Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

KTT QUAD, Bentuk Strategi Kapitalis Menguasai Indo-Pasifik

Selasa, 06 April 2021


Oleh  Durrotul Hikmah 

(Aktivis Dakwah Remaja)

Pertama kali diselenggarakan KTT Quad (4 Negara kunci) membahas isu indo pasifik dengan inisiasi AS sebagai negara besar. Presiden AS Joe Biden pada Jumat mengadakan pertemuan empat arah pertama dengan para pemimpin Australia, India, dan Jepang. Pertemuan ini untuk meningkatkan upaya memperkuat aliansi karena kekhawatiran atas kebangkitan China.

Dalam kesibukan diplomasi, Jepang mengumumkan Perdana Menteri Yoshihide Suga akan menjadi pemimpin asing pertama yang bertemu dengan Joe Biden secara langsung, sebuah tanda keunggulan pemimpin baru AS yang melekat pada sekutu, seperti mengutip laman Channel News Asia, Jumat (12/3/2021).

Menteri Luar Negeri Antony Blinken dan Menteri Pertahanan Lloyd Austin juga melakukan kunjungan bersama pada pekan depan ke Jepang dan Korea Selatan dalam perjalanan luar negeri pertama mereka, dengan Austin melanjutkan ke India.

Blinken dan penasihat keamanan nasional Jake Sullivan kemudian akan bertemu akhir pekan depan di Alaska dengan para pejabat tinggi China dalam apa yang dijanjikan oleh pemerintah Biden sebagai penyampaian kekhawatiran AS secara blak-blakan. (Liputan6.com, 12/03/2021).

Indonesia sebagai negara besar di kawasan Indo-Pasifik sejatinya memiliki peran terkait isu di kawasan ini. konfigurasi politik di kawasan ini. Sementara, bagi politik internasional AS, Indonesia adalah negara penyedia sumber daya alam Dalam konteks politik global Tiongkok, Indonesia memiliki sejumlah jalur ekonomi dan perdagangan penting yang dilalui oleh peta jalan megaproyek OBOR (One Belt One Road).

Indonesia adalah negeri muslim yang besar dengan kekayaan alam yang melimpah. Indonesia juga negara terbesar di kawasan Asia Tenggara, bahkan Indo-Pasifik. Maka tak heran lagi jika potensi ini begitu menggiurkan negara-negara kapitalis besar.

Maka hal ini, muncullah beragam isu politik kawasan pun setiap kali bergulir hingga mengharuskan adanya "kambing hitam" yang  dijadikan sasaran keributan politik nasional dan regional. Ironisnya yang selalu menjadi "kambing hitam" selalu umat muslim.

Negeri muslim yang dikenal akan kekayaan seperti Indonesia, tetapi jika tidak memiliki kedaulatan politik yang kuat pada akhirnya hanya akan menjadi objek kepentingan negara kapitalis Barat dan Timur.

Mereka mencoba meningkatkan keuntungan dengan mencari daerah-daerah yang memiliki sumber daya alam bahan mentah, tenaga kerja yang murah, dan kompetisi yang lemah. Wilayah sasaran neoimperialisasi di antaranya adalah Afrika, Asia Tengah, Asia Tenggara termasuk Indonesia.

Indonesia sebagai negeri muslim terbesar di kawasan Indo-Pasifik, semestinya menganalisis konfigurasi politik di kawasan ini berdasarkan sudut pandang umat Islam. Dan ini semestinya juga menjadi arah pandang bagi kedaulatan Indonesia. Semuanya berpijak pada akidah Islam, bukan akidah sekularisme.

Karena itu, umat harus memiliki agenda sendiri. Yakni dengan cara menentukan arah politiknya sendiri ke arah Islam. Di samping itu, umat juga harus dipahamkan mengenai empat pilar politik Islam dalam menyambut sistem yang baru, Khilafah Islamiah. Empat pilar tersebut meliputi.

Pertama, kedaulatan berada di tangan syara‘, yang menjamin penegakan hukum Al-Qur’an dan sunah dalam kehidupan. Kedua, kekuasaan milik umat, yakni dengan adanya hak baiat untuk mengangkat Khalifah yang dirinya dibaiat untuk menegakkan hukum Al-Qur’an dan sunah, serta syariat Islam secara keseluruhan.

Ketiga, kewajiban akan adanya satu kepemimpinan khalifah untuk seluruh umat dalam satu institusi. Keempat, adanya adopsi (tabanni) hukum sebagai hak Khalifah untuk menjamin kesatuan kaum Muslim tersebut sehingga terhindar dari ancaman perpecahan.

Maka dari itu sistem yang layak berlaku demi masa depan kedaulatan umat Islam adalah sistem penerap aturan Allah secara kafah, yakni Khilafah Islamiah.

Sebagaimana dicantumkan dalam Al-Qur'an Surah Al Baqarah [2] : 30
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
"Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".

Wallahu a'lam bishawab[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar