Recent Posts

Ritel Gulung Tikar, Siapa Bertanggung Jawab?

Kamis, 10 Juni 2021



Oleh: Fina Fadilah Siregar

  Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Nicholas Mandey menyebut beberapa hal yang menyebabkan gerai ritel modern tutup di masa pandemi covid-19, salah satunya disebabkan tingkat konsumsi di daerah tersebut rendah. "Aprindo menyatakan prihatin dan berduka terhadap anggota Aprindo (Hero Supermarket) yang harus menutup gerai Giant-nya, karena kondisi terdampak pandemi covid-19 juga penyebab mobilitas berkurang, seperti adanya PSBB dan PPKM dan rendahnya daya beli,” kata Roy kepada Liputan6.com, Selasa (25/5/2021).

  Menurutnya, selain adanya pembatasan aktivitas, penutupan gerai ritel modern juga disebabkan tergerusnya konsumsi masyarakat di wilayah gerai itu tutup. Karena konsumen yang biasa berbelanja akhirnya menunda belanja. “Ataupun konsumen mengalihkan belanja yang sifatnya mungkin pembeliannya tidak sebanyak hypermarket itu buka. Karena hypermarket itu suatu ritel modern yang sangat lengkap,” ujarnya.

  Mandey mengatakan dampak dari penutupan gerai ritel modern adalah  meningkatnya potensi kehilangan daya beli di wilayah tersebut dari pekerja yang di PHK. Otomatis orang yang terkena PHK akan kehilangan daya belinya, sehingga mereka akan mencari pekerjaan baru dan setelah itu mereka akan menekan belanja

Dampak lain atas tutupnya gerai ritel modern juga bisa menghilangkan pendapatan negara sebab pengurangan gerai. Selain itu, retribusi pendapatan daerah juga akan hilang. Lantaran yang namanya pajak reklame itu sudah tidak mungkin ada lagi, pajak air dan tanah, dan lain sebagainya karena tutup,” Kata Roy kepada Liputan6.com, Selasa (25/5/2021).

  Terkahir adalah peritel akan kehilangan investasinya, artinya belum sempat ditolong mau tidak mau maka menimbulkan kerugian bagi korporasi. Kerugian  korporasi itu bisa berdampak kepada menghilangkan investasi, padahal investasi sedang dibutuhkan,” ujarnya.

  Kini, dampak pandemi pada sektor ritel semakin nyata. Mulai dari perusahaan ritel modern yang gulung tikar, gelombang PHK massal dan dampak lain yang ikut menyertai, diantaranya menghilangkan pendapatan negara yang disebabkan karena hilangnya retribusi daerah serta para peritel yang juga kehilangan investasinya.

  Hal tersebut adalah bukti nyata collapsnya ekonomi kapitalis dalam menghadapi pandemi. Tak ada yang mampu bertahan, termasuk perusahaan ritel modern yang besar sekalipun, sehingga para peritel dan karyawan bahkan negara harus menelan pil pahit akibat perusahaan ritel yang gulung tikar.

Lantas, siapakah yang bertanggung jawab atas gulung tikarnya perusahaan ritel modern ini? Tentulah tak lain dan tak bukan adalah negara. Selama negara ini masih menggunakan sistem ekonomi kapitalis, maka mustahil akan terjadinya kestabilan ekonomi, apalagi ditengah masa pandemi seperti saat ini. Bagaimana perusahaan ritel bisa bertahan bila daya beli masyarakat menurun? Maka tak heran bila perusahaan ritel besar sekalipun akan collaps.

  Satu-satunya solusi atas masalah ini adalah penerapan sistem ekonomi Islam karena Khalifah (pemimpin) dalam sistem pemerintahan Islam benar-benar menjadi periayah bagi umat dalam segala bidang, termasuk sistem ekonomi. Sistem ekonomi Islam menjamin kesejahteraan dan keadilan bagi seluruh masyarakat dan pelaku usaha meski dalam kondisi sulit sekalipun, termasuk dalam situasi adanya pandemi. Masyarakat senantiasa dalam keadaan yang terpenuhi segala kebutuhannya dan para pelaku usaha diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk mengelola usahanya, tentunya dengan cara-cara yang dibenarkan dalam Islam sehingga berbagai bidang usaha perekonomiannya akan tetap stabil. yang tentunya berbeda dengan kebijakan yang diterapkan pada sistem ekonomi kapitalis yang hanya mementingkan  kepentingan sekelompok pihak tertentu, sehingga banyak perusahaan yang gulung tikar.

  Jadi hanya  dengan sistem Islamlah semua permasalahan dapat teratasi, yakni dalam satu negara yang benar-benar menerapkan Islam secara kaffah. Negara itu adalah Daulah Khilafah Islamiyah. Wallahu a'lam bish showab.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar