikagetkan dengan isu bom bunuh diri yang dikaitkan dengan teroris. Yang paling mencengangkan ketika kasus itu dikaitkan dengan umat Islam, Di mata  mereka umat Islam golongan yang serba salah apalagi golongan yang tertentu. Tapi kenapa harus umat Islam yang selalu menjadi disudutkan?

 

Ketika gereja yang dibom, selalu umat muslim di cap radikal. Masjid dibom, dirusak, dicoret-coret, dilempari kotoran, pelaku dicap orang gila. Ulama, ustad, imam masjid dibunuh atau dibacok, pelaku dicap orang gila. Begitulah warna-warni kaum sekuler-liberal. Sampai kapan umat Islam berada diposisi yang selalu dimusuhi? Adu domba yang diusut kian membusuk, tak hentinya mereka menfitnah Islam.


Masalahnya, apa yang terjadi selama ini berkebalikan faktanya. Ketika aksi teror menuduh kaum muslimin, para pejabat dan media langsung mem-blow up berita itu. Bahkan mengatakan pelakunya adalah teroris dengan mengecam Islam sebagai tertuduh.


Tapi sayangnya, jika pelakunya nonmuslim, berbagai macam dalih dilancarkan. Peristiwa pembakaran masjid, penyerangan ustaz, hingga pembunuhan, selalu dinyatakan semua pelakunya gila. Begitulah jika Islam tersudut langsung diusut. Tapi jika Islam menjadi korban, ujung-ujungnya dianak tirikan.


Secara tak langsung, pemerintah menganggap yang paling berbahaya justru rakyatnya sendiri, yang distigma dan dimonsterisasi sebagai ekstremis, radikalis, ataupun teroris. Maka dari itu, perlu ditumbuhkan sikap kehati-hatian dalam menangani aksi terorisme semacam ini. 


Namun Fakta sebenarnya, justru penyebab ketidakdamaian dan ketidaksejahteraan yang memicu sikap terorisme adalah ketika umat Islam dipimpin dalam sistem demokrasi sekuler yang kapitalis seperti saat ini. Dari sini makin jelas, tudingan sebagai pelaku teroris/radikal tak lain adalah Islam dan kaum muslimin. Identitas umat Islam dianggap berbahaya. Seorang muslim yang menunjukkan identitas kemuslimannya, akan bermasalah. 


Saat ini yang gencar dilakukan adalah membenturkan identitas muslim dengan identitas sebagai warga negara, yakni identitas nasional.

pemerintah seharusnya jangan kehilangan fokus pada problem utama negeri ini. Cepatnya respons dalam menyelesaikan kasus bom Makassar seharusnya diiringi dengan penyelesaian problem lainnya.


Problem di negeri ini begitu besar dan bertumpuk menuntut untuk diselesaikan. Utang luar negeri yang terus membengkak misalnya, yang akan semakin menyengsarakan rakyat. Korupsi di tubuh oligarki yang semakin menggurita juga seharusnya menjadi perhatian khusus. Banyak kebijakan yang mangkrak tersebab implementasinya selalu beriringan dengan korupsi.


Belum lagi impor pangan yang bertubi-tubi, telah menyengsarakan para petani yang memang sudah sangat miskin. Mulai dari impor beras, garam, gula, daging sapi, hingga jahe, menjadi paket komplit jatuhnya harga komoditas lokal.


Demikianlah, demokrasi hanya akan menghimpun para penguasa yang mengakomodir kepentingan korporasi. Biaya yang mahal dalam kontestasi perpolitikan demokrasi telah meniscayakan para cukong untuk terlibat di dalamnya. 

Sehingga, hegemoni korporasi multinasional akan semakin tertancap di negeri ini, yang pada gilirannya menyengsarakan rakyat. Karenanya, kebijakan yang lahir pastilah pro korporasi. 


Inilah realitas hidup di sistem demokrasi. Asasnya yang sekuler menggandeng sistem ekonomi kapitalisme dalam mengatur kehidupan bernegara.

Padahal, sejarah membuktikan negeri ini merdeka melalui tangan para pejuang yang mayoritas beridentitas muslim. Mereka pun berjuang atas dorongan semangat jihad yang dianggap sebagai ajaran radikal.


Pandangan Islam tentang terorisme yaitu Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin. Agama yang memberikan rahmat bagi seluruh penduduk dunia. Islam pun mengharamkan seseorang/kelompok membunuh tanpa alasan yang jelas dan dibenarkan. 


Dalam firman Allah Swt,


“Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allâh (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar.” (TQS al-Isrâ’[17]: 33)


Bagi individu muslim yang berikrar hanya Allah Swt semata sebagai Tuhan yang layak disembah dan tiada Tuhan selain-Nya, wajib tunduk dan patuh atas segala perintah-Nya serta berserah diri seluruh hidup dan matinya hanya untuk Allah.


Islam memang mengajarkan jihad. Tapi jihad dilakukan harus sesuai dengan koridor syariat. Islam tak membolehkan menebar teror, membunuh warga yang tidak terlibat dalam peperangan, termasuk orang tua, perempuan dan anak-anak. Bahkan dilarang merusak rumah ibadah atau membumi hanguskan wilayah sasaran.


Jadi, dalam menyikapi teror macam ini tak boleh langsung menghakimi bahwa muslim adalah teroris. Apalagi kasus-kasus semacam ini sering kali dijadikan stigma bahwa Islam agama teroris dan mengajarkan terorisme. 

Allah Swt telah mengingatkan kita untuk mewaspadai sikap memusuhi Islam karena ingin menyenangkan orang kafir,” tuturnya mengutip surah Ali ‘Imran ayat 118.


Allah Swt berfirman:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لا يَأْلُونَكُمْ خَبَالا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ


“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudaratan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (QS Ali Imran[3]: 118)


Hanya dalam naungan sistem Islam, individu muslim, umat dan bangsa ini bisa diwujudkan makna hakiki, yakni semata menghamba kepada Allah Swt.


Wallahu a’lam bishawab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar