Recent Posts

Kedudukan Perempuan dalam Kacamata Islam

Sabtu, 17 April 2021


Oleh  : Melitasari


Pengarusutamaan Gender atau biasa disebut PUG merupakan strategi yang dilakukan secara rasional dan sistematis untuk mencapai dan mewujudkan kesetaraan serta keadilan gender dalam sejumlah aspek kehidupan manusia.

Hal tersebut diungkapkan Wakil Bupati Cirebon, Wahyu Tjiptaningsing, pada kegiatan verifikasi lapangan dalam rangka pemberian penghargaan utama Anugrah Parhita Ekapraya (APE) tahun 2021 di Kantor Setda, Senin (5/4).
“Dalam pelaksanaan di Kabupaten Cirebon ini tertuang dalam kebijakan perundang-undangan, antara lain Peraturan Bupati Cirebon Nomor 47 Tahun 2018 tentang Pedoman Pengarusutamaan Gender,” ungkapnya. (Radar Cirebon, 05/04/21).

Demi mengejar penghargaan, isu kesetaraan gender terus dihembuskan dengan iming-iming akan membawa wanita kepada keadilan dan kebahagiaan. Memberi peluang kepada wanita untuk menempati berbagai posisi di ranah publik.

Namun faktanya, kesetaraan dan keadilan dalam sistem kapitalis sekuler justru membawa kesengsaraan bagi kaum wanita. Wanita terjerat dalam jebakan feminisme yang mengarah pada pemberdayaan perempuan sebagai mesin ekonomi.

Banyak perempuan dijadikan sebagai alat komoditi yang bisa menghasilkan uang dengan cara yang amat tidak sesuai dengan fitrahnya. Berjalan berlenggak-lenggok, memamerkan aurat, serta memperdagangkan tubuhnya di depan publik hanya untuk menarik perhatian.

Citra baik terhadap wanita karir juga dijadikan sebagai alat untuk mempengaruhi pemikiran bahwa perempuan harus bekerja, jangan mau di rumah saja. Akhirnya fitrah sebagai Ummu wa rabbatul bayt, dan pencetak generasi peradaban harus terabaikan.
Semakin banyak perempuan yang berprofesi sebagai wanita karir, maka semakin banyak pula generasi terlahir tanpa perhatian dan pendidikan lebih dari ibunya. Perselisihan rumah tangga pun kerap terjadi sebab istri merasa lebih dan bisa dari suaminya. Itulah penomena yang terjadi saat ini.

Tentu saja penyetaraan gender perempuan agar bisa setara kedudukannya dengan laki-laki bukanlah solusi tepat untuk mendapatkan keadilan dan kebahagiaan. Sebab hal ini akan mendatangkan perselisihan dan pertentangan. Karena bagaimanapun antara laki-laki dan perempuan tidak bisa disetarakan.

Meski pada hakikatnya mereka memiliki kedudukan yang sama di mata Allah, namun Allah telah menciptakan keduanya dengan fitrah dan tabiat yang berbeda. Laki-laki diciptakan dengan tabiat yang tegas, kuat, berwibawa dan cenderung menggunakan logika dalam setiap keadaan.

Hal itu karena laki-laki adalah seorang pemimpin yang harus mampu menjadi pelindung untuk keluarganya, mengambil keputusan yang tegas dan bijak dalam setiap permasalahan. Berbeda halnya dengan perempuan yang memiliki tabiat lemah lembut, penyang, dan cenderung menggunakan perasaannya.

Oleh karena itu wanita tidak bisa disetarakan dalam beberapa hal dengan laki-laki termasuk dalam masalah kepemimpinan. Selain karena perempuan tidak memiliki kapabilitas dalam memimpin, menurut tabiatnya mereka cenderung pada kerusakan dan tidak sabar dalam beberapa keadaan.
Begitupun juga dalam hal pembagian hak waris antara perempuan dan laki-laki memiliki perbedaan dikarenakan keduanya juga memiliki  tanggung jawab yang berbeda. Namun demikian hal ini tidak menjadikan kedudukan perempuan rendah di mata laki-laki. Dalam Islam mereka memiliki keistimewaan tersendiri.

Islam amat menjaga kehormatan dan kemuliaan perempuan. Ketika Allah melebihkan sebagian sisi pada laki-laki, Dia pun menjadikan kelebihan pada perempuan di bagian yang lain. Diantara kelebihan yang dianugerahkan-Nya adalah diberikan rahim untuk bisa mengandung dan melahirkan. Jika saat melahirkan ia meninggal maka meninggal nya dipahalai sebagai mati syahid.
''Dan, sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian, Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim)." (QS. Al-mu'minun:12-13)

Sering juga kita mendengar bahwasanya surga berada di bawah telapak kaki ibu. Pernyataan tersebut menggambarkan kalau kita semua harus berbakti kepadanya. Seorang ibu mendapatkan kedudukan tertinggi dalam Islam. 

Ini telah dijelaskan dalam satu hadis dari Abu Hurairah ra berkata:
"Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam dan berkata, 'Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?' Nabi shalallaahu 'alaihi wasallam menjawab, 'Ibumu!' Dan orang tersebut kembali bertanya, 'Kemudian siapa lagi?' Nabi shalallaahu 'alaihi wasallam menjawab, 'Ibumu!' Orang tersebut bertanya kembali, 'Kemudian siapa lagi?' Beliau menjawab, 'Ibumu.' Orang tersebut bertanya kembali, 'Kemudian siapa lagi,' Nabi shalallahu 'alaihi wasallam menjawab, 'Kemudian ayahmu. (HR. Bukhari)

Sehingga betapa keliru nya pandangan-pandangan yang mengatakan bahwa Islam mendiskriminasi dan mengkerdilkan kaum perempuan demi mengangkat isu Kesetaraan Gender. Padahal sejatinya Islam amat menjaga dan melindungi mahkota serta kemuliaannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar