Recent Posts

Sholat Virtual, Bolehkah?

Senin, 05 April 2021



Oleh: Relliyanie, S.Pd 
(Praktisi pendidikan dan pemerhati sosial)

Warganet dihebohkan ketika ada penyelenggaraan sholat Jumat secara virtual, Jumat 19 Maret 2021. Media sosial diramaikan dengan beredarnya sebuah poster acara Shalat Jumat Virtual. Menariknya, dalam poster tersebut disebutkan bahwa pelaksanaan Shalat Jumat tersebut bakal dihadiri oleh Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Prof. Komarudin Hidayat. Disebutkannya dalam poster tersebut acara Shalat Jumat Virtual diselenggarakan oleh Forum Belajar Demokrasi, Hak Asasi dan Keadilan Sosial. Adapun, acara yang bertema Demokrasi: Aku, kami dan Kita tersebut akan dilaksanakan melalui saluran Zoom Cloud Meeting dengan ID dan Password yang juga telah dicantumkan. 

Tentulah hal ini menuai kritikan dari tokoh masyarakat. Beberapa saat setelah informasi itu beredar, Politisi Partai Amanat Nasional (PAN) Mustofa Nahrawardaya turut berkomentar perihal gelaran acara tersebut. “Keterlaluan, ngadain acara beginian, sengaja bersamaan dengan Shalat Jumat. Kalau Rektor UIII ini sampai hadir, ya sudah kebablasan,” tulisnya melalui Twitter @TofaTofa_id, Jumat, 19 Maret 2021.

Selain itu, tanggapan juga datang dari Ketua MUI, Cholil Nafis. Dalam unggahannya di Twitter miliknya @cholilnafis pada Jumat, 19 Maret 2021, saat ditanya oleh warganet ihwal acara jumat virtual, Cholil mengatakan bahwa sudah jelas itu tidak sah. “Ya. Pasti tdk sah, apalagi pakai host segala. Khutbah itu ada syarat dan rukunnya. Dan saat khotib khutbah maka yang lain tidak boleh bicara menyimak khutbah,” ujarnya.

Dalam hal ibadah seperti sholat, maka seorang muslim haruslah bersikap tawqifi (tunduk menerima apa adanya) dari Nash-nash Syara' yakni Alquran dan hadits. Pemahaman yang harus dikaji dan diterapkan sebagaimana yang dicontohkan oleh Baginda Rasulullah Saw. Jikalau ada pengurangan dan penambahan dari suatu ibadah tadi maka dianggap bid'ah.

Ketika hari ini umat dihadapkan pada kondisi Pandemi, maka tidak bisa dijadikan alasan pelaksanaan sholat secara virtual karena ini bertentangan dengan fiqih sholat itu sendiri. Sebagaimana penjelasan KH. Shiddiq Al Jawi di Media Umat (19/3/2021). Beliau memaparkan pendapat dari para imam mu'tabar dalam Islam. Berikut penjelasannya: Tidak sah sholat Jumat virtual seperti yang ditanyakan tersebut, yaitu sholat Jumat di mana imam dan makmumnya terpisah dan tidak berada di tempat yang sama, seperti yang ditanyakan di atas, yaitu posisi imam (atau khathib) ada di Jakarta sedang makmumnya ada di berbagai tempat di seluruh Indonesia. 

Tidak sahnya sholat Jumat virtual tersebut dikarenakan tidak terpenuhinya salah satu untuk syarat sholat berjamaah, yaitu bersambungnya tempat _(al ittishâl al makânî)_ antara imam dan makmum, yang menjadi salah satu syarat sahnya sholat berjamaah menurut jumhur ulama (mazhab Hanafi, Syafi’i, dan Hambali). (Wahbah Zuhailî, _Al Fiqh Al Islâmî wa Adillatuhu,_ Juz II, hlm. 247). 

Syekh Sulaiman Al Jamal yang bermazhab Syafi’i dalam _Hâsyiah Al Jamal_ berkata :

ثالثها اجتماعهما أي الإمام والمأموم بمكان... فإن كان بمسجد صح الاقتداء وإن بعدت مسافة وحالت أبنية ... أو كانا بغيره أي بغير مسجد من فضاء أو بناء شرط في فضاء ولو محوطاً أو مسقفاً أن لا يزيد ما بينهما ولا ما بين كل صفين أو شخصين ممن ائتم بالإمام خلفه أو بجانبه على ثلاثمائة ذراع...

”Syarat ketiga (sahnya sholat berjamaah), berkumpulnya keduanya (imam dan makmum) di satu tempat…maka jika keduanya berada di satu masjid, sah hukumnya bermakmum. Adapun jika keduanya berjauhan dan terhalangi oleh bangunan…atau jika keduanya berada di luar masjid, seperti di tanah kosong atau di sebuah bangunan walaupun terlindung atau beratap, maka disyaratkan…jarak antara keduanya, juga jarak antara dua shaf, atau jarak antara dua orang, yaitu antara orang yang bermakmum kepada imam dengan orang di depannya atau di sampingnya, tidaklah lebih dari 300 _dzirâ’_ (hasta), [1 _dzirâ’ mursalah_ /  _dzirâ’ syar’i_ = 46,2 cm, maka 300 _dzirâ’_ = 300 x 46,2 cm = 13,86 meter], [maka hukum bermakmumnya tidak sah].” (Sulaimân Al Jamal, _Hâsyiah Al Jamal,_ Juz I, hlm.548-549; Abdul Qadim Zallum, _Al Amwâl fî Daulat Al Khilâfah,_ hlm. 51-52).

Imam Kasani yang bermazhab Hanafi dalam _Badâi Al Shanâ’i’_ berkata :
ومنها اتحاد مكان الإمام والمأموم ولأن الاقتداء يقتضي التبعية في الصلاة والمكان من لوازم الصلاة فيقتضي التبعية في المكان ضرورة، وعند اختلاف المكان تنعدم التبعية في المكان فتنعدم التبعية في الصلاة لانعدام لازمها
 
“Di antara syarat (sahnya sholat berjamaah), bersatunya tempat imam dan makmum, karena bermakmum itu menghendaki _taba’iyyah_ (sifat dapat mengikuti) dalam sholat. Dan faktor *tempat* termasuk hal-hal yang menjadi keharusan dalam sholat, maka _taba’iyyah_ dalam sholat sudah barang tentu menghendaki _taba’iyyah_ dalam hal tempat. Maka jika terjadi perbedaan tempat, hilanglah _taba’iyyah_ dalam hal tempat, dan ini berakibat hilangnya _taba’iyah_ dalam sholat itu sendiri, karena telah hilang hal-hal yang menjadi tuntutan dalam sholat.” (Imam Kasani, _Badâi Al Shanâ’i’ fî Tartîb Al Syarâ’i`,_ Juz I, hlm. 145).

Imam Ibnu Taimiyah yang bermazhab Hambali dalam _Majmû’ Al Fatâwâ_ berkata :
وأما إذا صفوا وبينهم وبين الصف الآخر طريق يمشي الناس فيه لم تصح صلاتهم في أظهر قولي العلماء...

”Adapun jika mereka [para pemilik toko / _hânût_ di sekitar masjid] membuat shaf, sedang shaf mereka dengan shaf berikutnya terhalang oleh suatu jalan raya yang orang-orang dapat berjalan melintasinya, maka tidak sahlah shalat mereka, menurut pendapat yang lebih jelas dari dua pendapat ulama...” (Ibnu Taimiyyah, _Majmû’ Al Fatâwâ,_ Juz XXIII, hlm. 409-410). 

Adapun mazhab Maliki yang paling longgar dalam masalah ini, jika mereka mengetahui sholat Jumat secara virtual (online) yang ditanyakan, niscaya mereka juga tidak akan mengesahkan sholat seperti itu.

Terjadinya kekeliruan dan kesalahfahaman umat seharusnya segera diperbaiki dan diluruskan oleh para ulama termasuk peran negara dalam mengedukasi dan memberikan bentuk pelayanan menjaga aqidah umat. Kondisi hari ini membuktikan bahwa ketika umat semakin jauh dari pemahaman Islam maka wajarlah kesalahan ini akan berulang. Sungguh umat membutuhkan hadirnya penguasa yang peduli dan amanah serta bertanggungjawab terhadap kehidupan rakyatnya, termasuk dalam menjalankan ritual ibadah mereka. 

Namun jika negara masih berasaskan kebebasan demokrasi, pastilah pemimpin yang didambakan menjaga aqidah dan rela mengurus rakyatnya tidak akan terwujud. Maka, sudah seharusnya lah umat bangkit dan berjuang untuk menegakkan sistem Islam yang paripurna karena bersumber dari Yang Maha Benar, Allah SWT, yakni institusi Khilafah. Wallahu a'lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar