Recent Posts

Kebijakan Amburadul Buah Sekulerisme

Sabtu, 22 Mei 2021



Oleh : Dina

 

Kunjungan wisatawan ke Pantai Ancol, Jakarta, Jumat (14/5/2021), membeludak mencapai kisaran 39 ribu orang. Kerumunan wisatawan di Ancol dikhawatirkan bakal memicu terjadinya klaster baru penyebaran Covid-19.

Ancol pun sempat trending topic di twitter. Tidak sedikit warganet yang membandingkan kerumunan kunjungan wisatawan yang mandi di Pantai Ancol, mirip dengan yang dilakukan warga India saat melakukan ritual mandi di Sungai Gangga yang diduga menjadi pemicu terjadinya gelombang "tsunami" Covid-19.

Warganet semakin geram lantaran di satu sisi Pemprov DKI membuka Pantai Ancol untuk umum pada hari kedua Lebaran. Tetapi di sisi lain mengeluarkan kebijakan larangan ziarah kubur.

Wakil Ketua DPR Bidang Korkesra Abdul Muhaimin Iskandar meminta Pemprov DKI lebih bijak dalam membuat sebuah kebijakan. Menurutnya, kebijakan membuka Pantai Ancol, jelas menimbulkan kerumunan yang sulit dikendalikan.

Bagaimana orang mandi di pantai bisa menerapkan protokol kesehatan? Pakai masker juga tidak mungkin. Mau jaga jarak juga bagaimana caranya? Lihat saja berbagai gambar kerumunan yang terjadi di Ancol pada Jumat kemarin," ujar Muhaimin Iskandar, Sabtu (15/5/2021).

Muhaimin Iskandar Sebut Penutupan Sementara Ancol Terlambat dan Tak Tepat.Wakil Ketua DPR Abdul Muhaimin Iskandar meminta Pemprov DKI lebih bijak dalam membuat sebuah kebijakan.

Ketua Tim Pengawasan Penanganan Bencana Covid-19 DPR ini meminta agar Pemprov DKI tidak membuat standar ganda dalam sebuah kebijakan. Di satu sisi ziarah kubur yang menjadi ritual umat muslim saat Lebaran dilarang dengan alasan mencegah penularan Covid-19 karena terjadi kerumunan massa, namun disisi lain wisata Ancol dibuka.

"Kalau hari ini akhirnya ditutup, ya saya rasa terlambat. Dan jangan penutupan sementara untuk hari ini saja. Keselamatan rakyat harus diprioritaskan. Jangan membuat kebijakan yang justru mengorbankan rakyat. Jangan sampai apa yang terjadi di India, terjadi pula di Indonesia akibat sebuah kebijakan yang tidak tepat," kata Ketua Umum DPP PKB ini.

Diketahui, pada hari kedua Lebaran, jumlah kunjungan ke Pantai Ancol membludak hingga tembus 39.000-an pengunjung. Mereka terlihat asyik mandi di pantai tanpa mengindahkan protokol kesehatan. Hal ini dikhawatirkan bakal menjadi penyebab klaster baru penularan Covid-19.

Dari hal tersebut tak heran jika masyarakat akan berpikir bahwa pemerintah lebih mementingkan perkara ekonomi ketimbang memerhatikan keselamatan rakyat. Kebijakan yang tidak konsisten tentu akan memperparah kondisi penyebaran virus Corona.

Disatu sisi rakyat harus menelan pil pahit dengan kebijakan larangan mudik bertemu dengan sanak saudara namun disisi lain rakyat melihat dengan jelas bahwa tempat wisata, pasar, dan lain sebagainya ramai di kunjungi warga.

Sungguh ironi hidup di negeri sekuler, kebijakan yang dibuat hanya untuk menyenangkan para kapitalis, tanpa peduli nasib rakyat. Permasalahan ekonomi yang dari dulu menjadi masalah klasik tanpa mampu menemukan solusi akibat kebijakan yang rusak. Secara logika, negeri yang kaya raya dengan sumber daya alamnya namun justru banyak hutangnya, membludak pengangguranya serta terus bertambah angka kemiskinan rakyatnya.

Kekayaan yang selama ini hidup di bumi khatulistiwa dengan mudahnya para kapitalis yang rakus terus mengelola hanya demi kepentingan pribadi mereka. Tentu dengan begitu rakyatlah menjadi korbannya, rakyat hanya bisa gigit jari menyaksikan para kapital semakin makmur hidupnya sementara mereka harus mempertaruhkan nyawa mencari sesuap nasi.

Ditengah ekonomi yang merosot, permasalahan baru kembali mendera bumi Pertiwi, penyebaran virus Corona yang hingga sekarang tak mampu dibendung telah menelan korban yang terus meningkat. Penanganan yang kurang efisien, serta kebijakan pemerintah yang terkesan amburadul hingga akhirny menambah jumlah korban.

Sehingga sudah selayaknya kita kembali kepada sistem yang terbukti mampu menyelesaikan permasalahan besar negeri ini. Sistem yang lahir dari Sang Maha Sempurna yaknh sistem Islam, telah terbukti dapat menyelesaikan permasalah-permasalahan yang membahayakan kondisi sebuah negara. Dan sudah selayaknya lah kita bersama bersatu walau memiliki latar belakang yang berbeda-beda bersatu untuk memperjuangkan sistem ini bisa diterapkan kembali. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar