Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Rekonstruksi Politik di Kalangan Pemuda

Jumat, 09 April 2021


Linda Maulidia, S.Si*

Hasil survei Indikator Politik Indonesia menunjukkan, sebanyak 64,7 persen anak muda menilai partai politik atau politisi di Indonesia tidak terlalu baik dalam mewakili aspirasi masyarakat. Sebanyak 25,7 persen anak muda yang menilai para politisi sudah cukup baik mendengarkan aspirasi.

Hasil survei juga menunjukkan hanya 3 persen anak muda yang sangat percaya pada partai politik. Sebanyak 7 persen sama sekali tidak percaya. Sebanyak 54 persen anak muda masih percaya pada partai politik.  (Merdeka.com, 21/3/21)

Dari sini nampak bahwa anak muda masih galau antara melihat perlunya perubahan politik dan ketidak fahaman terhadap sistem politik alternatif. Meski menganggap politisi dan partai tidak mampu mengatasi persoalan, namun masih berharap penyempurnaan praktik demokrasi menjadi solusi.

Maka sungguh miris rasanya, karena kaum muda sebagai orang-orang yang di pundaknya terdapat harapan besar dalam pembangunan bangsa, ternyata memiliki persentase yang sedikit dalam hal kepercayaan terhadap partai politik.
Tentu hal ini harus menjadi sebuah kekhawatiran. Ketidakpercayaan ini akan memberikan dampak kepada semakin rendahnya partisipasi atau kepedulian kaum muda terhadap perpolitikan negeri ini.

Di antara penyebab rendahnya tingkat kepercayaan para pemuda, bahkan ada yang sama sekali tidak percaya, tentu tidak lepas dari sebab-sebab tertentu. Di antaranya adalah, pertama sudah menjadi rahasia umum bahwa seringkali terjadi, di mana suara masyarakat hanya dimanfaatkan ketika pemilihan umum berikut dengan janji-janji jika terpilih.

Kedua, fakta di lapangan di mana orang-orang yang diberikan amanah melalui partai politik ada saja yang tertangkap tangan melakukan korupsi bahkan masih ditemui perilaku yang tidak seharusnya.

Ketiga,  masih tidak meratanya kesejahteraan masyarakat, serta semakin timpangnya perbedaan dan jarak antara yang kaya dan yang miskin. Ditambah lagi  banyaknya persoalan yang dihadapi masyarakat juga berpengaruh besar mengurangi tingkat kepercayaan.

Seluruh perkara ini menyebabkan sebagian masyarakat antipati terhadap politik termasuk kaum muda. Politik yang banyak dipahami masyarakat sekarang ini selalu identik dengan persoalan seputar pemilu dan segala macam intriknya yang syarat dengan trik untuk memenangkan pertarungan. Wajar bila lantas orang menilai bahwa aktivitas politik adalah aktivitas yang kotor dan mesti dihindari.

Dalam Islam politik adalah salah satu manifestasi keimanan, bahwa Allah SWT adalah Pencipta sekaligus Pengatur kehidupan dengan jalan menurunkan risalah islam. Dengan demikian Islam adalah politik. Politik adalah Islam. Islam tak mengenal pemisahan agama dari politik. Politik terikat dengan halal haram.

Politik (siyasah) dalam pandangan Islam berarti pengaturan terhadap urusan umat, baik untuk urusan dalam maupun luar negeri dengan cara Islam. Jadi politik pada dasarnya bukanlah kegiatan yang kotor. 

 Memimpin dan mengatur urusan umat serta mengadakan perbaikan yang bermanfaat untuk kehidupandi dunia dan akhirat adalah inti dari tujuan politik. Jadi, politik itu sangatlah penting. Tidak akan tegak kehidupan manusia tanpa politik. Tapi tidak akan menjadi baik kehidupan sebuah masyarakat tanpa politik yang Islami. Begitu banyak persoalan umat yang tidak terselesaikan yang membuat keadaan umat semakin buruk tidak, lain disebabkan karena syariat Islam tidak diterapkan dalam kehidupan.

Sebagaimana perkataan Imam Al Ghazali, “Sesungguhnya dunia adalah ladang bagi akhirat, tidaklah sempurna agama kecuali dengan dunia. Kekuasaan dan agama adalah saudara kembar; agama merupakan fondasi dan penguasa adalah penjaganya. Apa saja yang tidak memiliki fondasi akan hancur, dan apa saja yangtidak memiliki penjaga akan hilang. Dan tidaklah sempurna kekuasaan dan hukum kecuali dengan adanya pemimpin.” (Ihya ‘Ulumuddin, 1/17)

Aktivitas politik yang sebagaimana di atur oleh Islam inilah yang seharusnya menjadi tumpuan politik kaum muda. Pemuda sebagai kelompok produktif yang tentunya memiliki kemampuan lebih dalam berkarya, memberikan kontribusi besar dalam peradaban, akan menjadi generasi hebat dan mumpuni dalam perpolitikan. 
Wallahu a'lam Bishshawab 


*(Pemerhati Ibu dan Generasi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar