Recent Posts

Kesetaraan Gender Buah Hasil Dari Kapitalisme

Sabtu, 12 Juni 2021



N. Elylumahatu

Kata kesetaraan gender tentu tidak asing lagi tuk di dengar, yaitu (keadaan dimana laki-laki dan perempuan berada pada kondisi dan status yang sama dalam merealisasikan profesi dan hak asasinya). Walhasil, kebanyakan kaum perempuan yang hidup dibawah sistem kapitalis saat ini, lebih memilih bekerja diluar rumah sebagaimana yang dilakukan oleh kepala keluarga (suami), daripada mengurus rumah tangganya dan anak-anaknya dirumah. Statusnya sebagai seorang ibu hanya disandangkan sebatas gelar semata, karena telah melahirkan anak-anaknya.

Sementara perannya sebagai seorang ibu diserahkan kepada baby sister atau pembantu mereka. Dalam hal ini, tentu ada kekeliruan terhadap psikologi anak. kenapa? Karena sedari bayi hingga beranjak dewasa mereka hanya tersusupi oleh wajah dari baby sisternya daripada wajah ibu kandungnya. Jadi, tak heran apabila ada anak yang lebih dekat dengan baby sister atau pembantu daripada ibunya sendiri. Itulah system kapitalis yang tolok-ukurnya adalah materi, uang adalah segalanya dan materi adalah tujuan hidupnya.

Akibatnya, peran seorang ibu yang seharusnya menjadi ummu warobbatul bait ( Ibu pengatur rumah tangga dan orang pertama yang mendidik anak-anaknya), kini berlomba-lomba dalam mencari pekerjaan diluar rumah, daripada menetap di rumah dan mengurusi anak-anak dan suami mereka. Mereka merasa cukup  dengan menjadi wanita karir dan ibu yang baik, ketika dapat memenuhi semua kebutuhan anak-anaknnya dengan materi. Padahal peran seorang ibu yang sesungguhnya bukan hanya sekedar menyediakan materi bagi anak, melainkan mendidik, menjaga, dan mengayominya sebagaimana fitrahnya seorang ibu.

Jika kita menelaah problematika yang terjadi di tengah-tengah umat saat ini, memang sudah menjadi hal yang lumrah yang tidak bisa dipungkiri. Bahwasannya, adanya berbagai problems dalam masyarakat, diantaranya kesetaraan gender yang kian masif saat ini adalah buah hasil dari system kapitalisme. Ini menunjukkan bahwa, kesetaraan gender adalah sebuah gerakan yang mengekspor nilai-nilai barat dalam memberdayakan perempuan yang berfokus pada kebebasan. Gerakan fanatisme barat juga secara finansial mendorong kaum perempuan untuk tidak bergantung kepada suami dan tidak perlu ada kewajiban taat pada suami. Jika perempuan telah berperan dalam finansial keluarga maka perannya sebagai ummu warobbatul bait justru diabaikan.

Pasalnya, anak-anak yang tadinya terlahir sebagai anak yang sami’na wa’atona, menjadi anak yang pembakang dan bahkan durhaka terhadap kedua orang tua, karena kurangnya asupan cinta dan kasih-sayang dari seorang ibu. Peran perempuan yang seharusnya menjadi penopang utama dalam mengasuh dan menjaga kehormatan suami justru di provokasikan untuk meninggalkan rumah dan berkiprah keranah publik, sehingga muncullah yang namanya broken home.

Adanya kesetaraan gender membawa gelombang kepiluan dalam tatanan keluarga dan masyarakat. Keluarga yang awalnya berjalan harmonis dengan pembedaan dan posisi yang jelas kini menjadi goyah karena seruan ketidakadilan dari segala sisi. Dengan menyodorkan pemikiran-pemikiran kotor dan  mengeluarkan statement bahwa kedudukan perempuan sama persis dengan laki-laki, sehingga dituangkanlah asumsi bahwa rumah tangga adalah penjara bagi kaum perempuan dan peran sebagai seorang ibu adalah sebuah perbudakan. Akibatnya hanya sebagian perempuan yang tulus melakoni peran sebagai ibu dan menaati perintah  sang suami.

Buramlah sudah kacamata penguasa,  jika system ini masih tetap diterapkan. Karena sejatinya kesetaraan gender hanyalah perjuangan semu, yang tidak  mampu memberikan solusi apapun terhadap perempuan, yang ada hanyalah kubangan persoalan dan meningkatnya tingkat kesengsaraan terhadap institusi keluarga. Inilah system Kapitalism-Sekularisme yang penerapan aturannya memisahkan agama dari kehidupan. Dan menjunjung tinggi nilai-nilai kebebasan dan mengukur segala sesuatu dengan ukuran materi belaka. Ironisnya lahirlah penerus bangsa dan negara  yang tidak memiliki pondasi keimanan.

Perkara ini tentulah sangat berbeda dengan system Islam. Islam bukan hanya sekedar agama tetapi juga ideologi yang mampu mengikat dan mengayomi umatnya dari segala penjuru. System Islam sebagai solusi tuntas problematika perempuan. Yaitu dengan memperjuangkan penerapan syariat Islam secara kaffah dengan menopang tegaknya Khilafah Ala Minhaj’Nubuwah, maka Khilafah-lah yang akan menjamin hak-hak perempuan, dan meninggikan harkat dan martabatnya dalam masyarakat dan menjamin kesejahteraan-keselamatan dari keterpurukan.

Wallahu Alam..

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar