Recent Posts

Perbedaan Amanah dan Ambisi dalam Islam

Kamis, 08 April 2021



Oleh Cahaya Septi
Penulis dan Aktivis Dakwah

Di bawah sistem sekular sekarang  yang mencampakkan aturan agama (syariah Islam) dari kehidupan, kekuasaan benar-benar diperebutkan hingga tanpa sadar telah menimbulkan fitnah. Banyak orang berlomba-lomba meraih dan atau mempertahankan kekuasaan. Segala cara digunakan. Tanpa peduli halal dan haramnya. 

Ambisi Kekuasaan

Ambisi kekuasaan merupakan sebagian dari hawa nafsu manusia itu sendiri. Padahal Islam mengajarkan bahwa hawa nafsu harus ditata dan dikendalikan sesuai petunjuk Allah Swt. karena hawa nafsu itu sering memerintahkan pada keburukan (QS Yusuf [12]: 53).

Banyak orang yang berupaya untuk mencapai ambisi itu tanpa melihat sesuai tidaknya dengan arahan syara'. Berabad lalu Rasulullah saw. telah mensinyalir akan ambisi kekuasaan ini. Beliau pun memperingatkan umatnya agar hati-hati terhadap akibatnya:

Sungguh kalian akan berambisi terhadap kepemimpinan (kekuasaan), sementara kepemimpinan (kekuasaan) itu akan menjadi penyesalan dan kerugian pada Hari Kiamat kelak. Alangkah baiknya permulaannya dan alangkah buruknya kesudahannya." (HR al-Bukhari, an-Nasa’i dan Ahmad)

Al-Munawi di dalam Faydh al-Qadir menjelaskan bahwa kekuasaan itu bisa menggerakkan sifat-sifat terpendam. Jiwa bisa didominasi oleh kecintaan atas prestise dan kelezatan berkuasa, juga rasa suka agar segala perintahnya dijalankan. 

Abu Bakar ath-Tharthusi dalam Siraj al-Muluk menjelaskan, “Rahasia di balik semua ini adalah bahwa kekuasaan (jabatan) adalah amanah Berambisi atas amanah adalah salah satu bukti dari sikap khianat. Jika seseorang yang khianat diberi amanah maka itu seperti meminta serigala untuk menggembalakan domba. Akibatnya, rusaklah sikap rakyat terhadap penguasanya. Pasalnya, jika hak-hak mereka hancur dan harta mereka dimakan oleh penguasa mereka, maka rusaklah niat mereka dan lisan mereka akan mengucapkan doa (yang buruk) dan pengaduan atas penguasa mereka.”

Amanah Kekuasaan

Kewajiban penguasa seperti dalam hadis Abdullah bin Umar ra. adalah memelihara urusan-urusan rakyat (ri'ayah syu'un ar-ra’yah). Itu dilakukan dengan siyasah (politik) yang benar, yaitu seperti yang dijelaskan oleh Imam an-Nawawi di dalam Syarh ShahĂ®h Muslim. Ri’ayah atau siyasah yang baik itu tidak lain dengan menjalankan hukum-hukum syariah serta mengutamakan kemaslahatan dan kepentingan rakyatnya sendiri, begitulah contoh pemimpin yang adil.

Dia dicintai oleh Allah Swt. dan umat karena menjalankan hukum-hukum-Nya dan menunaikan amanahnya. Allah Swt. berfirman:

Sungguh Allah menyuruh kalian memberikan amanah kepada orang yang berhak menerimanya, juga (menyuruh kalian) jika menetapkan hukum di antara manusia agar kalian berlaku adil. " (QS an-Nisa [4]: 58)

Demi Melayani Islam

Kekuasaan yang dikehendaki oleh Islam adalah yang digunakan untuk melayani Islam, sebagaimana yang diminta oleh Rasul saw. kepada Allah Swt.

Berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong." (QS Al-‘Isra’ [17]: 80)

Kekuasaan juga harus dibangun di atas pondasi agama, yakni Islam, dan ditujukan untuk menjaga Islam dan syariahnya serta memelihara urusan umat. Imam al-Ghazali menyatakan, 

“Agama adalah pondasi, sedangkan kekuasaan adalah penjaganya. Apa saja yang tidak memiliki pondasi akan hancur dan apa saja yang tidak memiliki penjaga akan lenyap” (Al-Ghazali, Al-Iqtishad fi al-I’tiqad, hlm. 199).

Sangat penting bukan untuk kita segera menegakkan khalifah agar keadilan itu sama rata atau dapat membedakan mana yang haram dan halal, Jika kita tidak berusaha menegakkan khalifah secara keseluruhan maka kita akan terus menerus berada dalam hidup yang tidak adil ini.

Wallahu a’lam bi ash-shawab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar