Recent Posts

Visi Pendidikan Terkubur Arus Kapitalisasi Dan Liberalisasi

Sabtu, 08 Mei 2021


Oleh : Ummu Hanif, pengamat sosial dan keluarga

             Tanggal 2 mei selalu mengingatkan kita pada sosok inspiratif, Ki Hajar Dewantara, yang dianggap sebagai peletak dasar Pendidikan di Indonesia. Sehingga setiap tanggal 2 Mei seluruh civitas academika akan melangsungkan peringatan Hari Pendidikan Nasional. Adapun tahun ini, Dalam menyambut Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang jatuh pada 2 Mei 2021, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan memeriahkannya dengan berbagai kegiatan mengangkat tema "Serentak Bergerak, Wujudkan Merdeka Belajar".

Melalui www,kemendikbud.go.id dikabarkan, untuk mengawali peringatan Hardiknas pada tanggal 1 Mei 2020, Kemendikbud bersama Pemerintah Daerah Provinsi D.I. Yogyakarta dan para pegiat pendidikan dan kebudayaan menyelenggarakan ziarah ke makam Ki Hajar Dewantoro. Selanjutnya, pada 2 Mei 2021 dilasakan upacara bendera di kantor Kemendikbud, pukul 08.00 WIB dipimpin langsung oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Anwar Makarim.
 
Selanjutnya, pada pada tanggal 2 Mei 2021 pukul 16.00 WIB, Kemendikbud akan menayangkan program Hardiknas yang berisikan siniar (podcast) inspiratif bersama Presiden RI H. Ir. Joko Widodo yang dipandu oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Anwar Makarim. Tayangan ini juga akan dimeriahkan oleh beberapa artis ternama.
 
Sementara itu, masih dalam nuansa Hardiknas, Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Bambang Soesatyo mempertanyakan tingginya anggaran pendapatan dan belanja nasional (APBN) untuk pendidikan yang tak berbanding lurus dengan rendahnya indeks pembangunan manusia (IPM) Indonesia selama beberapa tahun terakhir.

“Menurut United Nations Development Programme (UNDP), IPM Indonesia pada 2020 Indonesia berada di peringkat 107 dari 189 negara. Peringkat itu bahkan kalah dari beberapa negara lain se- Asia Tenggara,” ungkapnya (cnnindonesia.com, 3/5/2021).

Ia menambahkan, sebagai pembanding, survey kemampuan pelajar yang dirilis Programme for International Student Assessment juga menempatkan posisi Indonesia berada lebih rendah dari negara-negara lain di Asia Tenggara. Pada 2019, laporan itu menempatkan Indonesia di posisi 72 dari 77 negara.

Selain tingginya dukungan anggaran, ia turut mempertanyakan implementasi konsep Merdeka Belajar Kemendikbud, yang tidak boleh mengabaikan sejumlah pekerjaan rumah di bidang pendidikan.

Di sisi lain, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Kemendikbud-Ristek, Nizar berdalih bahwa tingginya alokasi APBN untuk pendidikan yang tak diiringi capaian maksimal karena dua per tiga anggaran tersebut ditransfer ke daerah (cnnindonesia, 4/5/2021).

Kalau kita perhatikan, buruknya politik anggaran untuk Pendidikan, telah membuat gap antara pusat dan daerah selalu dalam kondisi memprihatinkan. Baik soal aksesibilitas, ketersediaan sarana prasarana pendidikan, maupun ketersediaan tenaga pendidik yang berkualitas. Hal ini diperparah dengan posisi negara yang memang sudah lama berlepas diri dari posisinya sebagai penyelenggara pendidikan. Malah dengan sadar, menyerahkan urusan pendidikan kepada mekanisme pasar. Hingga pendidikan pun, berubah menjadi barang mahal yang diperjualbelikan.

Wajar jika apa yang disebut dengan “merdeka belajar” dan “pendidikan untuk semua” nyatanya hanya ada dalam wacana. Idealisme soal keadilan, benar-benar telah terkubur oleh arus kapitalisasi dan liberalisasi yang meracuni peradaban manusia. Termasuk memandulkan fungsi mulia negara sebagai pengatur urusan rakyatnya.

Tak hanya itu saja, buruknya sistem pendidikan diperparah dengan massifnya proses sekularisasi kurikulum melalui proses marginalisasi agama. Sehingga sangat sulit mewujudkan peradaban cemerlang. 

Berbeda dengan sistem pendidikan Islam yang tegak di atas asas akidah Islam yang sahih lagi kokoh. Yakni berupa keyakinan bahwa manusia, kehidupan dan alam semesta adalah ciptaan Allah Ta’ala. Dan bahwa apa yang ada sebelum kehidupan dunia, serta apa yang ada setelahnya, berkaitan dengan apa yang dilakukan manusia di dunia. Yakni dalam bentuk hubungan penciptaan dan pertanggungjawaban (hisab.

Maka dalam konteks sistem pendidikan, visi pendidikan Islam menjadi washilah melahirkan profil generasi terbaik yang paham tujuan penciptaan. Sebagai hamba Allah berkepribadian Islam sekaligus khalifah yang punya skill dan kecerdasan untuk membangun peradaban cemerlang. Wallahu a’lam bi ash showab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar