Recent Posts

Hakikat Idul Fitri Kembali Kepada Aturan Ilahi

Jumat, 14 Mei 2021



Oleh: Rindoe Arrayah

             Alhamdulillah, kita sudah diberi kesempatan oleh Allah Swt untuk bisa menikmati bulan Ramadhan hingga di penghujung waktu. Saatnya kini, kita merayakan hari raya Idul Fitri meski masih dalam suasana pandemi.

Beberapa hari menjelang Idul fitri datang, banyak masyarakat  yang menyerbu pusat perbelanjaan untuk membeli baju baru yang akan dipakai saat  hari raya tiba.

Kawasan Pasar Tanah Abang ramai  oleh pembeli di Ahad, 9 Mei 2021 atau empat hari menjelang Idul Fitri 1442 H yang diperkirakan jatuh pada 13 Mei 2021. Blok F dan Blok B terutama trotoar di depan kedua blok itu masih ramai.

Meski padat, terutama jika dibandingkan dengan hari-hari kerja saat periode larangan mudik, pedagang menilai kepadatannya masih lebih rendah dibanding akhir pekan sebelumnya, 1 Mei yang sangat padat. "Ini lebih ramai sih, tapi masih kurang dibanding akhir pekan sebelumnya yang sampai padet banget," kata Arsen, pedagang di depan Blok F (Tempo.co, 9/5/2021).

Islam tidak pernah melarang bagi umatnya untuk merayakan Idul Fitri dengan baju baru. Namun, jangan sampai kita hanya memaknai Idul Fitri sebatas baju baru serta perayaan yang penuh dengan kegembiraan semata.
 
Hakikat Idul Fitri, sebagaimana disampaikan oleh Imam Ali radhiyalLahu ‘anhu, adalah:

Idul Fitri bukanlah bagi orang yang memakai pakaian baru.
Idul Fitri adalah bagi orang yang aman dari ancaman (neraka).
Idul Fitri bukanlah bagi orang yang memakai pakaian baru.
Idul Fitri adalah bagi orang ketaatannya bertambah.
Idul Fitri bukanlah bagi orang yang bagus pakaian dan kendaraannya.
Idul Fitri adalah bagi orang yang diampuni dosa-dosanya.

Karena itu sebagai manusia yang insya Allah lulus dari medan Ramadhan, tak layak kita mengabaikan dan mencampakkan al-Quran. Al-Quran rutin dibaca, tetapi tak berbekas pada jiwa. Al-Quran bahkan dilombakan, tetapi tak dipahami dan diamalkan. Peristiwa turunnya al-Quran diperingati, tetapi isinya tak diikuti. Al-Quran disakralkan, tetapi hukum-hukumnya tak dijadikan aturan kehidupan. Fisik al-Quran dijaga dari pemalsuan, tetapi kandungannya tak dijaga dari penyimpangan. Al-Quran diklaim sebagai pedoman, tetapi tak dijadikan sebagai aturan kehidupan. Al-Quran dijadikan sebagai penenang hati dengan lantunan yang mengalun, tetapi tak dijadikan sebagai sumber hukum. Yang menyedihkan, al-Quran mulia dianggap oleh negara sebagai hukum negatif yang harus diabaikan.

Jika demikian, berhati-hatilah! Seperti yang dikatakan oleh Anas bin Malik, yang ditulis oleh Imam al-Ghazali, dalam kitab Al-Mursyid al-Amin, halaman 65:

“Banyak orang yang membaca al-Quran, tetapi al-Quran justru melaknat dirinya.”

Mengapa? Karena mereka mencampakkan al-Quran. Apalagi para penguasa yang diberi kesempatan untuk menerapkan seluruh isi al-Quran, tetapi mereka tidak menerapkan al-Quran, padahal mereka punya kekuasaan.

Tanpa berpegang teguh pada al-Quran, negara berantakan. Ini karena hawa nafsu dikedepankan. Ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya dikebelakangkan. Jangan heran jika Islam malah dituduh sebagai sumber perpecahan, ancaman persatuan, bahkan dituding menginspirasi radikalisme dan ekstremisme.

Inilah kezaliman nyata di depan mata kita. Yang benar dianggap salah. Yang salah dianggap benar. Yang berkuasa bertindak seenaknya. Yang lemah diinjak-injak seperti sampah tak berguna. Hilang kasih sayang. Yang muncul nafsu kekuasaan.

Padahal Islam ya’lu wala yu’la. Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi dari Islam. Islam diturunkan oleh Zat Yang Mahamulia, melalui malaikat yang paling mulia, Jibril ‘alaihissalam, kepada manusia paling mulia, Rasulullah Muhammad saw. Bagaimana mungkin Islam menyebabkan kerusakan, kehancuran dan keterbelakangan?

Justru dengan Islam kaum Muslim akan menjadi umat terbaik, khayru ummah. Islam dengan sistemnya, Khilafah, akan mengangkat derajat manusia dari kezaliman, keterpurukan, keterbelakangan, ketertindasan menuju peradaban agung yang diridhai Allah SWT.

Karena itulah Idul Fitri harus menjadi momentum kita semua untuk berubah. Menjadi manusia baru. Laksana kupu-kupu yang indah memesona, yang baru melewati masa kepompong selama Ramadhan. Taat kepada Allah dan Rasul-Nya secara totalitas, tanpa batas.

“Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali-Imron: 110)

Wallahu a’lam bishshowab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar