Recent Posts

Upaya Keji Mengaitkan Muslimah dengan Isu Radikalisme

Kamis, 08 April 2021




Penulis : Heni Satika (Praktisi Pendidikan)

Pasca terjadinya peristiwa terorisme dengan pelakunya perempuan, terdapat upaya untuk menggiring opini masyarakat bahwa perempuan rentan terhadap kegiatan terorisme dan radikalisme. Pemberian label terhadap seorang muslimah yang taat dengan syariah lebih dekat dengan radikalisme diperkuat dengan pendapat Pengamat terorisme dan visiting fellow RSIS NTU Singapur, Noor Huda Ismail menilai, bahwa keterlibatan perempuan terhadap radikalisme disebabkan karena ideologi radikal menawarkan kehidupan yang lebih bermakna dan perempuan yang terpapar ideologi radikalisme adalah perempuan yang lebih banyak beraktivitas di dalam rumah. Mereka punya banyak waktu sehingga berkenalan dengan ideologi radikalisme lewat media sosial.

"Biasanya alasannya sangatlah personal dan emosional, seperti kehilangan orang yang dicintai, ketidakmampuan untuk mengandung anak, atau susah mendapatkan pasangan menjadi pemantik perempuan terlibat aksi terorisme," kata Noor Huda kepada Kompas.com, Senin (5/4/2021).

Walaupun tidak secara langsung tetapi  pendapat ini memberikan frame negatif kepada perempuan yang beraktivitas di dalam rumah dengan mengatakan seorang perempuan yang mencurahkan seluruh waktunya untuk keluarga dianggap sebuah aktivitas yang tidak produktif sehingga masih punya waktu untuk melakukan radikalisme. Perempuan seperti itu cenderung kolot kurang pengetahuan sehingga mudah di doktrin dengan paham radikalisme.Tersirat penganjuran kepada para perempuan untuk terjun ke ranah public sehingga mereka tidak punya waktu untuk terlibat paham radikal.

 . Ditambah pemberian citra buruk terhadap ajaran Islam dengan memberikan ciri-ciri bahwa orang yang menjauhkan diri dari riba, menolak demokrasi dan melaksanakan syariat Islam adalah orang-orang yang dekat dengan radikalisme. Konten radikal juga sangat tendesius mengarah pada ajaran Islam Kaffah. Padahal jelas Islam sebagai sebuah agama sekaligus prinsip hidup tidak pernah mengajarkan perusakan fasilitas umum, bersikap terhadap orang kafir dan mengatur tentang makna jihad.

Kita perlu mewaspadai upaya ini karena bisa menyebabkan terpecah belah dan saling curiga mencurigai antar masyarakat. Kemudian akan ada pihak yang diuntungkan terhadap upaya pecah belah umat ini. Pengaitan isu terorisme, radikalisme dengan pelaksanaan Islam kaaffah dengan ciri-ciri taat syariah adalah sangat keji. Pihak-pihak yang terganggu dengan maraknya muslimah terutama kalangan emak-emak yang mulai tersadar akan kewajibannya untuk kembali pada hukum Islam. 

Karena selama penerapan sistem kapitalisme di negeri ini, para muslimah terutama kalangan emak-emak yang merasakan imbasnya. Di tengah kesulitan ekonomi dan negara yang abai mereka masih harus dibebani dengan memfilter dan menjaga anak-anak mereka dari paparan virus liberalisme buah dari penerapan sistem kapitalisme. Jadi wajar mereka menginginkan sebuah sistem alternatif  karena sudah jengah dengan kondisi sekarang. Keputusan ini bukanlah tanpa dasar dan bukan berasal dari kebodohan justru setiap manusia yang masih punya hati nurani akan bisa melihat ketimpangan dari sistem sekarang ini.

Pertanyaannya adalah siapakah pihak yang diuntungkan dengan framing negatif terhadap muslimah dan ajaran Islam? Yaitu mereka yang merasa terusik status quonya dan  akan kehilangan kekuasannya jika Islam hadir di tengah mereka. Sehingga tidak ada lagi celah untuk mengambil uang rakyat. 

Sehingga  mereka memberikan stigma negatif kepada pengemban dakwah Islam terutama muslimahnya agar mereka tidak lagi memegang teguh syariah Islam. Semoga kita tidak termakan frame tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar