Recent Posts

Syariat Islam Penjaga Ketakwaan

Kamis, 01 April 2021

Oleh : Diani Ambarawati
(Pengemban Dakwah)

Selama bulan Ramadan lembaga penyiaran diminta untuk tidak menampilkan muatan yang mengandung lesbian, gay, biseksual, dan transgender (Elgebete), hedonistik, mistik atau horor atau supranatural, praktik hipnotis atau sejenisnya. 

Selain itu, lembaga penyiaran dilarang mengeksploitasi konflik dan atau privasi seseorang, bincang-bincang seks, serta muatan yang bertentangan dengan norma kesopanan dan kesusilaan. 

"Tidak menampilkan pengisi acara yang berpotensi menimbulkan mudharat atau keburukan bagi khalayak kecuali ditampilkan sebagai orang yang menemukan kebaikan hidup, insaf atau tobat," lanjut aturan tersebut. 

Kalau melihat dampak jangka pendek atau jangka panjang secara internal dan eksternal dari tontonan saat ini apakah akan terhapus memorinya selama 11 bulan dengan 1 bulan? Alih-alih menghormati kesucian bulan Ramadan, namun malah makin memperlihatkan sekulerisasi sistem saat ini. 

Ketakwaan individu akan terjaga apabila sudah terbentuk ketakwaan masyarakat apalagi negara sebagai pemegang kebijakan. Bagaimana tidak amburadul moral rakyatnya jauh dari predikat takwa. Apabila tayangan yang umum disukai yang tidak menambah ketaatan kepada Allah. Rakyat dibiarkan memilih sendiri tanpa edukasi secara terus menerus, bahkan bebas berekspresi melalui ucapan dan tingkah laku yang jauh dari kata takwa kepada Allah. 

Kaum muslim tidak hanya membutuhkan tayangan yang mendukung tercapainya tujuan puasa, tapi juga sistem yang benar-benar mewujudkan tujuan takwa. Apalagi, larangan tayangan selama Ramadan semestinya berlaku sepanjang waktu, bukan hanya momen puasa. Bagaimana peran media massa dalam syariat Islam? 

Media massa (wasaail al’ilam) berperan strategis dalam melayani ideologi Islam (khidmat al-mabda al-Islami), baik di dalam maupun di luar negeri (Sya’rawi, 1992). 

Di dalam negeri, media massa berfungsi untuk membangun masyarakat Islam yang kokoh. Di luar negeri, ia berperan menyebarkan Islam, baik dalam suasana perang maupun damai untuk menunjukkan keagungan ideologi Islam dan membongkar kebobrokan ideologi kufur. (Ghazzal, 2003). 

Islam mengatur etika penyiaran, konten dan isi siaran. Semuanya diramu menjadi santapan bergizi bernilai nurisi lengkap mulai dari bernilai moral islam, informasi faktual dan akurat, peringatan pelanggaran syariat islam dalam lisan dan tingkah laku dan mengajak untuk beramar ma'ruf nahi munkar. 

Perpaduan siaran penyiaran bernapaskan Islam dan melahirkan output yang bertakwa hanya bisa terwujud dalam sistem Islam dalam naungan kekhilafahan ala minhaj nubuwwah. 

Wallahu'alam bishowab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar