Recent Posts

Betulkah PSBB atau Lockdown Solusi Tepat Penanganan Wabah?

Rabu, 23 Juni 2021



 Oleh : Ummu Ahnaf



Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Hermawan Saputra mendorong pemerintah untuk menerapkan kebijakan yang radikal agar keluar dari lonjakan pandemi virus corona (Covid-19) saat ini.
Hermawan mengatakan pemerintah memiliki dua opsi yang bisa diambil saat ini, yakni PSBB ketat atau lockdown regional. Menurutnya, pilihan yang paling radikal adalah lockdown. (Cnnindonesia)


"Pemerintah harus radikal. Opsinya ada dua, mau PSBB seperti semula, atau lockdown regional terbatas pada pulau besar. Opsi paling radikal tentunya lockdown regional, radikal, tapi paling logis," kata Hermawan dalam Konferensi Pers 'Desakan Emergency Responses: Prioritas Keselamatan Rakyat di Tengah Pandemi' dalam YouTube, Minggu (20/6).


Hermawan menyebut lockdown regional merupakan opsi yang bisa membantu Indonesia keluar dari situasi lonjakan pandemi Covid-19. Ia menegaskan lockdown dapat memutus mobilitas orang dengan ketat.

Lockdown juga jadi opsi yang disarankan karena berkaca pada negara-negara yang sukses mengatasi pandemi Covid-19. Beberapa di antaranya seperti Australia, Jerman, Belanda, dan beberapa negara lainnya di Eropa.

Lebih lanjut, Hermawan juga mengkritik kebijakan 'gas-rem' yang seringkali jadi narasi Presiden Joko Widodo saat kasus melonjak. Menurutnya, kebijakan 'gas-rem' tak cukup kuat mengatasi pandemi, bahkan bisa jadi bom waktu.

"Rem-gas, rem-gas itu adalah kebijakan terkatung-katung yang membuat kita hanya menunda bom waktu [ledakan kasus]," ujarnya.

Sementara Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang dulu diterapkan di DKI Jakarta dan beberapa provinsi kini telah mengalami berbagai modifikasi hingga berubah nama menjadi Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

Hermawan menilai ada perbedaan kentara antara PSBB dan PPKM. PSBB dinilai bertujuan untuk memutus mata rantai penularan, sementara PPKM merupakan 'relaksasi' yang tidak bisa memutus penularan Covid-19.

"Jadi dari perspektif kebijakan, Indonesia belum memiliki policy options yang kuat untuk pengendalian Covid-19," kata Hermawan.

DKI Jakarta kembali memperpanjang PPKM skala mikro hingga 28 Juni 2021. Pada PPKM kali ini, kegiatan dibatasi hingga pukul 21.00 WIB.

Sementara Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menetapkan Bandung Raya siaga satu Covid-19. Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubowono X menyerukan lockdown untuk menekan penyebaran virus corona.


Sistem demokrasi tak serius dalam penanganan wabah penyakit yang ada saat ini. Sampai saat ini pemerintah belum juga berhasil dalam penanganan atau pencegahan virus covid-19. Korban terus bertambah. Kasus covid-19 yg sudah lebih dari 1 tahun ini masih menjangkit negeri ini tak kunjung menemukan titik terang untuk menangani atau menyelesaikanwabah yang ada. 

Justru korban semakin bertambah. Angka kematianpun semakin meningkat akibat Covid - 19. Rumah sakit penuh tak lagi dapat menampung pasien covid-19. Tim medis berguguran. Pemerintah  yg seharusnya memberikan jaminan kesehatan sepenuhnya justru lalai akan tanggung jawabnya  terhadap kesehatan rakyatnya. Pemerintah justru membuka pintu masuk bagi warga asing yang terus berdatangan ke negri ini. Seakan pemerintah tak memikirkan keselamatan dan kesehatan rakyatnya. 

Rakyat yang seakan menjadi korban akibat keteledoran aturan yang di buat oleh pemerintah. Pemerintah memberikan solusi vaksin yang katanya di anggap sebagai salah satu jalan pemutus mata rantai Covid -19 faktanya justru sampai dengan saat ini korban akibat covid-19 semakin banyak. Padahal rakyat tahu negara mengeluarkan dana yang cukup fantastis untuk membeli vaksin pada aseng konspirasi macam apa ini. Siapa yang di untungkan  dan siapa yang dirugikan. 

Belum lagi pemerintah juga memberikan kebebasan bagi warganya yang mau pergi ke mall, tempat wisata, hajatan, pasar dan banyak lagi acara yang tentu kita tau tempat berkerumun adalah salah satu media tercepat dalam penularan Covid -19. Pemerintah tidak mengambil keputusan melakukan lockdown. Keputusan di ambil oleh pemerintah dengan alasan ekonomi negara yang semakin merosot dan hutang semakin menumpuk. Tidak lagi sanggup mencukupi semua kebutuhan rakyatnya termasuk memberikan fasilitas jaminan kesehatan sepenuhnya untuk rakyatnya. 

Solusi

Wabah covid-19 butuh penanganan yang serius dari pemerintah. Dan pemerintah juga wajib memberikan jaminan kesehatan sepenuhnya untuk rakyatnya. Sebagaimana yang di contohkan saat sistem pemerintahan Islam "Khilafah" masih memimpin dunia. Sistem Islam begitu teliti mencegah dan menyelesaikan masalah yang ada. 
Seperti masalah virus covid-19 saat ini. Sistem Islam mempunyai solusi cara  menghentikan pandemi penyakit.
Yaitu dengan Thibbun Nabawi yang diadopsi dan diterapkan oleh Khilafah.

Thibbun Nabawi adalah pengobatan/kedokteran/kesehatan yang mengikuti metode Kenabian.
Thibbun Nabawi sendiri memiliki 4 konsepsi. Yakni:

1. Ilahiyah

Yaitu, prinsip ketuhanan atau idrak silah billah atau spritualitas/tauhid/akidah/ideologi [mabda'] Islam, yaitu kembali kepada Allah, keimanan yang kokoh kepada Allah dengan menjadikan Islam sebagai qaidah fikriyah (asas berpikir) dan qiyadah fikriyah (kepemimpinan berpikir).

Bertaubat kepada Allah atas segala maksiat dan dosa, dan makin perbanyak taqarrub (mendekatkan diri/perbanyak beribadah dengan menguatkan ibadah wajib dan memperbanyak ibadah sunnah serta perbanyak amal shalih dan positif thinking) kepada Allah serta sabar dan ridha terhadap qadha Allah serta bertawakkal kepada Allah. Serta berislam secara kaffah dari akar hingga daunnya.

Sekaligus senantiasa menjalankan Syariah Islam dalam pencegahan dan pengobatan serta perawatan secara Islami yang bersifat wholistic (kaffah) baik secara aqliyah (pola pikir) maupun nafsiyah (pola sikap) serta juga memohon kesembuhan kepada Allah SWT sebagai Asy-Syaafi [Sang Maha Penyembuh], sebab Dia-lah yang menurunkan penyakit dan Dia-lah pula yang menurunkan obatnya.

2. Alamiyah, yaitu natural/obat-obatan/vaksin/antitoksin/antibiotik/antivirus diusahakan alami dari alam, yakni berasal dari herbal-herbal pilihan baik herbal nabati (tanaman-tanaman pilihan tertentu: dari akar, rimpang, umbi, batang, kulit, kayu, ranting, daun, bunga hingga buahnya) dan herbal hewani (seperti: tripang emas, omega 3, madu, propolis, enzim hewan yang halal, bakteri baik, dll), maupun herbal yang berasal dari non nabati-hewani (seperti: air, tanah, garam, dll) yang tentunya semuanya itu halalan dan thoyyibah serta sesuai takaran dan komposisinya serta sesuai dengan resepnya.

Dan juga melalui proses detokfikasi (membuang racun dalam tubuh) dan penguatan sistem imunitas pikiran dan tubuh, baik melalui terapi herbal-herbal pilihan tersebut maupun melalui terapi-terapi alamiah lainnya, seperti bekam, gurah, puasa, fashdu, akupuntur, ruqyah syar'iyah, menjaga pola makan dan pola hidup serta pola istirahat, olah raga yang teratur, social distancing, dll.

3. Ilmiyah

Yaitu, teruji dan terbukti secara klinis serta pula teruji dan terbukti secara laboratoris serta terbukti pula secara historis dan emphiris kemujarabanannya/keampuhannya.

4. Siyasiyah

Yaitu, kekuasaan/kewenangan/pengurusan dengan power full atau politik kesehatan yang dilakukan oleh individu, jama'ah (kelompok/masyarakat) dan negara (Khilafah) baik berupa pencegahan (seperti meneliti dan mengkaji secara mendalam dan cemerlang akar masalah penyakit dan solusi/obatnya. 

Edukasi baik melalui sistem pendidikan Islam maupun melalui media-media Islam dan juga melalui dakwah Islam, menjaga kebersihan dan kesucian serta menjaga pola pikir dan pola hidup, social distancing dan lockdown, membangun infrastruktur kesehatan/rumah sakit-laboratorium-farmasi dan pasukan medis serta sertifikasi tenaga medis, dan membangun rumah sakit khusus penanganan dan karantina bagi rakyat yang positif terpapar wabah penyakit, pengadaan dan distribusi obat-obatan atau vaksin ataupun antibiotik dan antitoksin yang sudah lulus uji klinis-medis, dll), perawatan dan pengobatan serta pemulihan secara wholistic atau komprehensif ataupun kaffah atau syumuliyah dan terstruktur, terorganisir dan sistemik. Serta menjamin pelayanan kesehatan yang terbaik dan berkualitas serta gratis untuk rakyat dan menjamin pula kebutuhan pokok hidup rakyat yang terkena dampak pandemi dan yang sedang wilayahnya dilockdown atau sedang dikarantina untuk memutus mata rantai penyebaran wabah atau pandemi penyakit tersebut dengan menerapkan sistem politik ekonomi Islam dan sistem jaminan pelayanan kesehatan dalam Islam.

Dengan empat konsepsi Thibbun Nabawi problematika masalah yg ada seperti wabah penyakit saat ini. Pasti bisa bisa terselesaikan.

Wallahu'alam Bishshawwab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar