Recent Posts

KESABARAN LEVEL ATAS MENGHADAPI KEBIJAKAN YANG TIDAK JELAS

Kamis, 06 Mei 2021


Oleh : Ummu Aqeela

Libur panjang Lebaran tentu menjadi momen paling dinanti. Banyak di antara mereka memanfaatkan waktu untuk pulang kampung alias mudik. Tentu ini menjadi keseruan tersendiri. Berjumpa dengan keluarga besar setelah setahun bekerja banting tulang di kota orang. Tradisi melepas rindu ini tampaknya belum bisa dijalankan tahun ini. Sama seperti 2020 lalu, larangan mudik terus genjar disampaikan pemerintah dan pandemi Covid-19 menjadi alasan utamanya.

Mudik lebaran tahun 2021 resmi dilarang oleh pemerintah demi mencegah penyebaran virus COVID-19. Baik kendaraan umum maupun pribadi semuaya dilarang untuk beroperasi ke luar kota (mudik) sejak tanggal 6-17 Mei 2021. Bahkan pemerintah pun menegaskan akan memberikan sanksi melalui Permenhub bagi masyarakat yang tetap melakukan mudik. "Kami tetap konsisten untuk melaksanakan kebijakan larangan mudik. Kami tengah melakukan finalisasi Permenhub tersebut yang akan segera kami terbitkan dalam waktu dekat," kata

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi di laman Kemenhub, Ahad (4/4).
Hal ini tentu saja menimbulkan berbagai respon di masyarakat, karena kebijakan ini dianggap tidak sesuai dengan aturan pemerintah yang tetap membuka akses wisata di berbagai tempat. Selain itu sebelumnya pemerintah juga tidak melarang masyarakat untuk melakukan mudik atau diperbolehkan. Kebijakan yang bisa dikatakan plin-plan dan juga paradoks seperti ini membuat beberapa sektor industri yang sempat optimis untuk menghadapi pandemi kembali pesimis. (Kompasiana.com, 15 April 2021)

Dengan tidak adanya kejelasan seperti ini menimbulkan persepsi di masyarakat bahwasannya kebijakan larangan mudik tidak akan efektif. Dengan dalih untuk mencegah penyebaran COVID-19 akan tetapi sektor wisata masih dibuka sama aja penyebaran COVID-19 tidak akan bisa dibendung. Walaupun memang pemerintah menjamin bahwasannya pembukaan sektor wisata tidak bertolak belakang dengan kebijakan larangan mudik, dan juga memang pemerintah menyiapkan beberapa opsi ketat agar sektor wisata yang dibuka ini tetap aman dan tidak menimbulkan cluster baru. Langkah pemerintah yang seperti ini tidak hanya sekali dua kali, beberapa kali pemerintah kerap membuat kebijakan yang memang menimbulkan kebingungan di masyarakat. Bagi masyarakat awam hal seperti ini membuat mereka resah, momen lebaran yang memang hanya sekali setiap tahun dan memang digunakan khusus untuk menjalin silaturahmi antar keluarga dapat terputus dengan adanya kebijakan seperti ini.

Disinilah kita sadar bahwa ajaran kesabaran dalam Islam sangat penting untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, dalam berbagai sendi dan dinamika kehidupan, terutama penerimaan kita dalam berbagai kebijakan yang terkadang susah dinalar. Niat melarang arus mudik dengan tujuan menekan angka kenaikan ditengah wabah covid 19 yang masih berlangsung adalah hal yang wajar, namun menjadi tidak wajar jika kebijakan serupa tidak diterapkan disisi yang lainnya, misal masih beroprasinya tempat-tempat wisata, tempat hiburan, dsb.

Atas dasar itulah kesabaran tingkat tinggi harus kita perbanyak disesi ini, sesi dimana umat dipermainkan dengan berbagai kebijakan yang tumpang tindih. Dan untuk itu umat harus bersabar, karena sabar merupakan sebab utama terwujudnya cita-cita disertai amal dan usaha sungguh-sungguh. Tidaklah hilang dari seorang suatu kesempurnaan, kecuali karena lemahnya kekuatan dalam menanggung rasa sabar dan beban. Karena dengan kunci kesabaran yang kokoh, gembok-gembok persoalan dapat diatasi. Namun kesabaran saja tidak akan cukup jika kita tidak ada ikhtiar atau usaha berjuang, berjuang untuk apa? Tentu saja memperjuangkan tegaknya syari’at Islam, karena hanya Islamlah perangkat sempurna berserta aturannya yang sudah pasti melahirkan aturan yang jelas tidak tumpang tindih. Dan untuk itulah urgensi bahwa syari’at Islam dalam naungan Khilafah Islamiyah harus ditegakkan., karena hanya islamlah yang melahirkan kebijakan yang bersumber terhadap Al Quran dan Sunnah serta ijtihad. Bukan kebijakan yang asal dikeluarkan namun melahirkan kebingungan untuk umat.

Wallahu’alam bishowab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar