Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Penistaan Agama Terulang Lagi, Islam Jadi Solusi

Sabtu, 24 April 2021


Oleh: Chica Nabila *


Terjadi lagi. Tak henti-henti penistaan terhadap agama Islam terjadi di negeri yang mayoritas penduduknya muslim ini. Kali ini seorang youtuber yang bernama Joseph Paul Zhang menistakan agama Islam dengan mengaku sebagai nabi ke-26 dan menghina Nabi Muhammad SAW serta menghina Allah SWT dalam video yang diunggah di akun youtube miliknya yang berjudul "Puasa Lalim Islam".

Parahnya lagi, dengan arogan dia bersumbar akan memberi hadiah uang kepada siapa saja yang akan melaporkan dirinya ke pihak kepolisian. Mengapa Kejadian ini Berulang?
Sebagaimana diketahui bahwa penistaan agama Islam kerap terjadi di negeri ini. Pertanyaannya adalah mengapa hal ini terus saja terjadi?

Adanya kebebasan dalam berpendapat menjadi salah satu penyebab penistaan ini berulang.
Negara yang berlandaskan kebebasan meniscayakan hal ini terjadi. Kasus penistaan ini dianggap sebagai hal biasa dalam negara demokrasi. Negara menganggap hal tersebut dilakukan dalam rangka menyampaikan pendapat yang patut dilindungi. 

Di sinilah akan kita dapati bahwa terjadi ketidakadilan. Ketika Islam yang dihina maka pemerintah tidak sigap mengadili si penista. Pemerintah melakukan tindakan setelah suara protes dan desakan dari berbagai elemen umat islam bermunculan.

Beginilah yang akan terjadi jika negara tidak diatur dengan aturan islam. Islam hanya diterapkan dalam urusan privat saja. Dalam urusan publik aturan islam disingkirkan.

Kejadian inipun akan tetap berulang karena negara tidak tegas terhadap pelaku penista agama. Advokat muslim Ahmad Khozinuddin, SH. menyatakan, "Berulang kali penistaan agama terjadi akibat sanksi yang tidak tegas dari pemerintah-hanya lima tahun penjara-yang tentu tidak memberi efek jera. Selain itu, norma yang mengatur penistaan agama juga masih terlalu longgar. Ada adagium tentang kebebasan berbicara, termasuk di dalamnya kebebasan menista agama. (mediamat.news, 19/4/2021)

Jelas disini bahwa ringannya dan tidak tegasnya sanksi bagi penista agama menjadi salah satu pemicu munculnya penista-penista baru. Berharap pada sistem demokrasi untuk menyelesaikan masalah ini ibarat punguk merindukan bulan. Hanya kepada sistem Islam sajalah harapan satu-satunya umat ini. 

Islam mampu melindungi umat dan ajaran Islam dari penistaan agama. Ada jaminan dari Islam bahwa antar pemeluk agama hidup berdampingan dengan damai dan harmonis, saling menghargai dan menghormati ajaran masing-masing. Tidak akan dijumpai penguasa yang lemah terhadap penista agama.

Khalifah Abu Bakar ra. adalah contoh nyata betapa tegas sanksi bagi penista agama. Ketika Musailamah Al-Kadzab mengaku sebagai nabi, maka dengan sigab Khalifah Abu Bakar memberantas Musailamah dan para pengikutnya.

Begitu pula yang dilakukan oleh Khalifah Umar Bin Khattab ra., beliau pernah berkata : "Barangsiapa mencerca Allah atau mencaci salah satu nabi, maka bunuhlah ia"(diriwayatkan oleh Al-Karmani rahimahullah yang bersumber dari Mujahid rahimahullah).

Sikap para pemimpin Islam begitu tegas terhadap penista agama, mereka tidak akan mudah berkompromi dan bersikap lemah terhadap penista agama. Hal itu dilakukan demi menjaga kemuliaan agama Allah.

Maka memperjuangkan kembalinya sistem Islam di tengah-tengah masyarakat adalah menjadi kewajiban bersama. Karena dengan sistem Islam (Khilafah) umat islam tak akan lagi hidup dalam kehinaan, syariat-Nya pun akan selalu terjaga.


*(Aktivis Muslimah)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar