Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Suburnya Penista Agama di Negeri Sekuler

Selasa, 27 April 2021


Oleh : Putri Efhira Farhatunnisa

Di bulan Ramadhan yang mulia ini, umat Islam dibuat geram. Seorang youtuber Joseph Paul Zhang, menghina Nabi Muhammad hingga Allah SWT dalam video zoom meeting berjudul "Puasa Lalim Islam" dengan durasi 3,2 jam yang ia unggah melalui kanal youtube miliknya. Joseph bahkan menantang siapapun yang bisa melaporkan dirinya atas penistaan agama, maka ia akan memberikan sejumlah uang sebagai hadiah.

"Yang bisa laporin gua ke polisi, gua kasih uang lo. Yang bisa laporin gua penistaan agama, nih gua nih nabi ke-26, Josep Fauzan Zhang meluruskan kesesatan ajaran nabi ke-25 dan kecabulannya yang maha cabullah. Kalo Anda bisa laporan atas penistaan agama, Gua kasih loh satu laporan Rp1 juta, maksimum 5 laporan supaya jangan bilang gua ngibul kan. jadi kan 5 juta, di wilayah polres berbeda," ujarnya dalam rekaman video tersebut, Sabtu (17/4/2021). (inews.id)

Bahkan Joseph menyebut jika umat Islam hanya dibodoh-bodohi oleh para ulamanya. Pernyataan yang sungguh tak pantas untuk diucapkan. Dimanakah toleransi beragama yang selalu digaungkan pemerintah? Penghinaan yang dilontarkan oleh sang youtuber tersebut adalah sikap yang sangat intoleran dan merupakan sebuah kejahatan besar. Namun sepertinya pembelaan tak berlaku untuk Islam, para penyeru toleransi seperti hilang ditelan bumi ketika Islam dilecehkan.

Kasus penistaan agama terus berulang, hal ini terjadi karena kebebasan menjadi landasan negara. Salah satunya kebebasan berpendapat yang dijunjung tinggi, siapapun bebas menyuarakan pendapat apapun termasuk menista agama. Sang pelaku bebas berkeliaran tanpa diberi pelajaran kalaupun dipidanakan, label tersangka hanya formalitas belaka. Inilah yang terjadi ketika Islam tak ditempatkan sebagai sumber aturan. Tak ada sanksi berefek jera saat Islam dicampakan yang ada hanya aturan yang bisa dimainkan sesuai pesanan.

Berbeda dengan Islam yang mempunyai sanksi tegas bagi setiap kejahatan, hingga menimbulkan efek jera pada pelaku. Selain negara yang menerapkan aturan Islam, sang pemimpin negara pun bersikap tegas seperti halnya para Khalifah terdahulu yang bisa dijadikan teladan dalam menyikapi para penista agama. Khalifah Abu Bakar ash- Shiddiq misalnya, yang memerintahkan untuk membunuh penghina Rasulullah saw.. (Lihat: Abu Daud rahimahullah dalam Sunannya hadis No. 4363)

Hal yang sama juga dilakukan Khalifah Umar bin Kaththab ra., beliau pernah mengatakan, “Barang siapa mencerca Allah atau mencaci salah satu Nabi, maka bunuhlah ia!” (Diriwayatkan oleh Al-Karmani rahimahullah yang bersumber dari Mujahid rahimahullah). Begitulah seharusnya sikap seorang pemimpin terhadap para penista agama, aturan pun harus tajam pada yang bersalah siapapun pelakunya. Hanya kepada Islam lah kita bisa menggantungkan harapan kesejahteraan hidup, karena selama sistem rusak yang digunakan maka hanya akan ada kesengsaraan tak bertepi. Sudah saatnya demokrasi mati, diganti dengan Islam yang dinanti. Wallahu a'lam bishawab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar