Recent Posts

Pengunjung Membludak di Tempat Wisata Saat Lebaran Pertama Tiba

Jumat, 14 Mei 2021



Oleh: Rindoe Arrayah 

             Kebijakan pemerintah mengenai pelarangan mudik dalam rangka untuk mengantisipasi pertambahan klaster covid-19 ternyata hanya isapan jempol belaka. Bagaimana tidak? Di sisi lain, pemerintah justru membuka lebar beberapa tempat wisata untuk bebas dikunjungi. Sebuah kebijakan yang menuai pro dan kontra di tengah masyarakat.

Sebanyak 25.000 orang menghabiskan hari pertama Lebaran di kawasan wisata Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara, Kamis (Kompas.com. 13/5/2021). 

Hal itu disampaikan Head of Corporate Secretary of Pembangunan Jaya Ancol, Agung Praptono di Pantai Timur Ancol, Kamis sore. "Untuk di hari pertama Lebaran ini, sampai dengan saat ini pukul 17.00 WIB, pengunjung yang sudah masuk di kawasan Ancol sekitar 25.000 orang," kata Agung.

Berdasarkan fakta di atas, semakin tampak betapa sistem kehidupan  yang diterapkan oleh pemerintah dalam mengatur kehidupan rakyatnya saat ini yang berlandaskan Kapitalisme-Sekularisme telah nyata kerusakannya. Sistem kehidupan yang menjadikan manfaat sebagai landasannya ini tidak melihat halal dan haram terkait dengan segala kebijakan yang akan diputuskan. Sehingga, tidak mengherankan jika kerusakan yang ditimbulkan pun semakin merajalela.

Hal ini sangat berbeda jauh dengan sistem kehidupan yang berlandaskan  syari’at Ilahi, yaitu Islam sebagai risalah paripurna dan sempurna yang mengatur seluruh aspek kehidupan. Semua aktifitas yang dilakukan senantiasa berlandaskan keimanan. Oleh karenanya, jika kita menengok sejarah manakala Islam pernah berjaya dalam kurun waktu 14 abad lamanya akan banyak ditemui kebijakan yang selalu membawa ketentraman bagi seluruh rakyatnya.

Keadilan dan kebenaran tidak akan tampak kecuali dengan adanya kekuasaan pemimpin. Rakyat akan menjadi lemah tanpa pemimpin. Jika rakyat lemah maka mereka tidak akan mendapatkan kemaslahatan; hukum-hukum syariat pun tidak bisa ditegakkan. Akibatnya, mereka merasa tidak nyaman hidupnya, tidak mendapatkan kemuliaan dan tidak dapat mengusir musuh-musuh mereka. Karena sejatinya, pemimpin adalah pelindung umat. Rasulullah saw. Menggambarkan hal ini dalam sabdanya:

"Sesungguhnya seorang imam (pemimpin) itu merupakan perisai, tempat orang-orang beperang di belakangnya dan berlindung dengannya."(HR. Bukhari)

 Sosok pemimpin yang seperti hadits Rasulullah Saw di atas saat ini tidak ada. Yang ada hanyalah pemimpin-pemimpin kufur yang masih menolak beriman kepada Allah SWT. Hal ini menyebabkan gagal pahamnya masyarakat dalam mentaati pemimpin. Sehingga saat ini banyak terjadi taklif buta masyarakat yang menjadikan pemimpin kufur sebagai panutannya. Baik itu karena di anggap adil (makna adil itu luas tergantung dari sudut pandang mana dia menilai) ataupun hanya sebagai pendukung bayaran. Itu salah.

Sebab, sosok pemimpin dalam Islam haruslah mampu untuk mendukung dakwah islam dan mampu menegakkan Syariah. Karena dengan telaksananya 2 poin tersebut, Islam Rahmatan Lil'alamin akan tercipta.

Sosok pemimpin yang harus jadi panutan adalah Rasulullah saw. Beliau sebagai suri tauladan yang luar biasa sebab memiliki kesempurnaan, baik itu sifat, perilaku maupun tutur kata. Pujian-pujian untuknya tidak pernah lekang dimakan zaman. Dan bukan hanya kalangan umat muslim saja yang menjadikannya sebagai suri tauladan tetapi orang non-islam pun banyak, salah satunya adalah George Bernard Shaw yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad merupakan sosok pribadi yang agung, sang penyelamat kemanusiaan. Ia pun sangat meyakini bahwa apabila Nabi Muhammad memegang kekuasaan tunggal di dunia modern ini, maka Nabi Muhammad akan berhasil mengatasi segala permasalahan dan ia mampu membawa kedamaian serta kebahagiaan yang dibutuhkan oleh dunia.

Allah SWT berfirman dalam surah Al-Ahzab ayat 21, yang artinya :

"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah."

Adapun kita semua, setiap manusia adalah pemimpin. Minimal pemimpin terhadap selurh metafisik dirinya. Dan seiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang dipimpinnya. Hal ini di tegaskan dalam sabda Rasulullah Saw., yang maknanya sebagai berikut :

"Ingatlah! Setiap kamu adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban tentang kepemimpinannya, seorang suami adalah pemimpin keluarganya dan ia akan dimintai pertanggung jawaban tentang kepemimpinannya, wanita adalah pemimpin bagi kehidupan rumah tangga suami dan anak-anaknya, dan ia akan dimintai pertanggung jawaban tentang kepemimpinannya. Ingatlah! Bahwa kalian adalah sebagai pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban tentang kepemimpinannya," (Al-Hadits).

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Maidah [5]: 49)

Wallahu a’lam bishshowab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar