Recent Posts

Total Tayangan Halaman

Labels

Pesan Sekarang Juga!

Cara Ngirim Tulisan

Cara mengirim tulisan ke Pena Pejuang : 1. Kirim tulisan, bisa dalam bentuk tulisan wa, bisa juga dalam format docx. 2. Sertakan dengan gamb...

Teknologi Mitigasi Apa dan Siapa yang Bisa Mewujudkannya?

Minggu, 18 April 2021



Oleh : Maftucha S. Pd*


Belum usai duka yang menimpa Adonara, NTT pada hari ahad (4/4) lalu, kini kembali gempa bermagnitudo 6,1 terjadi pada Sabtu (10/4) di Kabupaten Malang dan Blitar Jawa Timur. Titik episentrum gempa diketahui berada di laut dengan jarak 96 kilometer selatan Kota Kepanjen, Malang, pada kedalaman 80 kilometer.

Selain di selatan Jawa Timur, gempa itu juga dirasakan di Solo, Yogyakarta, Wonogiri, dan sekitarnya. Berdasarkan laporan BNPB, hingga Minggu (11/4/2021) pagi, tercatat 8 meninggal dunia, 3 orang mengalami luka sedang hingga berat, dan 36 orang luka ringan akibat gempa bumi tersebut.

Menurut Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Raditya Jati dampak kerusakan gempa tersebar di 15 kabupaten dan kota di Jatim. Total rumah rusak, sebanyak 1.189 unit, dengan rincian 85 rusak berat, 250 rusak sedangkan, dan rusak ringan 854. Kerusakan fasum sejumlah 150 unit.

Bencana alam yang menimpa Indonesia memang sering terjadi. Hal ini dikarenakan Indonesia berada di wilayah ring of fire atau cincin api, sehingga aktivitas alam yang berpotensi menjadi bencana alam dapat terjadi kapan saja. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 372 kejadian bencana alam di wilayah Indonesia sejak awal tahun 2021. (ANTARA)

Bencana alam terbesar yaitu tsunami aceh dengan skala 9,1–9,3 dengan korban hingga 230-280ribu meninggal dan lainnya menghilang. Bencana demi bencana yang terjadi seharusnya membuat negeri ini memiliki mitigasi bencana dari pra, ketika dan pasca bencana.

Hal senada juga diungkapkan Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Azis Syamsuddin yang menekankan pentingnya mitigasi bencana melalui pemanfaatan teknologi. Menurutnya, ini poin penting yang harus mulai diterapkan oleh pemerintah.

Seringkali yang terjadi adalah penanganan pasca bencana saja sehingga jumlah korban baik fisik maupun manusia jumlahnya sangat banyak, tidak hanya itu dana dan tenaga yang dikeluarkan akan berlipat lipat. Padahal jika ada peringatan dini maka korban bisa di minimalkan.

Inilah pekerjaan besar yang harus dilakukan tidak hanya oleh Indonesia namun seluruh negeri negeri di dunia karena  merupakan kewajiban negara dalam melindungi nyawa manusia. 

Apakah ada Negara yang memiliki mitigasi bencana secara komprehensif? Islam, dalam  perjalanannya merupakan sebuah ideologi yang memiliki pandangan yang mendasar yakni bahwa kepemimpinan adalah amanah sehingga seluruh keadaan rakyatnya menjadi tangung jawabnya. 

Maka dalam kaitannya dengan bencana alam, Khilafah menetapkan kebijakan yang komprehensif berdasarkan aqidah Islam dan kemaslahatan ummat. Mitigasi bencana dilaksanakan pra, ketika dan pasca bencana. 

Mitigasi pra bencana dilakukan untuk mengurangi resiko bencana,bai kmelalui pembangunan fisik maupun penyadaran peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana, baik bencana alam,bencana akibat ulah manusia maupun gabungan antara keduanya.

Mitigasi pra bencana dilakukan dengan pembangunan fisik semisal tanggul, bendungan, pemecah ombak, reboisasi, pemeliharaan aliran sungai dari pendangkalan, tata kota berbasis amdal, kebersihan lingkungan dll. 
Selain itu khilafah akan membentuk tim SAR yang memiliki kemampuan yang profesional dan dibekali dengan peralatan yang canggih, semisal alat telekomunikasi, alat berat dll. 

Sedangkan ketika bencana maka tindakan ini dilakukan untuk mengurangi jumlah korban dan kerugian material, yakni dengan segera mengevakuasi korban secepat cepatnya, mendapatkan pertolongan dengan secepat cepatnya, mengalihkan material bencana ke tempat yang tidak dihuni manusia, selain itu menyiapkan lokasi pengungsian dan posko kesehatan. 

Berhasil tidaknya tahapan ini bergantung pada tahapan pra bencana
Penanganan pasca bencana adalah me-recovery korban dari trauma akibat bencana, memastikan mereka mendapatkan makanan, pakaian dan obat obatan. 

Recovery mental juga akan dilakukan dengan memberikan mereka tausiyah atau penguatan aqidah mereka. Selain itu recovey lingkungan tempat mereka tinggal, rumah sakit, gedung perkantoran dll. Semua itu dilakukan atas dengan keahlian yang mumpuni serta kesadaran bahwa ini adalah tanggung jawab di sisi Allah. 

Hanya dengan Islam-lah keselamatan dan kemaslahatan manusia diperhatikan dengan seksama dan detil, individu per individu dan masyarakat secara umum. 


*Anggota Aliansi Penulis Rindu Islam


Tidak ada komentar:

Posting Komentar