Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Mencapai Derajat Iman Tak Hanya di Bulan Ramadhan

Sabtu, 03 April 2021


Oleh    : Melitasari

Ramadhan adalah bulan penuh rahmat dan ampunan, di mana setiap amalan pahalanya dilipatgandakan, pintu-pintu taubat dibuka, setan-setan dibelenggu pada bulan suci ini. Tidak heran ramadhan menjadi bulan yang sangat dirindukan oleh umat Islam. Kehadirannya ditunggu-tunggu bagai kasih lama tak bertemu.

Ramadhan di tahun 2021 tinggal menghitung hari, sejak bulan Rajab dan Sya'ban umat Islam berlomba mengisi amalan untuk menyambut dan mempersiapkan kedatangannya. Hingga waktunya tiba hati bahagia dan tertanam taqwa di jiwa. Lebih mendekatkan diri dengan memperbanyak amal sholeh dan meninggalkan kemaksiatan.

Untuk itu, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menegaskan, selama bulan Ramadan 2021 siaran televisi diperketat. Lembaga penyiaran diminta untuk tidak menampilkan muatan yang mengandung lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT), hedonistik, mistik/horor/supranatural, praktik hipnotis atau sejenisnya.
KPI juga mengimbau untuk tidak menampilkan muatan yang mengeksploitasi konflik dan/atau privasi seseorang, bincang-bincang seks, serta muatan yang bertentangan dengan norma kesopanan dan kesusilaan. Hal itu termuat dalam salah satu panduan lembaga penyiaran dalam bersiaran pada saat Ramadhan 2021. Panduan itu termaktub dalam Surat Edaran Nomor 2 tahun 2021 tentang Pelaksanaan Siaran Pada Bulan Ramadan. (DeskJabar.com, 24/03/21).

Sudah semestinya siaran pertelevisian di tanah air tidak menyajikan tontonan-tontonan yang tidak mendidik dan mengarah kepada hal-hal yang akan menimbulkan keresahan dan kemaksiatan. Sebab tontonan besar pengaruhnya akan menjadi tuntunan bagi si penonton, baik dalam berprilaku ataupun gaya hidup.

Jika kita perhatikan gaya hidup remaja/anak-anak zaman dahulu dengan zaman sekarang, maka akan kita temui perbedaan yang sangat jauh. Anak remaja saat ini 
terlihat kuah lebih modern dalam pergaulan ataupun berpenampilan. Semua tak jauh dari apa yang mereka tonton, gaya hedonis dan kebarat-baratan seperti artis yang diidolakan. Berbanding jauh dengan anak remaja zaman dulu.

Hal ini menunjukkan bahwa apa yang ditonton sangat berpengaruh terhadap gaya hidup dan kepribadian seseorang atau masyarakat. Maka menjadi suatu yang patut kita apresiasi apa yang digagaskna oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) tentang larangan penyiaran tayangan yang mengandung lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT), hedonistik, dan tayangan-tayangan yang bertentangan dengan syara di bulan ramadhan.

Kendati demikian larangan tayangan selama ramadhan ini seharusnya bukan hanya diberlakukan satu bulan saja, melainkan sepanjang waktu, tersebab ketakwaan dibangun bukan hanya pada saat-saat tertentu, serta meningkatkan iman bukan hanya saat ramadhan melainkan selama nyawa dikandung badan.

Namun beginilah hidup dalam sistem yang tidak menjadikan Islam sebagai aturan, agama dan kehidupan dipisahkan, hanya dipakai pada saat-saat tertentu dan bagian yang dianggap perlu saja. Selebihnya agama dikesampingkan dan tidak diberi wewenang untuk mengatur kehidupan.

Maka untuk menumbuhkan dan meningkatkan taqwa di bulan ramadhan, umat tak hanya membutuhkan tayangan yang mendukung tercapainya tujuan puasa, tapi juga membutuhkan sistem yang mendukung dalam seluruh aspek kehidupan di setiap saat. Mulai dari pergaulan, pendidikan, perekonomian, dan lain sebagainya. Semua itu diatur oles peraturan islam yang terbukti dapat memecahkan berbagai problematika kehidupan.

Untuk mewujudkan negara dengan penduduk yang bertaqwa tidak bisa diwujudkan hanya dengan ketaqwaan individu saja. Dalam sistem islam berpuasa merupakan salah satu cara untuk meraih ketakwaan. Selain harus diraih oleh setiap individu muslim taqwa juga harus terwujud dalam keluarga dan masyarakat.

Kunci dalam mewujudkan keimanan dan ketaqwaan pada setiap individu, keluarga, dan masyarakat adalah dengan menjadikan Islam sebagai satu-satunya jalan hidup. Menerapkan aturan Islam secara Kaffah dalam setiap aspek kehidupan secara bersama-sama, dan menjadikan hukum-hukum Allah sebagai landasan hukum.

Namun dalam penerapannya negara lah yang menjadi institusi penting untuk menegakkan hukum-hukum yang bersumber dari Allah. Dengan dipimpin oleh seorang Khalifah yang beriman kepada Allah dan dibaiat oleh umat untuk mengurusi segala kepentingan umatnya.

Sehingga tujuan puasa untuk meraih takwa pada setiap individu, keluarga, dan masyarakat akan mudah dicapai. Tidak seperti halnya dalam negara sekuler yang hanya memilah-milah aturan pada saat-saat tertentu saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar