Recent Posts

PUBLIK BUTUH SISTEM YANG MENDUKUNG TUJUAN TAKWA

Kamis, 08 April 2021




Oleh : Rayani Umma Aqila

Menjelang bulan Ramadhan mendadak segala sesuatu menjadi Islami, hal ini karena untuk menghormati orang-orang yang akan menjalankan ibadah ritual tersebut dan juga tak lain dan tak bukan sebab penduduk negeri ini adalah mayoritas penganut agama Islam. Tak terkecuali untuk mendukung agar ramadhan terwujud suasana taqwa dari KPI melarang televisi menyiarkan adegan berpelukan hingga yang mengandung unsur lesbian, gay, biseksual, dan transgender. Aturan itu tercantum dalam surat Edaran KPI 2/2021 berdasarkan keputusan pleno 16/3/2021. (tirto.id, 20/3/2021).

Selama bulan Ramadan lembaga penyiaran diminta untuk tidak menampilkan muatan yang mengandung lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT), hedonistik, mistik atau horor atau supranatural, praktik hipnotis atau sejenisnya," bunyi aturan huruf l. Selain itu, lembaga penyiaran dilarang mengeksploitasi konflik dan atau privasi seseorang, bincang-bincang seks, serta muatan yang bertentangan dengan norma kesopanan dan kesusilaan.

"Tidak menampilkan pengisi acara yang berpotensi menimbulkan mudarat atau keburukan bagi khalayak kecuali ditampilkan sebagai orang yang menemukan kebaikan hidup, insaf atau tobat," lanjut aturan tersebut. Kaum muslim tidak hanya membutuhkan tayangan yang mendukung tercapainya tujuan puasa, tapi juga sistem yang benar-benar mewujudkan tujuan takwa. Apalagi, larangan tayangan selama Ramadan semestinya berlaku sepanjang waktu, bukan hanya momen puasa.

Aturan yang dikeluarkan KPI terkesan baik untuk menjaga umat Islam agar fokus beribadah. Namun, hal itu tidaklah cukup dan membuktikan sekularisasi atau pemisahan agama dari kehidupan berjalan di negeri ini. Agama hanya difahami sebagai ibadah ritual. Seperti sholat, puasa, zakat dan haji. Negara akan mendukung penuh berkah ibadah ritual semua agama tak terkecuali Islam. Namun ibadah ritual negara akan memberlakukan hukum buatan manusia bukan dari hukum pencipta manusia. 

Padahal kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan sama dengan kewajiban menjaga pandangan dari hal yang mengundang syahwat. Pasalnya pornografi dan pornoaksi dalam film sinetron tayangan iklan yang dipertontonkan para pemilik industri media liberal jelas akan menjadi stimulus seks bagi orang orang yang sudah dewasa biologisnya termasuk para remaja. Rangsangan ini akan terus terakumulasi dan sulit dihilangkan jika berhubungan dengan pemikiran yang ada di benaknya. Sehingga, muncul gelora syahwat yang menuntut pemenuhan bagi orang yang tidak mampu meredam gejolak seks ini mereka akan melampiaskannya secara liar. Seperti yang terjadi pada remaja yang melakukan perkosaan akibat perzinahan yang marak saat ini. Ditambah konten-konten merusak seperti ini justru dianggap membawa keuntungan bagi para pengusaha. Keberadaannya masuk Atas nama bidang industri seni. 

Atas nama tuntutan pasar mereka terus memproduksi film, sinetron,dan iklan yang mengumbar aurat dan gerakan erotis. Bagi mereka penganut kapitalisme apapun akan dilakukan selama ada peluang yang menghasilkan uang. Dengan demikian bahwa media dalam sistem kapitalisme menderaskan arus liberalisasi dan sekularisasi. 

Berbeda dengan media Islam, dalam Islam media didaulat sebagai sarana dalam menebar kebaikan. Alat kontrol dan sarana dakwah syi'ar Islam baik kedalam maupun keluar negeri. Dengan kata lain media memiliki peran politis dan strategis sebagai benteng penjaga umat dan negara. Sehingga suasana taat terus tercipta dan wibawa negara terus terjaga. Dalam pandangan Islam media massa merupakan media komunikasi massal yang berfungsi menciptakan opini publik yang akan menjadi opini umum. Pembentukan opini umum adalah hal yang tidak disepelekan dalam sistem Islam. Oleh karenanya, menjadi kewajiban bagi kita sebagai umat Islam untuk memperjuangkan Islam agar tegak di muka bumi. Yang dilakukan jika seluruh  umat menyadari dan memperjuangkan bersama untuk mengembalikan kehidupan Islam. Bukan hanya selama Ramadan saja agar umat Islam terjaga kehidupannya dari kemaksiatan, tapi sepanjang masa jika hidup dalam naungan Khilafah. Wallahu A'lam bisshowab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar